
Malam ini adalah malam penantian bagi Sherly. Di mana hari ini ada kontes bakat pemilihan ratu kampus kembali, dan dia adalah salah satu kandidat yang di elu-elukan.
Rasya menemani Sherly prepare. Mulai dari berdandan hingga gladi bersih.
Sherly tampak cantik dan anggun saat itu, dengan memakai kebaya dan sanggul modern membuat Rasya menjadi bangga, tak heran jika dia memilih Sherly daripada Putri.
"Kontestan siap ya, sebentar lagi acara dimulai," ucap seorang wanita cantik dengan balutan kebaya.
"Baik!" sahut Seluruh peserta.
Sherly kemudian mengeluarkan sepatu mahal yang dibeli bersama Rasya kemarin.
"Yang, doain aku menang ya," ucap Sherly.
"Pasti dong."
"Dah aku duluan ya."
Sherly naik ke atas panggung sementara Rasya keluar dari tempat itu dan duduk di bangku VIP.
Acara pertama adalah acara fashion show dengan mengenakan kebaya.
Dengan menggunakan sepatu yang dibelikan oleh Rasya, dengan pedenya Sherly berlenggak-lenggok di atas catwalk ketika namanya disebut.
Begitupun yang kontestan lainnya satu persatu kontestan lainya berjalan melewati catwalk.
Tepuk tangan meriah memenuhi seisi aula tersebut. Ada juga yang bersorak-sorai. Ketika melihat kandidat mereka tampil.
Dengan bangga Rasya bertepuk tangan, ketika sang kekasih melewatinya sambil melambaikan tangan.
Sementara Puri hanya mengulas senyum tipis menatap dari jauh acara itu.
'Kak Sherly memang cantik, wajar saja jika kak Rasya mencintainya,' batin Puri yang semakin tak percaya diri.
Bram dan Puri masih terus berbincang, mereka berdua kurang menikmati acara tersebut.
"Put cita-cita kamu mau jadi apa?" tanya Bram.
"Aku pengen jadi dokter Kak."
"Iya Sepertinya kamu memang cocok menjadi dokter."
"Terima kasih Kak, tapi aku juga gak tahu, apa aku bisa mewujudkannya."
"Insya Allah Pur. Asal mau berusaha pasti diberi jalan kok. Semangat ya, Pur. Kak Bram rela kok nungguin kamu sampai kamu selesai kuliah kedokteran."
Puri menoleh ke arah Bram karena kaget dan heran mendengar penuturan Bram.
"Maksud kakak apa?" tanya Puri.
"Maksud kakak, ya gitu. Kak Bram rela kok nungguin Putri sampai Puri selesai pendidikan kedokteran."
"Emangnya kenapa harus menunggu Puri Kak?"
" Biar bisa melamar Puri."
Putri tersentak kaget, bola matanya mengedar menatap Bram dengan bola mata berpendar. Suasana pun berubah karena pembicaraan mereka mengarah kearah yang lebih serius.
"Maksud kak Bram, apa?"
"Kak Bram, ingin jujur Pur, tapi kamu jangan marah ya."
"Jujur apa Kak?" Bola mata Putri berpendar menatap Bram dengan serius.
" Pur, kak Bram sebenarnya sudah jatuh cinta pada kamu, sejak pertama kali kita bertemu.
Hah? Putri kaget dengan bola mata yang membelalak. Gadis itu pun menelan salivanya.
Baru kemarin ia ditembak oleh Keenan , sekarang sudah ditembak oleh Bram.
"Iya, Pur. Awalnya Kak Bram memang memungkiri perasaan kak Bram ke kamu. Apalagi kamu adalah istri dari sahabat Kok Bram sendiri."
"Tapi melihat sikap Rasya dan rencana Rasya untuk memilih dan menikahi Sherly, Kak Bram pun memberanikan diri untuk mengatakan perasaan kak Bram kepada kamu."
Puri bergeming dengan bola mata tak beranjak menatap Bram.
Bram menarik tangan Putri kemudian menciumnya.
"Setelah kamu berpisah dengan Rasya, kamu mau kan menerima cinta Kak Bram."
Lagi-lagi Puri dibuat kaget dengan pernyataan Bram tersebut.
