
🍁 Happy Reading 🍁
Setelah membaca peringatan yang ada di kotak, Dave pun mengalihkan pandangannya lagi ke botol obat lalu membaca tulisan yang ada di botol.
OBAT AKAN BEREAKSI SEPULUH SAMPAI LIMA BELAS MENIT SETELAH ANDA MEMINUM OBAT INI.
OBAT INI TAHAN HINGGA DUA BELAS JAM.
Mata Dave makin membulat membaca-nya.
"Apa??? Tahan hingga dua belas jam? Apa produsen obat ini mau menjadikan ku seperti obat nyamuk bakar yang tahan dua belas jam?! Mati aku kalau itu sampai terjadi!" Gerutu Dave.
Dave pun melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, belum sampai sepuluh menit dari waktu dirinya meminum obat itu.
Dave pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Aku harus segera mengeluarkan obat ini dari dalam tubuh ku sebelum obat itu bereaksi." Gumam Dave seraya berjalan.
Sesampainya di dalam kamar mandi Dave langsung memasukkan dua jarinya ke dalam mulut dan memasukkan sampai ke pangkal lidah, tujuannya agar ia muntah.
Muntah tidak, hanya mual yang ia rasa.
Tapi Dave terus berusaha, berbagai macam cara Dave lakukan, bahkan dia juga menekan-nekan ulu hati-nya agar obat itu keluar. Tapi sayangnya sampai tubuh-nya keringat dingin karena obat yang mulai bereaksi, obat itu tak kunjung keluar dari dalam tubuh-nya.
Sedangkan di ruang tamu, Dhea yang sudah bosan memakai gaun pengantin dan tubuh-nya juga sudah sangat lelah, memutuskan untuk masuk ke kamar Dave. Ia ingin menanyakan pada Dave tentang pintu kamar 204 apakah sudah bisa di buka atau belum.
__ADS_1
Namun saat Dhea masuk ke ruang tidur itu, Dhea tidak mendapati Dave di ruang tidurnya dan mendengar suara orang merintih di kamar mandi. Dan Dhea yakin kalau itu adalah suara Dave. Karena di kamar itu hanya ada mereka berdua.
"Tuan.. Tuan Dave.." panggil Dhea seraya berjalan mendekati pintu kamar mandi.
Tapi Dave tidak menjawab.
Karena Dave tidak menjawab, sesampainya di depan pintu kamar mandi, Dhea pun langsung membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu karena khawatir takut terjadi apa-apa dengan Dave.
Mata Dhea membulat lebar saat melihat Dave sudah terduduk di lantai dalam bilik mandi dengan air shower yang mengguyur tubuh-nya.
"Tuan Dave.." Teriak Dhea panik.
Dave menoleh ke arah Dhea yang sudah ada di depan pintu bilik mandi.
"Anda kenapa Tuan?" Dhea tidak menghiraukan larangan Dave. Dia masih nekat mendekati Dave.
"Jangan mendekat ku bilang!! Keluar!!!" Bentak Dave karena Dhea yang keras kepala.
Sontak Dhea menghentikan langkah kaki-nya.
"Saya akan keluar, tapi tolong katakan apa yang terjadi Tuan? Apa ada masalah? Katakan pada saya." Ucap Dhea.
"Obat sialan itu yang membuat aku jadi begini!" Jawab Dave geram.
"Obat sialan? Maksud Anda vitamin yang di berikan dokter Bryan?" Tanya Dhea dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Dave.
__ADS_1
"Memangnya obat itu kenapa?"
"Aaargh!! Kenapa kamu berisik sekali!! Jangan banyak bertanya! Baca sendiri keterangan obat itu, nanti kamu juga akan tahu!" Jawab Dave.
"Sekarang cepat kamu keluar sebelum aku berubah menjadi zombie!" Usir Dave lagi.
Mau tak mau Dhea pun keluar dari dalam bilik mandi itu dan keluar dari dalam kamar mandi.
Sesampainya di ruang tidur, Dhea pun langsung mencari kotak obat yang di berikan dokter Bryan, yang katanya adalah vitamin.
Melihat kotak itu teronggok di lantai samping ranjang, Dhea pun mengambil kotak itu dan membaca peringatan yang ada tertulis di kotak.
Sama seperti Dave, mata Dhea langsung membulat lebar.
"Mati aku!! Aku harus segera keluar dari kamar ini." Pekik Dhea.
Dhea pun cepat-cepat keluar dari kamar 203 itu dan berjalan dengan langkah panjang menuju lift. Dia harus segera mencari Alfred untuk membantunya menyelamatkan diri dari serangan zombie.
🍁🍁🍁
Bersambung...
...Jangan lupa FAV dan dukung novel terbaru Miss ini dengan memberikan LIKE, HADIAH dan VOTE....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1