
Siang itu Revi pulang bersama Digo, karena kali ini Revi tidak di jemput oleh supirnya.
"Rev..." Digo memecah keheningan di dalam mobil.
"iya kak kenapa?" saat itu Revi tengah memperhatikan ponselnya, dan melihat foto-foto yang ada di galerinya tanpa melihat Digo.
Digo yang melihat layar ponsel Revi, dia sedikit penasaran dengan apa yang membuat Revi sibuk sendiri tanpa memeperhatikannya.
"lo lagi lihat apaan si?"
"engga lihat apa-apa kok kak"
"jangan-jangan lo lihat..."
"ga usah mikir aneh-aneh deh kak Digo, gue lihat fito gue sama Griya waktu kita masih smp tau... dasar mesum" sahut Revi
'shiiit' tiba-tiba Digo beehenti secara mendadak sehingga membuat kening Revi terbentur
"aw.." Revi memegangi Keningnya yang mulai membiru akibat benturan itu.
"apa lo bilang, gue mesum?" ucap Digo "ohh jadi gue mesum menurut lo.." Digo terus mendekat sehingga membuat Revi gugup.
"lo mau ngapain kak?"
Digo terus memperdekat jarak mereka dan tiba-tiba Digo tertawa tebahak-bahak "hahaha dasar gadis mesum, gue deketin dikit aja lo udah mikir aneh-aneh. berarti bukan gue kan yang mesum" Digo memundurkan badannya sambil menyentil kepala Revi.
"Aaaa... sakit tau kak"
Digo melihat kening Revi yang membiru dan seketika Digo langsung mengkhawatirkan Revi yang terlihat kesakitan.
"kening lo kenapa Rev?"
"pakek nanya lagi, kepala gue kebentur gara-gara lo ngerem mendadak tau kak"
Digo keluar dari mobilnya yang kebetulan berhenti di dekat mini market.
"hah kirain mau ngecek jidat gue, ga tau nya cuman mau keluar mobil? isshh dasar cowo mesum" sungut Revi.
Tiba-tiba pintu mobil sebelah kiri terbuka dan membuat Revi terkejut karena seseirang menariknya keluar.
"astaga kak Digo.. gue pikir penjahat"
tanpa mengeluarkan sepatah katapun Digo mendudukkan Revi di sebuat bangku dan mulai mengoleskan salep di kening Revi yang terbentur dan sesekali meniupnya.
Revi terhipnotis oleh ketampanan Digo saat sedang meniupi keningnya.
"udah ga usah mandangin gue kaya gitu, gue tau lo suka sama gue tapi ga perlu segitunya kalo ngeliyatin gue" Digo masih fokus meniup kening Revi. dan seketika Revi langsung memundurkan kepalanya .
"apaan si kak gue ga ngliyatin lo kok, GeEr" Revi berusaha bersikap seperti biasa walaupun jantungnya sebenarnya seperti lari maraton karna berdekatan dengan Digo.
Digo menarik salah satu sudut bibirnya yang membentuk senyuman karna melihat tingkah Revi yang terlihat salah tingkah. dan langsung kembali kedalam mobil dan melanjutkan perjalanannya.
setelah beberapa menit Digo sampai di depan rumah mewah milik orang tua Revi.
Revi lalu keluar dan masuk ke dalam halaman rumahnya.
"emm lo ga lupa sesuatu Rev?" ucap Digo
Revi meboleh ke arah Digi yang sedang di dalam mobilnya. "makasih atas tumpangannya ya...... cowo mesum" Revi sambil berlari ketika mengucapkan kata-kata terakhirnya.
"Dasar cewe mesum.." Digo kembali melajukan mobilnya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"pokoknya gue ga mau di penjara!lo harus bantuin gue Dev" ucap Jessica
"iya Dev lo harus bantuin kita" ucap teman geng Jessica
Devan tetap terdiam tidak memperdulikan ocehan Jessica.
"Dev... lo denger ga sih ucapan gue?" ucap Jessica.
"kalian bisa diem ga" ucap Devan dengan tatapan elangnya yang membuat Jessica dan teman-temannya terdiam.
*gue harus lakuin sesuatu supaya Griya maafin gue!* batin Devan
Saat itu Devan langsung pergi meninggalkan Jessica and geng. Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. saat itu Devan tidak fokus dengan jalanan sehingga saat seorang anak-menyeberang dia langsung terkejut dan membelokkan Mobilnya kekiri dan saat itu mobilnya menabrak trotoat jalanan.
'brraaakkkk'
Devan di larikan ke rumah sakit terdekat dengan luka di kepalanya yang cukup parah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Griya terbangun dengan posisinya sedang berpelukan dengan Gavin yang masih tertidur pulas. Griya langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sedari pulang sekolah belum mandi.