__ADS_1
Menerima kak Bram? Kak Bram baik dan humoris, tapi bagaimana dengan Keenan?
'Kenapa sih setelah aku menikah, baru ada cowok yang berani nembak aku,' batin Putri.
"Pur, mau gak? Atau jangan bilang kamu sudah punya pacar ya Put?"
"Pacar sih belum ada kak. Hanya saja Puri rasa aneh. Bagaimanapun Putri ini istrinya Kak Rasya. Bagaimana bisa menerima cinta dari seorang pria lain, walaupun Puri tahu sebentar lagi kami akan berpisah."
Bram tersenyum.
"Kamu nggak denger ya, Kakak bilang kan setelah kamu bercerai dengan Rasya."
Hm puri tersenyum, karena memang tak menyimak kata-kata Bram.
"Nanti kita lihat saja deh Kak," pungkas Putri sambil melanjutkan menonton fashion show di panggung.
****
Setelah acara fashion show, acara dilanjutkan dengan lomba tari dan breakdance.
Kali ini, Sherly juga tampil dengan menampilkan modern dancenya.
Pesona Sherly memang cukup kuat, selain memiliki wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang sempurna Sherly juga memiliki banyak talenta. Sejak mengikuti ajang kontes dia selalu menang. Seperti 2 tahun sebelumnya. Sherly mendapat juara 2 dan juara harapan pada kontes tahunan mahasiswi sebelumnya.
Acara demi acara pun berlalu, waktu menunjukkan pukul 10.00 lewat.
Puri Sudah beberapa kali menguap karena tak tahan menahan rasa kantuk karena ia memang tak terbiasa tidur larut malam.
***
Pukul 11.00 malam Put
ri benar-benar sudah tak mampu menahan perasaan kantuknya. Tanpa sadar matanya terpejam dengan kepala yang menempel di atas punggung Bram.
Bram tersenyum sambil mengusap kepala Putri.
Rasya yang tengah asik menonton aksi panggung, tiba-tiba tanpa sengaja melihat menoleh ke arah Putri dan Bram yang terlihat mesra.
Perasaan cemburu mulai membakar hati Rasya. Namun ia tak bisa mendekati mereka karena harus melewati banyak penonton lainnya.
"Sialan Bram, diberi kesempatan, malah dimanfaatkan. Awas saja dia berani menyentuh Puri."
Acara itu pun berlalu dan pengumuman pemenang akan diumumkan saat itu juga.
Dua orang MC naik ke atas panggung. Kini mereka yang mengambil alih acara.
"Baiklah, setelah penampilan para peserta tadi, kini di tangan saya sudah ada hasil penjurian. Tanpa berlama-lama lagi kita akan mengumumkan hasil penobatan kontes ratu kampus di tahun ini.
"Pemenang ketiga adalah Sarah Amelia dari fakultas ekonomi."
Tepuk tangan meriah memenuhi aula.
"Pemenang kedua adalah Fitriani dari fakultas hukum."
Tepuk tangan kembali terdengar dengan suara sorak sorakan yang riuh memenuhi aula tersebut."
Kedua pemenang pun kembali memasuki panggung.
Saat saat yang mendebar di mulai. Suara yang semula riuh mendadak sepi seperti kuburan. Mereka ingin mendengar siapa pemenang pertama dalam kontes ini.
Sherly dan kandidat lain menunggu dengan hati yang berdebar-debar .
"Please moga gue menang deh acara malam ini," ucap Sherly.
MC kembali menguasai panggung.
"Selanjutnya pemenang pertama dan akan dinobatkan ratu kampus selama setahun adalah….. Sherly Anggraini! Dari fakultas ekonomi!"
"Yes!" Bukan main bahagia dan bangganya Sherly kala itu. Beberapa peserta lain pun ikut memberikan selamat kepadanya.
Sherly keluar dan melambaikan tangannya ke segala arah.
Dengan bangga Rasya bertepuk tangan ketika sang kekasih melambaikan tangan dari atas panggung.
Sherly mendapatkan piagam, piala dan juga mahkota sebagai ratu kampus.
Tepuk tangan meriah kembali menggema di ruang tersebut.
Perasaan bahagia tak terkira di hati Sherly. Karena kini dia akan lebih terkenal dan lebih populer karena menjadi ratu kampus.
***
__ADS_1
Hampir pukul 12.00 malam acara selesai sepenuhnya.
Sudah 1 jam Puri terlelap dengan kepala yang berada di pundak Bram.
"Bangun yuk Pur! Kita pulang Pur sudah malam, acara juga sudah selesai," ucap Bram sambil menepuk-nepuk pipi Puri pelan.
Puri menggeliat Namun tak juga bangun.
"Aku ngantuk Kak," sahut Puri.
"Eh dibangunkan malah tambah nyenyak."
Bram tersenyum ketika melihat bibir Puri yang begitu empuk dan ranum seperti buah yang segar dan mengundang hasrat untuk mencicipinya.
"Pur bangun Pur. Acara sudah selesai ayo kita pulang, nanti tidurnya di rumah saja."
Para penonton sudah meninggalkan tempat duduk mereka.
"Ayo Pur sudah sepi. Rasya sama Sherly pasti sudah menunggu kita."
Akhirnya setelah beberapa kali membangunkan gadis itu, Puri membuka matanya, meski dia belum sadar sepenuhnya.
Bram memegang tangan Puri dengan erat. Agar putri tak jatuh. Karena saat itu pandangan Puri masih sedikit kabur.
Mereka keluar dari aula tersebut. Ketika hendak menuruni anak tangga Puri tidak melihat adanya tangga hingga terjatuh dan tersungkur hingga kakinya menyilangkan di atas lantai.
Bruk…
"Astaghfirullah, Puri!"
"Akh! Sakit," keluh Puri.
"Kamu kenapa Pur?"
"Puri gak lihat ada tangga Kak! Aduh kaki Puri sakit sekali," ringis Puri.
Bram membuka sepatu kets Put
ri bermaksud mengurutnya.Namun baru pun menyentuh bagian telapak kaki, Puri sudah meringis.
"Aduh kak sakit!"
"Ehm sepertinya kaki kamu terkilir Put."
"Iya, tapi bagaimana caranya Putri pulang. Kaki Putri sakit begini," ucap Puri sambil meraba bagian persendian telapak kakinya.
"Ya sudah. Biar kakak gendong kamu Pur."
Bram berjongkok membelakangi Puri, karena hari sudah larut malam dan pastinya Rasya sudah menunggu mereka. Puri terpaksa naik ke punggung Bram.
Bram bangkit dengan tubuh Puri bertumpu pada punggungnya.
Bram merasa senang, bisa menggendong Puri. Ingin rasanya ia memberhentikan waktu untuk beberapa saat.
Hembusan nafas Puri terasa menyapu pada lehernya. Membuat perasaan Bram menjadi berbunga-bunga.
Puri yang merasa ngantuk itu kembali tertidur.
***
Rasya menunggu dengan gelisah, karena sekitar aula itu sudah hampir sepi, tapi Bram dan Puri masih belum datang juga.
"Mereka kemana sih? Menyusahkan saja,"dengus Sherly.
"Kita susul saja Yang, aku takut Bram berbuat nekat sama Puri," dengus Rasya yang juga kesal.
Baru mereka hendak menyusul, sudah terlihat dari jarak lima puluh meter Bram yang tengah menggendong Puri.
Melihat kejadian itu Rasya menjadi emosi. Dia langsung menghampiri mereka.
"Kalian berdua darimana sih? Lama banget! Kenapa juga puri loh gendong?!" tanya Rasya.
"Puri terpeleset. Jatuh di tangga aula hingga kakinya terkilir. Jadi gue gendong aja dia, karena kakinya sakit dan tak bisa jalan."
"Ya sudah, biar gue yang gendong. Enak saja Lo, gendong-gendong bini gue," dengus Rasya.
Puri dipindahkan dan kini Rasya yang menggendong putri.
Lagi-lagi kemarahan terlihat jelas di raut wajah Sherly ketika melihat Rasya menggendong Puri.
'Sudah kuduga, gadis itu bisa menjadi ancaman hubungan gue dan Rasya. Secepatnya gue akan minta agar Rasya menikahi gue,' batin Sherly.
__ADS_1