
Digo mengikuti Devan dari belakang tanpa sepengetahuan Devan. saat itu Devan tiba-tiba menemui Griya yang sedang berjalan menuju toilet. namun Digo kehilangan jejak dan tidak menemukan keberadaan Devan dan Griya.
"sial, kemana mereka? ini semua gara-gara cewe-cewe tadi" Digo kehilangan jejak Devan karena di cegat para fansnya yang mengerumuni Digo.
"gue mau ngomong sama lo Gi" Devan menarik Griya dan membawa Griya di sebuah gudang.
"lepasin gue kak, kak Devan mau ngomong apa si pakek acara ke gudang segala?" Griya bingung dengan sikap Devan yang tidak seperti biasanya.
"please jawab jujur pertanyaan gue demi mendiang orang tua lo Gi"
Griya merasa bibgung dengan ucapan Devan saat itu. "emang kak Devan mau tanya apa sama gue?"
"apa bener lo hamil? jawab jujur demi mendiang orang tua lo Gi" lagi2 Devan mengingatkan akan orang tua Griya.
"se sebenernya gu gu gue ga hamil kak" Griya sebenarnya ingin menutupi kebohongan soal kehamilannya namun ia tidak bisa karna teringat kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Tiba-tiba Devan memeluk erat Griya "udah gue duga Gi, pasti lo ga hamil"
"lepas kak, kenapa kakak sesening ini si gue ga hamil?"
" karna gue cinta sama lo Gi!"
Griya terdiam mendengar ucapan Devan yang terang-terangan menyatakan perasaannya.
" elo harus lupain gue kak"
"tapi Gi.."
" gue cabut ke kelas dulu kak" Bening meninggalkan Devan sendiri di dalam gudang.
Gavin saat itu masuk ke kelasnya dan di susul Digo. " udah ke perpusnya?" ucap Gavin
"u u udah Vin"
'ting' nitifikasi ponsel Gavin berdering. saat Gavin membuka sebuah pesan ternyata sebuah foto yang ada di ponselnya. Gavin sangat terkejut melihat foto yang baru ia lihat.
" ada apa Vin, kenapa lo kelihatannya ada yang lo pikirin?"
" gue ga papa Dig"
Akhirnya jam sekolahpun usai, Griya segera mencari Gavin dan benar saja Gavin sudah menunggunya di dalam mobil.
Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang membuat Griya ketakutan.
"kak pelanin mobilnya aku takut" namun Gavin tidak memperdulikan ucapan Griya.
"kak kamu kenapa, apa ada masalah?"
Gavin diam seribu bahasa, karna lelah bertanya yang tidak ada jawaban Griya memilih untuk diam.
Sesampai di apartemen Gavin langsung berganti pakaian dan langsung pergi lagi tanpa mengatakan apapun pada Griya.
" ada apa si sama kak Gavin, apa kak Gavin sedang ada masalah?" Karna Griya tidak ingin berfikir macam2-macam, Griya memilih untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
pukul 19:30 Gavin baru pulang dengan sikap yang dingin.
" kak Gavin ada apa, apa ada maslah?" Griya memeluk Gabin dari belakang, namun Gavin melepas pelukannya.
"maaf Gi aku capek, tadi aku habis dari kantor. kamu tau kan aku udah mulai magang di perusahaan Papa" ucap Gavin yang langsung masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Griya masih setia menunggu Gavin hingga Gavin selesai dengan kegiatan mandinya.
Gavin keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan sebatas pinggang.
Griya memakaikan pakaian untuk Gavin, namun Gavin tetap bersikal dingin.
"kak Gavin ayok makan aku udah siapin makanan kesukaan kak Gavin"
"hem"
Gavin dan Griya melakukan kegiatan makannya tanpa sepatah katapun terucap. Gavin selsesai terlebih dulu dan langsung pergi ke kamarnya. sedangkan Griya berberes terlebih dulu yang biasanya Gavin menemaninya tapi tidak kali ini.
******
Pagi hari Griya terbangun dan di sampingnya sudah tidak ada suaminya.
" aneh biasanya kak Gavin selalu cium pipi aku buat bangunin aku, tapi kenapa hari ini kak Gavin ga bangunin aku?"
Griya bangun dan memasak untuk sarapannya dengan Gavin.
saat Griya selesai memasak Gavin datang dari luar dengan memakai pakaian joging.
