
🍁 Happy Reading 🍁
Keesokan Paginya.
Pukul 08.00
Ting Tong Ting Tong
Door Door Door Door
Dhea membunyikan bel sambil bergantian menggedor pintu unit kamar Dave dengan emosi.
Bagaimana tidak emosi, sudah hampir lima belas menit Dhea menggedor tapi Dave tak kunjung membuka pintu unit kamarnya.
Ting Tong Ting Tong
Door Door Door Door
"Tuan bangun!!!"
"Tuan Dave bangun!!!"
Kini bukan lagi menekan bel dan menggedor pintu tapi Dhea juga berteriak. Tapi Dave tak juga membuka pintunya.
Kemaren, mau tidak mau Alfred membuka kamar 204 untuk Dhea. Rencana ALfred, Paman Harold dan dokter Bryan gagal total, karena lahan untuk menanamkan bibit sedang mengalami banjir bandang.
"Tuan arogan buka pintunya!!! Dave sinting bangun!!!" teriak Dhea sekali lagi. Sangking kesalnya umpatan sampai keluar dari mulutnya.
Tapi siapa sangka kalau begitu Dhea mengumpat, pintu terbuka.
Ceklek.
Spontan Dhea menahan nafasnya.
Mati aku!! Apa dia mendengar aku mengumpatnya?
Pekik Dhea dalam hati.
"Kenapa kamu ribut sekali!!! Seperti istri yang telat dikasih uang bulanan saja!!!" tanya Dave dingin.
Mendengar pertanyaan Dave barulah Dhea menghela nafasnya lega.
Huuuft... aman!! Dia tidak mendengar ternyata.
__ADS_1
Lega Dhea dalam hati.
"Apa Tuan lupa kalau hari ini kita harus mengunjungi rumah orangtua ku?" Dhea balik bertanya.
"Kamu pergilah sendiri! Aku masih mengantuk!" jawab Dave.
Maklum saja, Dave belum merasakan tidur nyenyaknya, karena sepanjang malam setiap satu jam, timun libanon-nya selalu bangun. Dan setiap kali bangun, butuh waktu untuk Dave setengah jam menidurkannya lagi.
"Mana bisa begitu Tuan! Kan Anda yang berjanji!!"
"Kapan aku berjanji? Kamu yang berjanji, bukan aku!! Aku hanya mengiyakannya saja!!" jawab Dave.
"Masa aku pergi sendiri, Tuan?? Apa kata orangtua ku nanti, belum lagi omongan tetangga!!" rengek Dhea.
"Kenapa masih memikirkan omongan tetangga? Beli saja mulut tetanggamu itu!! Beres kan?!" jawab Dave dengan gampangnya.
Enteng sekali dia bicara!!
Gerutu Dhea dalam hati.
"Sudah sana pergi!! Aku mengantuk!!" Usir Dave lalu hendak menutup pintunya.
"Dan satu lagi, kali ini ku maafkan kamu mengatai ku sinting dan arogan!! Tapi kalau ku dengar sekali lagi kamu berkata seperti itu, habis kau!!" BRAAAK. Setelah mengatakan itu Dave langsung menutup pintu kamar dengan kasar.
Ternyata dia mendengarnya!! Untung saja dia sedang tidak bertenaga!! Kalau bertenaga, habis lah aku!!
Gumam Dhea dalam hati.
Dhea pun pergi dari depan pintu kamar Dave, ia ingin memenuhi janjinya pada orangtuanya untuk mengunjungi mereka hari ini. Meskipun tanpa Dave.
Di dalam kamar, Dave langsung menghubungi Alfred.
Tuuut Tuuut Tuuut..
Sampai tiga kali Dave menghubungi Alfred baru Alfred menjawab panggilan Dave.
"Halo Tuan." jawab Alfred dengan suara yang serak khas orang bangun tidur.
"Oh.. bagus yah, kamu bisa tidur dengan nyenyak, sedangkan aku kamu buat bermain sabun satu malaman!!" Sindir Dave.
Diseberang telepon sana Alfred sedang komat-kamit mengikuti kata-kata Dave yang sedang mengomel.
"Bangun kau sekarang!! Cepat suruh chef hotel memasak makanan mewah untuk orangtua dan tetangga Dhea!!" perintah Dave.
__ADS_1
"Astaga Tuan, ini hari Minggu-"
"Diam kau!! Tidak ada penolakan!! Cepat urus atau ku pindahkan kau ke bagian laundry hotel!!" Potong Dave.
Tanpa mendengar jawaban Alfred, Dave langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
Lalu meletakkan ponselnya diatas nakas, kemudian membuka celana tidurnya untuk melihat kondisi timun libanon-nya yang sudah kelihatan lebih glowing..
"Aku mohon, jangan bangun lagi, oke! Aku ingin tidur dengan nyenyak." Ucap Dave pada timun libanon-nya. Kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang, lalu kembali melanjutkan tidurnya.
🍁🍁🍁
Rumah Orangtua Dhea.
Pukul 12.00
Mata Dhea membulat saat pelayan hotel berdatangan ke gang rumah Dhea.
Mereka menaruh meja di sepanjang jalan sempit itu lalu meletakkan banyak sekali makanan, minuman dan beberapa jenis pencuci mulut di meja itu.
Saat Dhea sedang tercengang melihat para pelayan sedang sibuk menyusun makanan diatas meja, tiba-tiba ponsel Dhea berdering, panggilan telepon dari Alfred.
"Ada apa ini Tuan? Kenapa banyak sekali pelayan hotel berdatangan kesini dan membawa banyak makanan? Apa ini kerjaan bos Anda?" Tanya Dhea.
Alfred menghela nafasnya kasar dan suara helaan nafas yang kasar itu sampai terdengar ke telinga Dhea.
"Anda benar sekali, Nona. Maaf kalau Tuan Dave membuat Anda kaget. Dan sepertinya Anda harus terbiasa dengan hal-hal mengangetkan seperti ini sekarang." jawab Alfred.
"Selamat menikmati makanan yang dimasak oleh chef terbaik hotel kami bersama orangtua dan tetangga Anda." Kata Alfred lagi lalu menutup teleponnya.
Mulut Dhea menganga lebar mendengar kata-kata Alfred.
Apa??? Bersama para tetangga?? Apa ini yang dia maksud dengan membeli mulut tetangga.
Gumam Dhea dalam hati.
🍁🍁🍁
Bersambung...
...Jangan lupa FAV dan dukung novel terbaru Miss ini dengan memberikan LIKE, HADIAH dan VOTE....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1