Pernikahan Kontrak CEO Arogan

Pernikahan Kontrak CEO Arogan
Bab 59


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


Cepat-cepat Dave menutup pintu mobil dan jalan terburu-buru memasuki restoran.


Melihat Dave jalan terburu-buru, sontak Paman Axel kebingungan.


"Tuan Dave kenapa Nona?" Tanya Paman Axel pada Dhea.


Dhea melirik Dave yang sudah sampai di depan pintu restoran.


"Ah.. mungkin kebelet buang air besar, Paman." Jawab Dhea.


"Oh." Paman Axel hanya membulatkan mulutnya.


"Apa kita sudah bisa pergi Nona?" Tanya Paman Axel.


Dhea menganggukkan kepalanya.


Melihat Dhea mengangguk, Paman Axel pun menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya keluar dari area parkiran restoran meninggalkan teman-teman Dhea yang sedang sibuk berfoto-foto atau sekedar membuat reels untuk sosial media mereka.


Sepanjang perjalanan Dhea terus mengumpat dirinya sendiri yang malah menutup mata dan membalas ciuman Dave.


Aaargh..!! Bodoh!! Kenapa aku malah menutup mata ku dan membalas ciumannya! Mau taruh dimana muka ku sekarang!!!


Gerutu Dhea dalam hati.


Sama dengan Dhea, di toilet restoran, Dave juga mengumpat dirinya sendiri yang baru mencium Dhea.

__ADS_1


Dasar bibir bodoh!! Apa yang baru kau lakukan! Apa kau tidak bisa menunggu sampai Dhea selesai datang bulan! Kalau begini kan kau membangunkan timun Libanon ku!


Gerutu Dave sambil memukul bibirnya yang dia anggap sebagai pelaku utama bangkitnya sang timun Libanon.


Ya, gara-gara ciuman itu selain rasa canggung, Dave juga merasakan tubuhnya bergairah. Makanya dia cepat-cepat ke toilet restoran untuk menidurkan timun Libanon-nya.


Apalagi sisa obat kuat masih ada dalam darah Dave, jadi membuat tubuh Dave gampang bergairah.


Sambil menonton film panas yang ada di ponselnya, Dave pun menidurkan timun Libanon.


Sedangkan dari dalam restoran, Alfred terus menatap ke arah luar dimana teman-teman Dhea yang baru selesai membuat reels sedang bersiap untuk pergi dari area parkiran restoran.


"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu." Gumam Alfred sambil menatap tajam ke arah Keysia yang sedang memakai jaketnya.


"Tapi dimana?" Gumamnya lagi. Alfred terus mengingat-ingat dimana dirinya pernah melihat Keysia tapi sayangnya ia tak bisa mengingat dimana dirinya mengingat Keysia.


Alfred pun menoleh ke arah lorong toilet.


"Ngomong-ngomong Tuan Dave mana? Kok lama sekali?!" Gumam Alfred.


Takut terjadi apa-apa pada Dave, Alfred pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju toilet.


Sesampainya di depan toilet pria, Alfred mendengar suara di orang yang sedang mendes ah.


Seperti suara Tuan Dave.


Gumam Alfred dalam hati.

__ADS_1


Alfred pun masuk mengendap-endap ke dalam toilet dan berjalan mendekati bilik dimana sumber suara berada.


Sesampainya di depan pintu, Alfred langsung menempelkan telinganya di daun pintu untuk memperjelas pendengarannya.


Ssh.. ah.. ssh.. ah..


Begitulah suara yang terdengar dari dalam.


Ish.. ish.. ish.. tak patut, tak patut!


Gumam Alfred dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Karena Alfred tahu apa yang sekarang Dave lakukan di dalam bilik itu.


Alfred pun keluar dari dalam toilet.


Dan, agar tidak ada karyawan restoran atau pelanggan pria yang masuk ke dalam toilet itu karena waktu booking restoran sudah habis, Alfred pun menutup pintu toilet dan berjaga di depan pintu.


Kurang siaga apalagi Alfred sebagai asisten Dave.


Tuan Dave, Tuan Dave. Ada sudah punya istri kok, masih aja main barbel mini sendirian! Kenapa dia tidak minta bantuan Nona Dhea saja! Kalau tidak bisa dari goa bawah kan bisa dari goa atas.


Gumam Alfred dalam hati.


🍁🍁🍁


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2