
🍁 Happy Reading 🍁
Mansion.
Jam sudah menunjukkan jam makan malam. Paman Felix pun sudah memanggil Dave dan Dhea di kamar mereka masing-masing, tapi sudah setengah jam berlalu pasangan suami istri itu tak kunjung turun ke ruang makan.
"Kenapa mereka tidak turun-turun? Apa mereka sedang bertengkar? atau sedang..." pikiran Paman Felix, Dave dan Dhea sedang melakukan ritual suami istri mereka.
"Gak lah, gak mungkin. Tadi waktu aku panggil Tuan Dave di kamarnya, Tuan Dave ada kok di kamarnya. Begitupun dengan Nona Dhea. Nona Dhea ada juga kok di kamarnya." Gumam Paman Felix lagi.
"Apa mereka sudah makan malam di luar? Kalau iya, kenapa Tuan Dave tidak memberitahu." Paman Felix masih asyik dengan pemikirannya.
Saat Paman Felix sedang asyik dengan pemikirannya, tiba-tiba Dave masuk ke ruang makan.
"Dimana perempuan itu?" tanya Dave karena tidak melihat Dhea di ruang makan.
"Nona Dhea belum turun, Tuan." jawab Paman Felix.
Dave menghela nafasnya kasar, kalau Dhea belum turun, itu berarti Dhea belum makan. Kalau Dhea belum makan berarti sebentar lagi Dhea akan turun.
Padahal Dave sengaja berlama-lama turun untuk menghindar bertemu dengan Dhea di ruang makan. Gara-gara ciuman di parkiran restoran tadi, Dave jadi malu untuk bertemu Dhea.
Mendengar helaan nafas Dave yangh kasar, Paman Felix mengira kalau saat ini Dave sedang marah.
"Saya akan memanggil Nona Dhea, Tuan." ucap Paman Felix.
"Tidak perlu. Antarkan saja makan malamnya ke kamarnya!" balas Dave dengan begitu Dhea tidak akan turun ke ruang makan dan dirinya tidak perlu bertemu dengan Dhea.
"Apa Nona Dhea sedang sakit, Tuan?" tanya Paman Felix.
"Tidak. Mungkin dia lelah, makanya tidak turun-turun. Jadi dari pada dia kelaparan lebih baik antarkan saja makanan ke kamarnya." ucap Dave seolah-olah dirinya adalah suami yang perhatian. Padahal Dave melakukan itu demi keuntungannya sendiri.
"Baik Tuan." jawab Paman Felix.
__ADS_1
Setelah melayani Dave, Paman Felix pun berjalan menuju dapur untuk menyuruh pelayan mengantarkan makanan ke kamar Dhea.
Kamar Dhea.
Sedangkan di kamar Dhea yang bernuansa frozen itu, Dhea sedang ketar-ketir karena masa datang bulannya sudah lewat.
"Mampus aku, bagaimana ini! Kenapa cepat sekali selesainya? biasanya enam hari, kenapa ini cuma empat hari?!!" gerutu Dhea.
"Bagaimana kalau Tuan Dave tau kalau aku sudah selesai datang bulan? Habis lah ku!" gumam Dhea lagi.
"Tenang Dhea, tenang!! Kalau kamu tidak bilang, Tuan Dave tidak akan tahu. Kamu kan sudah bilang kalau kemungkinan selesai datang bulan antara tiga atau empat hari lagi, jadi masih ada satu sampai dua hari lagi. Jadi biarkan saja seperti ini, gunakan sisa waktu itu untuk mempersiapkan diri mu." gumam Dhea dalam hati.
Setelah menenangkan dirinya, Dhea pun berniat untuk keluar dari dalam kamarnya, tapi baru sampai depan pintu, ia teringat lagi akan ciumannya dengan Dave di parkiran. Dhea pun batal keluar kamar.
Dia pun memutuskan untuk menunggu Dave sampai pergi dari ruang makan. Dhea terus melihat jam digital yang ada di layar ponselnya.
Tok..
Tok..
Tok..
"Mati aku!! Pasti itu Paman Felix. Kalau tidak Tuan Dave. Aku harus beralasan apa?!!" gumam Dhea.
Tok..
Tok..
Tok..
"Nona Dhea, saya mengantarkan makan malam Anda Nona." ucap pelayan yang membawa makan malam untuk Dhea.
Mendengar suara yang ad di depan pintu bikan lah suara Paman Felix ataupun si songong Dave, Dhea pun cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Ceklek. Dhea membuka pintu.
"Nona, ini makan malam Anda." pelayan sambil menyodorkan nampan yang berisi makan malam untuk Dhea itu.
Pelayan itu tidak bisa masuk ke dalam, karena sudah tertulis di dean pintu, hanya Dave dan staff Dhea. Entah siapa staff Dhea itu, hanya Dave yang bisa menentukannya.
"Siapa yang menyuruh mengantar makanan ini?" tanya Dhea seraya mengambil nampan yang di sodorkan pelayan.
"Tuan Dave, Nona." jawab pelayan itu.
"Apa dia masih ada di ruang makan?" tanya Dhea.
"Iya Nona, Tuan Dave masih di ruang makan sekarang.
"Apa dia marah makanya dia menyuruh mu untuk mengantarkan makanan ini?" tanya Dhea lagi.
Pelayan menggeleng.
"Tidak Nona, malah Tuan Dave bilang, mungkin saja Nona sangat lelah karena ini hari pertama Nona bekerja, makanya Nona malas turun. Jadi Tuan menyuruh untuk mengantarkan makan malam ke kamar Anda." jawab pelayan.
"Oh..." Dhea membulatkan mulutnya..
"Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya." pamit pelayan itu.
"Terimakasih, maaf sudah merepotkan mu." ucap Dhea pada pelayan itu.
"TIdak merepotkan Nona, karen itu sudah tugas saya." jawab pelayan.
Pelayan pun pergi dari depan kamar Dhea, begitu pelayan pergi, Dhea pun menutup pintunya.
"Aneh, kenapa dia tiba-tiba jadi baik?! Atau sebenarnya dia memang orang baik yang pura-pura arogan untuk menutupi suatu kelemahannya?" Gumam Dhea.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung...