
🍁 Happy Reading 🍁
Jam makan siang pun tiba.
Dave masih setia berada di kafe itu menemani Dhea bekerja, atau lebih tepatnya mengintimidasi teman laki-laki Dhea yang ada di tim itu.
"Ayo, sudah waktunya makan siang." ajak Rere.
"Ayo." jawab semua orang yang ada disitu sambil mengangkat bokong mereka kecuali Dhea.
"Ayo Dhea." ajak Rere karena melihat Dhea tidak mengangkat bokongnya.
Dhea melirik Dave dan ternyata Dave juga sedang melihat Dhea.
Melihat Dhea melirik padanya dengan raut wajah tegang, Dave jadi menaruh curiga pada Dhea.
Untuk apa dia melirik ku seperti itu? Apa dia tidak ingin aku ikut? Agar dia bisa berduaan dengan salah satu dari mereka?
Gumam Dave dalam hati sambil melirik laki-laki yang ada disitu.
"Memangnya kalian mau makan dimana?" tanya Dave.
"Direstoran Hot Grill, Tuan." jawab Rere.
"Ya sudah, ayo kalau begitu." jawab Dave sambil mengangkat bokongnya dari kursi.
Aduuuh.. bagaimana ini!!!
Keluh Dhea dalam hati.
Ia tidak sanggup membayangkan jika Dave ikut bersama mereka, yang pasti hanya buat malu Dhea.
"Ayo Dhe!!" ajak Helen karena Dhea tak kunjung berdiri dari duduknya.
Mau tak mau Dhea pun berdiri dari tempat duduknya.
"Jeff, ayo." ajak Yura karena melihat Jeff malah berjalan menuju meja bar.
"Kalian saja, aku tidak ikut." tolak Jeff.
Mendengar Jeff menolak makan siang bersama, Dave pun jadi mencurigai Jeff,
__ADS_1
Apa dia laki-laki nya? Karena aku ikut makan siang, makanya dia jadi tidak mau ikut karena tidak akan bisa mendekati Dhea?
Kembali Dave menerka-nerka dalam hatinya.
"Hish mana bisa begitu!" Yura pun berjalan mendekati Jeff.
"Ayo." Yura pun langsung menarik tangan Jeff.
"Tunggu, tunggu. AKu kunci dulu semua pintunya." ucap Jeff saat Yura menarik tangannya.
"Kita bertemu disana saja." ucap Dave pada teman-teman Dhea setelah mereka berada di parkiran.
"Baik, Tuan." jawab Rere mewakili teman-teman yang lain.
Dhea dan Dave masuk ke dalam mobil.
"Paman kita ke restoran Hot Grill." perintah Dave pada Paman Axel.
"Baik Tuan." jawab Paman Axel.
"Tuan setelah makan siang, Anda harus kembali ke kantor karena ada jadwal meeting dengan Tuan Zack Lee." ucap Alfred mengingatkan.
Dave hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya.
Dave melihat Dhea dengan tatapan mengintimidasi.
"Kenapa Anda melihat ku seperti itu Tuan?" Tanya Dhea yang merasa dengan tatapan mengintimidasi Dave.
"Berani sekali kamu bicara sembarangan tadi?" Jawab Dave.
"Loh memangnya salah? Tidak kan? Kita kan suami-istri. Kecuali kita masih berpacaran baru salah kalau aku bicara seperti itu." Balas Dhea.
"Tapi apa yang kamu katakan kan tidak benar!" Geram Dave.
"Menyentuh mu saja belum, sudah kamu bilang mengizinkan ku tiga ronde!" Gerutu Dave sambil memalingkan wajahnya dari Dhea dan menatap ke arah jalanan.
"Namanya juga pura-pura Tuan. Lagi pula, teman-teman ku memujj Anda, kalau Anda itu sangat perkasa." Balas Dhea.
"Cih.." decih Dave.
Untuk beberapa saat suasana di dalam mobil pun kembali seperti kuburan karena Dave dan Dhea sama-sama diam. Mereka sama-sama sedang bergumul dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Dhea memikirkan bagaimana caranya mengatakan pada Dave untuk membayarkan tagihan makan siang dan Dave masih saja memikirkan tentang laki-laki yang tadi suaranya dia dengar di telepon.
"Untuk apa tadi kamu menghubungi Alfred?" tanya Dave memecah keheningan tanpa melihat ke arah Dhea.
"Ummm... itu... anu.." Dhea ragu untuk mengatakannya.
"Itu, anu, itu, anu!! Yang jelas kalau bicara."
"Tadi saya menghubungi Tuan-" Dhea menghentikan kata-katanya mendadak karena Dave tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Berapa kali sudah ku bilang, hanya aku yang boleh kamu panggil Tuan." Ucap Dave penuh penekanan.
"Maaf Tuan." Jawab Dhea.
"Lanjutkan." Perintah Dave untuk Dhea melanjutkan kata-katanya.
"Tadi saya menghubungi Alfred, sebenarnya karena saya ingin meminjam uang pada Alfred." Jawab Dhea.
"Untuk apa kamu meminjam uang pada asisten ku? Apa kamu tidak tahu kalau uang ku ini banyak!" Protes Dave. Ia merasa Dhea telah menjatuhkan harga dirinya sebagai suami dan CEO .
"Maaf Tuan. Tadinya saya ingin meminjam pada Anda, tapi.."
"Tapi apa?"
"Tapi saya takut kalau saya pinjam uang pada Anda, Anda memberi bunga seratus persen." Jawab Dhea.
"Kau pikir aku rentenir, hah!" Protes Dave.
"Untuk apa kamu meminjam uang pada Alfred?" Tanya Dave.
"Um.. jadi Tuan, teman-teman ku ingin aku mentraktir mereka makan siang ini. Karena sewaktu kita menikah, mereka kan tidak kita undang. Jadi sebagai gantinya, mereka minta saya mentraktir mereka makan siang. Tapi saya kan tidak punya uang Tuan, makanya saya menghubungi Alfred untuk meminjam uangnya." Jawab Dhea.
"Jadi makan siang ini kamu yang traktir?" Tanya Dave dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Dhea.
Dave tersenyum licik.
Ini saatnya pamer kekayaan pada laki-laki yang ingin mendekati Dhea.
Gumam Dave dalam hati.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung...