
Siang itu Gavin sibuk dengan laptopnya, karena ia harus menyiapkan materi untuk persentasi di hadapan kliennya.
tiba2 seseorang membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu.
dan orang itu adalah Digo. Gavin sudah terbiasa dengan sikap Digo yang seperti itu, ia tidak memperdulikan Digo yang sudah duduk di hadapannya.
"Vin, lo ga takut Devan cuma pura-pura amnesia?" celetukan Digo seketika menghentikan aktivitas Gavin.
Gavin melemparkan tatapan tajamnya kepada Digo.
"santai Vin gue cuma takut aja kalo si Devan manfaatin kebaikan lo sama Griya, ga ada maksud lain kok" ucap Digo lagi.
Gavin kembali memulai pekerjaannya setelah beberapa menit Gavin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
"Dig, lo ikut gue sekarang ke rumah sakit!"
"mau ngapain Vin?"
"mau ngejahit mulut lo"
Digo langsung memegangi bibirnya karena merasa ngeri dengan ucapan Gavin barusan.
Setelah beberapa menit Gavin dan Digo sampai di rumah sakit tempat Devan di rawat waktu lalu. Gavin menemui Dokter yang menangani Devan.
Digo memperhatikan ruangan itu sedikit merinding, ia ingat dengan ucapan Gavin di kantornya tadi.
"Vin, lo ga bener-bener mau jahit mulut gue kan"
"udah lo diem, kalo lo masih berisik gue jahit beneran mulut lo" timpal Gavin.
saat Gavin dan Digo sedang mengobrol tiba-tiba seorang Dokter yang masih cukup muda menemui mereka.
"ada yang perlu saya tanyakan dengan anda Dok" ucap Gavin
"tuan, bukankah anda teman dari pasien yang saya tangani waktu lalu?"
"benar Dok saya temannya Devan." ucap Gavin.
Digo sedari tadi hanya memperhatikan apa yang di ucapkan oleh Dokter dan Gavin.
"apa yang ingin anda tanyakan dengan saya?" ucap Dokter
"begini Dok, apakah Devan benar-benar lupa ingatan atau tidak? tolong anda jawab jujur. karna kalau anda ketahuan berbohong anda bisa kehilangan pekerjaan anda" Gavin sedikit mengancam Dokter itu.
"maaf tuan perkataan anda sangat menyinggung perasaan saya. tapi saya akan menjelaskan sedetil-detilnya, karena saya bukan orang yang seperti anda fikirkan" tegas Dokter.
"bukan maksud saya menyinggung Dok, saya hanya ingin melindungi rumah tangga saya. karna orang yang anda tangani dan sekarang tinggal di rumah saya, dia adalah orang yang menyukai istri saya Dok"ucap Gavin
Dokter pun akhirnya menjelaskan secara medis apa yang di alami oleh Devan, dan akhirnya Gavin bisa bernafas lega karena apa yang Digo takutkan tidak terjadi.
setelah selesai dengan keperluannya Gavin dan Digo langsung pergi untuk pulang ke apartemennya Digo pun sekalian berkunjung ke apartemen mereka.
__ADS_1
...****************...
Griya asik amenyiapkan makanan di dapur tanpa ia sadari sedari tadi Devan memperhatikannya tanpa terlewat sedikitpun. Devan terpanah dengan pesona Griya saat ia sedang memegang alat dapur yang terlihat sangat mahir.
'dddrrrrrtttttt' tiba-tiba ponsel Griya berdering.
"iya halo lin"
" ......"
"apa yang ingin kamu sampaikan dengan saya?"
"....."
"oh oke, kalau begitu kamu bikin janji dengan orang itu biar besok saya yang akan berbicara langsung"
"....."
'tuuutttuuutt'
Griya mengakhiri panggilan dari Lina.
"ada apa Gi" tanya Devan
"oh ini kak pegawai gue barusan telfon"
"pegawai?"
Devan mengangguki ucapan Griya, dan kini Griya kembali dengan kegiatan masaknya.
Devan mulai mengetik sesuatu di pencarian web tentang Griya cake. Devan sontak berdecak kagum dengan apa yang ia lihat saat ini bahwa Cabang toko Griya ada di beberapa kota bahkan hingga keluar negeri.
Devan semakin mengagumi Griya, tetapi ada sesuatu yang menyita perhatian Devan saat membaca hasil wawancara kepada Griya yang saat itu Griya mengucapkan "saya membangun toko ini demi kedua mendiang orangtua saya, karna saat itu orangtua saya meninggal karena orangtua saya sakit dan saat itu saya masih SMP dan belum bisa menghasilkan apapun untuk pengobatan orangtua saya sehingga mereka meninggalkan saya. dan sebelum ibu saya meninggal ibu saya berpesan supaya saya bisa menjadi orang yang sukses dan bisa menolong orang-orang seperti kami"
Devan langsung jatuh cinta dengan Griya yang benar seseorang yang sangat baik hati terlebih parasnya pun juga sangat menawan.
"Aaaaa....."
Devan langsung menoleh ke arah Griya yang saat itu sedang kesakitan karena tidak sengaja tangannya terkena air panas.
Devan langsung berlari dan langsung memegangi tangan Griya dan membawanya ke kran air untuk mencucinya. setelah itu Devan mendudukan Griya di sofa.
"P3K nya dimana Gi? "
"ada di laci itu kak" Griya menujuk laci di dekat lemari es. sedangkan Devan langsung mengambil kotak itu dan langsung mengobati tangan Griya yang mulai lebam dengan mengoleskan salep untuk mengurangi rasa sakitnya.
Devan meniupi tangan Griya supaya tidak panas.
tiba-tiba saja Devan mendapatkan sebuah pukulan di sudut bibir kanannya dan menin,ggalkan sedikit luka hingga berdarah.
Griya, Devan bahkan Digo yang baru datang bersama Gavin sangat terkejut melihat tindakan Gavin terhadap Devan.
__ADS_1
"kak Gavin stop" Griya menghalangi Gavin yang siap melayangkan pukulan kedua untuk Devan.
Digo langsung menahan tubuh Gavin yang saat itu ingin menghajar Devan.
"kak Gavin jangan salah paham, ini ga seperti apa yang kak Gavin pikirin"ucap Griya
Devan masih berdiri di hadapan Gavin dengan mengelap sudut bibirnya yang terluka.
Gavin tidak memperdulikan ucapan Griya dan tetap ingin melayangkan pukulannya namun saat Gavin melanjutkan aksinya tiba-tiba Griya berada di hadapan Devan dan pukulan itupun mendarat di wajah cantik Griya, dan tanpa menunggu waktu lama Gruya langsung tidak sadarkan diri dengan lebam di wajahnya.
"sayang..." Gavin langsung mengangkat kepala Griya ke pangkuannya dan berusaha membangunkannya.
"sayang bangun aku ga mau kehilangan kamu.. Griya sayang bangun" Gavin terlihat mencemaskan Griya sekaligus merasa bersalah karena memukul wanita yang sangat ia cintai.
di saat Gavin dan Digo berusaha membuat Griya sadar, Devan sangat terkejut dengan ucapan Gavin yang memanggil Griya dengan sebutan sayang.
Griya terbaring di atas tempat tidur belum sadarkan diri dan saat itu Devan tanpa menunggu waktu lama ia langsung mengutarakan apa yang ingin ia ketahui.
"apa maksud lo, lo ga mau kehilang Griya dan lo manggil Griya sayang Vin?"
"Griya itu sepupu gue, gue manggil dia dengan sebutan apapun itu bukan urusan lo" sahut Gavin
Devan akhirnya mempercayai ucapan Gavin dan saat Gavin sedang menunggu Griya tiba-tiba Devan mendekat kearah Griya.
"heh mau ngapain lo Dev?" ucap Digo
Devan memegang tangan Griya yang terkena air panas dan langsung menunjukkannya kepada Gavin.
"ini alasan gue nyentuh sepupu lo Vin"
Gavin terlihat begitu cemas melihat keadaan tangan Griya yang melepuh terkena air panas.
"kenapa dia bisa kaya Gini Dev?"
"Griya tadi ga sengaja ketumpahan air panas waktu dia masak Vin" jelas Devan
"kelihatannya itu parah Vin" sahut Digo
Gavin terus mengusap tangan Griya dan sangat merasa menyesal dengan apa yang ia lakukan tanpa mendemgar penjelasan.
.
.
.bersambung
.hai teman-teman author udah mulai aktif lagi ya..
.jangan lupa like coment vote karya-karya aku dan tambah sebagai favorite kalian ya biar kalian ga ketinggalan episode-episode terbaru okey. .
.
__ADS_1
.