Setelah beberapa menit Griya selesai dengan acara mandinya lengkap dengan berganti pakaian, tidak lupa dia mengoles wajahnya dengan make up tipisnya sehingga terlihat cantik natural.
'Ddrrrtttttt'
Ponsel yang ada di tangan Griya tiba-tiba berdering.
Griya mengangkat telfon itu dan seketika langsung terkejut. karna benar, telfon itu berasal dari nomor seseorang yang ia kenal.
" baik saya akan kesana!"
Griya sampai di tempat tujuannya, yaitu rumah sakit tempat Devan di rawat.
Griya langsung menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan Devan.
"maaf mba dimana ruangan teman saya di rawat atas nama Devan Wiradhmaja"
"atas nama Devan Wiradhmaja di rawat di ruang ICU mba"
"oh baik mba makasih ya.." saat Griya ingin meninggalkan tempat resepsionis ia kembali lagi dan bertanya sesuatu.
"oh iya mba kenapa saya yang di hubungi, kenapa bukan pihak keluarganya?"
"maaf mba kami sebenarnya ingin menghubungi pihak keluarga, namun ponsel itu ada paswordnya dan di emergensi call hanya tertera nomor mba"
"emm baik mba makasih mba, permisi" Griya langsung menuju ke ruang ICU untuk melihat keadaan Devan.
Saat iti seorang perawat keluar dari ruangan dan langsung meenyuruh Griya masuk untuk menemani Devan yang sedang terbaring namun sudah siuman.
"Kak Devan, kak Devan baik-baik aja kan?"
"jadi nama gue Devan?" ucap Devan yang masih bingung, karna benar saja Benturan yang ada di kepalanya menyebabkan ia Amnesia dan tidak bisa mengingat siapapun termasuk namanya sekalipun.
Griya mengerutkan dahinya, "kal Devan ga tau siapa nama kakak sendiri?"
"tau! barusan lo kan bilang sama gue"
"please kak jangan becanda, kalo gitu kak Devan tau nama gue?" Devan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"gue Griya kak, masa kak Devan lupa si.."
"entahlah, gue ga bisa inget apa-apa!"
Karena melihat Devan seperti itu,Griya langsung memanggil dokter untuk menjelaskannya. dan ketika dokter selesai menjelaskan apa yang terjadi Griya terkejut, karena Devan mengalami amnesia.
melihat keadaan Devan yang cukup membaik, dokter memindahkan Devan ke ruang rawat biasa.
"kayanya gue harus telfon kak Gavin"ucap Griya sambil meninggalkan Devan yang tengah beristirahat di ruangannya.
Griya mulai menghubungi Gavin dan dalam waktu singkat Gavin datang ke rumah sakit itu.
"sayang kamu kenapa kesini ga bilang-bilang sama aku?" ucap Gavin
"sebenernya tadi aku mau bangunin kak Gavin, tapi kak Gavin tidurnya pules banget jadi ga tega buat bangunin." jawab Griya.
"lain kali kamu tetep harus sama aku perginya, ga peduli aku tidur atau lagi apapun itu okey!" Griya mengangguki ucapan Gavin.
"apa yang yerjadi sama Devan sayang?"
"Kak Devan kecelakaan kak, dan ponselnya ada paswordnya jadi pihak rumah sakit belum bisa ngubungin pihak keluarga".
"tapi kenapa malah kamu yang di telfon sayang?" Gavin menautkan kedua alisnya.
"kata pihak rumah sakit nomor aku ada di emergensi call kak"
"apa?" Gavin terkejut mengetahui Istrinya menjadi orang terpenting bagi Devan.
"iya kak, dan kak Gavin mengalami amnesia jadi kak Devan tidak bisa dimintai keterangan asal usulnya kak"
"kalo giti biar aku yang ngubungin keluarganya."
Gavin mulimengotak atik ponselnya dan berbicara dengan seseorang di seberang cukup lama sehingga membuat Griya menunggu.
Gavin datang dengan wajah yang sedikit muram.
"ada apa kak?"
Saat ini keluarga Devan ada di luar negeri dan tidak bisa pulang ke indonesia karena wabah Covid-19 yang lagi melanda sayang, jadi terpaksa kita harus merawat Devan.
"ga apa-apa kita rawat kak Devan kak, kasian dia ga inget siapa-siapa"
"tapi sayang.. Devan itu cinta sama kamu dan aku ga rela dia...."
"sssttt" Griya meletakkan tangannya di bibir Gavin . " kak Devan itu amnesia kak, ga mingkinkan dia inget kalo dia suka sama aku!" Griya meyakinkan Gavin
"baiklah, kita akan rawat dia. tapi ketila dia udah baikan kita akan mengantarnya pulang ke rumahnya okey"
"pasti sayang..." ucap Griya sambil memeluk Gavin.
.
.
.bersambung
.
. jangan lupa like coment vote dan tambahkan sebagai favorite kalian ya teman-teman.
.
__ADS_1
.