"kak Gavin habis joging?"
"hemm" Gavin lalu membersihkan badannya dan langsung menyantap sarapannya.
Griya bingung dengan perubahan sikap suaminya, karna hari ini hari minggu Griya memilih pergi ke tokonya.
" mau kemana Gi?" ucap Gavin
" aku mau ke toko kak " Griya mencium tangan suaminya dan langsung pergi
Griya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang setelah 45 menit Griya sampai di salah satu tokonya.
"pagi mba Griya.. mba Griya kok mau datang ga bilang?"
" iya ga papa Lin aku emang mau kesini tapi cuman bentar. oh iya gimana omset bulan ini?"
" omset bulan ini naik 35% mba" ucap Lina
" bagus, tingkatin lagi kerjanya ya Lin"
"jadi lo yang punya toko ini Gi" tiba-tiba seseorang mengagetkan Griya
"kak Devan? eh iya kak"
" pantesan lo bisa keluar masuk tanpa takut di omelin sama pemilik tokonya, ternyata lo pemilik Griya cake"
Devan dan Griya duduk di slah satu bangku pengunjung, mereka berbincang layaknya sahabat.
"jadi ini kerjaan istri aku yang diam-diam ketemu sama pria lain di belakang aku?"
" kak Gavin, apa maksud kak Gavin?"
Gavin menarik Griya dan langsung membawa Griya pulang, sedangkan Devan bingung melihat Gavin yang tiba2 membawa pergi Griya.
"ada apa si kak, kenapa kakak kaya gini?" Gavin tidak melepaskan pegangannya yang semakin erat.
"lepasin kak, kakak nyakitin aku" Griya menitikkan airmata bukan karna rasa sakit di tangannya, namun Griya menangis karna perubahan Sikap Gavin.
__ADS_1
Gavin yang mendengar itu dia langsung melepaskan tangannya.
"ada hubungan apa kamu sama Devan di belakang aku Gi?"
Griya membulatkan kedua matanya setelah mendengar ucapan dari suaminya.
"hubungan sama kak Devan? aku ga ada hubungan apa-apa sama kak Devan kak!"
"oh jadi kamu ga ada apa-apa dengan Devan, tapi kamu mau di peluk-peluk sama Devan!"
"peluk?"
Gavin mengeluarka ponsel dari sakunya dan langsung memperlihatkan foto Griya yang sedang berada di pelukan Devan.
"itu ga seperti yang kamu pikir kak, aku bisa jelasin itu!" ucap Griya
" itu yang namanya ga ada hubungan tapi mau di peluk-peluk "
" astaga kak Gavin.. jadi kakak lebih percaya sama foto itu di banding aku istri kakak? "
"apa kak Gavin ga inget waktu kakak pelukan sama Jessica, apa semua itu di sengaja?"
Gavin kembali mengingat kejadian itu dan seketika Gavin langsung menyesal karna tidak mendengar ucapan Griya sehingga menyakiti Griya.
"itu emang aku di peluk kak Devan, tapi aku udah nolak kak. dan asal kakak tau aku sedikitpun ga punya perasaan apa-apa sama kak Devan"
"apa kakak tau apa yang terjadi?" Griya menceritakan semua kejadian siang itu dengan Devan kepada Gavin.
"maafin aku sayang, aku udah cemburu buta tanpa mendengar penjelasan dari kamu. dan semua itu gara-gara kebohongan yang aku ciptain!" Gavin memeluk Griya dan menciumi puncuk kepala Griya berulang kali.
" please kak, lain kalo kalo ada masalah. tolong di bicarakan baik-baik, kita ini bukan anak kecil lagi kak"
"iya sayang, maafin aku ya sayang"
Griya mengangguki ucapan Gavin, dan mereka kini duduk di depan televisi.
" apa masih sakit sayang?" Gavin mengusap lembut tangan Griya yang tadi ia pegang dengan kasar. bukannya menjawab Griya malah melamun.
"sayang..."
"eh iya kak kenapa?"
"kamu kenapa?"
" aku cuma mikir siapa yang kirim foto itu ya kak?!"
" benar juga, siapa yang kirim foto itu" timpal Gavin.
.
.
.bersambung.
.Like
.Coment
.Vote
__ADS_1
.and Favorite.
.