Pernikahan Kontrak CEO Arogan

Pernikahan Kontrak CEO Arogan
Bab 47


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


"Tuan Dave...." rengek Dhea.


"Apalagi? Kamu bilang ingin makan protein!" tanya Dave.


"Tapi bukan protein yang itu Tuan Dave, maksud saya protein hewani bukan protein nabati." jawab Dhea.


Dave menegakkan punggungnya lalu memajukan wajahnya mendekati wajah Dhea.


"Kamu lupa point pertama surat kontrak kita?" tanya Dave berbisik.


"Apa kamu mau aku keluarkan lagi surat kontrak pernikahan kita agar kamu ingat?" tanya Dave lagi kemudian menjauhkan wajahnya dari wajah Dhea.


Dhea tidak menjawab, ia mencoba mengingat-ingat point surat kontrak pernikahannya dengan Dave.


Tak lama mata Dhea membulat kala dirinya sudah mengingat point pertama surat kontrak itu.


Jadi ini yang dimaksud point pertama itu? Aku harus memakan semua makanan yang sudah diatur Tuan Arogan ini?!


Oh.. my God!! Hilang sudah lemak dalam tubuh ku kalau satu minggu saja aku makan makanan seperti ini!!


Gerutu Dhea dalam hati.


"Tapi tenang saja, aku akan memberikan mu keringanan, kamu hanya boleh makan daging seminggu sekali. Dan ingat!! Kamu dilarang keras memakan makanan cepat saji!! Awas saja kalau aku tau kamu makan makanan cepat saji." Ucap Dave.


Apa dia bilang? Keringanan!! Memberikan ku makan daging seminggu sekali dia sebut itu keringanan!! Memang dasarnya Anda pelit saja!! Sok-sok bilang program bayi laki-laki.


Gerutu Dhea dalam hatinya.


"Sudah cepat makan!! Lagipula bukannya tadi siang kamu sudah puas makan makanan enak!! Jadi jangan banyak mengeluh!!" ucap Dave tegas.


Mau tak mau Dhea pun memakan sayur-sayuran yang sudah di sajikan Paman Felix ke dalam piringnya.


Lihat saja besok, aku akan makan enak sepuasnya! Untung saja besok aku sudah mulai bekerja, jadi setidaknya saat makan siang aku bisa merasakan makan makanan enak.

__ADS_1


Gerutu Dhea dalam hati.


🍁🍁🍁


Keesokan paginya.


Pukul 07.00


Dhea keluar dari kamarnya. Ia sudah berpakaian rapih.


"Mau kemana kau?!" tanya Dave yang baru keluar dari dalam lift, ia baru dari lantai tiga dimana ruang gym-nya berada.


Spontan Dhea pun memutar tubuh-nya untuk melihat ke arah Dave.


Mata Dhea membulat lebar kala melihat penampakan Dave yang baru selesai berolahraga. Dave tidak memakai bajunya hingga memperlihatkan otot lengan, dada dan perut yang kekar ditambah lagi keringat yang mengucur dari rambut lalu mengalir di otot-otot kekar itu menambah kesan seksi dimata Dhea. Hilang sudah kearoganan Dave jika melihat Dave seperti ini.


"Hey!! Kamu tuli!! Kamu mau kemana?" Tanya Dave sekali lagi karena Dhea yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Dan kata-kata Dave yang menyebutnya tuli berhasil menyadarkan Dhea dari lamunannya.


"Saya ingin berangkat kerja, Tuan." jawab Dhea.


"Ka-"


"Eits.. Tuan tidak boleh marah, Tuan lupa kalau kita sudah sepakat, selama sebulan saya di bolehkan bekerja." cepat-cepat Dhea memotong kata-kata Dave yang Dhea yakini ingin protes.


Dave yang ingin marah pun menahan marahnya. Ia hanya bisa menghela nafasnya kasar.


"Tapi kenapa kamu tidak bilang tadi malam?!" kesal Dave.


"Maaf Tuan, saya lupa." jawab Dhea sambil menyengir kuda.


"Hish!! Kamu ini!!" geram Dave.


"Kalau begitu pergilah bersama Paman Axel. Dia yang akan mengantar-jemput mu." ucap Dave.

__ADS_1


"Lalu Anda bagaimana?" tanya Dhea.


"Kamu pikir mobil ku hanya satu! Coba kamu lihat ke garasi, banyak mobil ku berjejer disana!" jawab Dave dengan sombongnya.


Dhea menaikkan sudut bibirnya geram mendengar jawaban sombong Dave.


"Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu.' pamit Dhea lalu berjalan mendekati Dave.


Sesampainya di dekat Dave, Dhea menjulurkan tangannya ke hadapan Dave.


"Mau apa kamu? Minta uang jajan?" tanya Dave bingung apa maksud Dhea mengulurkan tangannya.


"Memangnya kalau orang menjulurkan tangan hanya ingin meminta uang?!" jawab Dhea geram.


"Saya menjulurkan tangan saya untuk berpamitan dengan Anda." kata Dhea lagi.


"Tadi kan kamu sudah berpamitan, ya sudah sana pergi!" balas Dave.


"Huft!!!" Dhea menghela nafasnya kasar.


"Sudah sini, berikan tangan Anda agar saya tunjukkan berpamitan yang baik dan benar bagaimana! Apalagi Anda adalah suami saya." Ucap Dhea.


"Tidak mau! Kalau kamu mau pergi yah pergi saja!! Berpamitan dengan kata-kata itu sudah cukup!!" balas Dave.


Haish!!


Geram Dhea dalam hati.


Tak ingin memperpanjang perdebatan, Dhea pun langsung menarik tangan Dave dan mencium punggung tangan Dave.


Meski pernikahan mereka hanya kontrak, tapi status mereka tetaplah suami istri yang sah. Bagi Dhea, selagi statusnya adalah istri Dave ia akan menghargai dan menghormati Dave sebagai suaminya.


🍁🍁🍁


Bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa FAV dan dukung novel terbaru Miss ini dengan memberikan LIKE, HADIAH dan VOTE....


...🙏🙏🙏...


__ADS_2