
'Pelakor ? Bukankah pelakor adalah sebutan untuk seorang wanita yang merebut suami orang?Dan dia memanggil ku pelakor.'
Sherly merasa heran karena Bu Mita memanggil dengannya sebutan pelakor.
Bu Mita masih menatap tajam ke arah Sherly karena menginginkan penjelasan.
"Siapa kamu, kenapa berani-beraninya godain anak saya? Pakai duduk di pangkuannya segala?"
Sherly terdiam sambil menundukkan wajahnya.
"Kamu juga Rasya, sudah tahu punya istri, masih saja bawa pelakor ke ruangan ini. Memangnya apa kurangnya Puri?"
Menikah? Puri?Sherly mendelik melototkan bola matanya.
Sherly langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Sherly!" Panggil Rasya sambil mengejar Sherly.
"Rasya! Kamu ngapain ngejar dia?!" teriak Bu Mita.
Tapi Rasya tetap tidak berhenti, dia terus saja mengejar Sherly.
Sherly melangkah kakinya, sebenarnya dia juga sudah curiga tentang sosok Ptri. Setahunya, Rasya memang tak memiliki adik sepupu perempuan
'Pantes saja Rasya tak pernah mau mengajak ku untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Ternyata dia sudah dinikahkan dengan Puri. Tapi aku harus bisa merebut Rasya dari Puri. Aku harus membuat Rasya menceraikan Puri, karena aku tahu Rasya lebih mencintai aku,' batin Sherly.
"Sherly!"Panggil Rasya.
Sherly tersenyum penuh kemenangan mendengar panggilan Rasya.
Sherly mempercepat langkah kakinya agar Rasya semakin mengejarnya, sambil meneteskan air mata buayanya.
Rasya berjalan semakin cepat untuk mengejar Sherly.
"Sherly! Tunggu Sayang!" Rasya menarik tangan Sherly hingga Sherly berhenti.
Dia pura-pura menghapus air matanya sambil menepis tangan Rasya.
"Sherly, dengar penjelasan aku dulu Sherly."
"Penjelasan apa lagi Rasya! Kamu sudah membohongi aku! Kamu bilang Puri itu adik sepupu kamu! Tapi apa? Ternyata dia istri kamu."
"Makanya dengarkan aku dulu."
Hiks.. hanya suara tangis pura-pura yang keluar dari bibir Sherly.
"Aku memang dipaksa menikahi sama Puri. Tapi aku gak mencintainya. Aku hanya mencintai kamu. Begitupun dengan Puri, kami hanya pura-pura saja menjalani rumah tangga ini."
"Please Sherly, kamu jangan marah begitu. Aku rasa ini adalah kesempatan bagi aku untuk berkata jujur pada kedua orang tua ku tentang hubungan kita."
__ADS_1
Rasya masih berusaha meyakinkan Sherly.
Shely terdiam, karena kata-kata itulah yang memang ingin dia dengar.
"Ayo Sayang, kamu ikut aku, kita bicarakan hubungan kita dengan kedua orang tua ku," ucap Rasya sambil membujuk Sherly.
Sherly menganggukan kepalanya.
"Iya Rasya, kamu tahu sendiri kan aku sayang sama kamu," ucap Sherly.
"Iya Sayang, aku juga cinta sama kamu."
"Ayo kita ikut aku, kita bicarakan pada mommy."
Rasya dan Sherly berjalan bergandeng tangan menuju ruangan nya.
Bu Mita sedang memijit pelipisnya ia duduk di sofa menanti kedatangan Rasya.
"Bisa-bisanya Rasya membawa wanita lain di kantor ini," gumam Bu Mita.
Sherly dan Rasya masuk ke dalam ruangan. Bu Mita mendongakkan kepala melihat ke arah mereka berdua yang perlahan memasuki ruangan tersebut.
"Kenapa kamu bawa lagi dia?" Tanya Bu Mita dengan ketus.
Rasya menggenggam erat tangan Sherly. Bu Mita memperlebar bola matanya sedikit.
"Mommy, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Rasya.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
Pak Wilmad heran melihat Rasya yang duduk bersama dengan seorang wanita, apalagi dia melihat wanita itu menggandeng tangan Rasya.
"Ada apa ini Rasya, Siapa dia?"tanya Pak Wilmar.
"Dia pacar saya."
"Apa, pacar ?" Pak Wilmar begitu kaget mendengar pengakuan Rasya.
"Iya Daddy, dia pacar saya dan saya sangat mencintainya."
"Rasya, Apa kamu tidak sadar? Bukannya kamu sudah menikah."
"Tapi saya tidak mencintai Puri! Daddy dan mommy lah yang memaksa saya untuk menikahi Puri! Saya hanya mencintai Sherly dan hanya akan menikah dengannya."
"Rasya! Kamu gak pikir nasib puri bagaimana?"
"Puri juga gak cinta sama Rasya. Dia juga sudah setuju untuk bercerai dari Rasya."
Bu Mita dan Pak Wilmar saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
"Rasya kamu yakin apa yang kamu katakan itu?"
"Iya mommy! Rasya cuma mau menikah dengan Sherly!"
Bu Mita dan Pak Wilmar kembali saling memandang.
"Rasya gak peduli mommy, mommy ambil saja fasilitas Rasya, tapi jangan pisahkan aku dan Sherly!"
Bola mata pak Wilmar dan Bu Anita kembali melotot.
"Tidak bisa seperti itu. Bagaimana dengan Puri? Bukankah kamu sudah pernah tidur dengan istrimu itu?!"
Rasya tertegun beberapa saat. Jika dia jujur, pasti kedua orang tuanya tak akan pernah merestui hubungan dengan Sherly.
"Kami gak pernah ngapa-ngapain. Silahkan daddy tanya pada Puri sendiri."
Bu Mita dan pak Wilmar menghela nafas panjang, mencoba untuk menahan emosinya.
Sebenarnya mereka juga merasa bersalah karena telah menjodohkan Puri dan Rasya, mereka pikir cinta akan tumbuh di hati Rasya dan Puri ketika mereka menjalani rumah tangga.
Bu Mita dan pak Wilmar saling memandang kembali untuk mencari solusi dari masalah tersebut.
"Bagaimana daddy? Kasihan Puri" tanya Bu Mita sambil meneteskan air matanya.
"Kita bicarakan nanti saja, kita lihat bagaimana pendapat Puri."
"Rasya yakin Putri akan setuju mommy. Lebih baik kami bercerai saat ini, dari kami hidup bersama tapi tak saling mencintai. Dengan berpisah, Puri juga bisa memilih pasangan hidupnya sendiri. Mumpung belum ada yang tahu tentang pernikahan kami," ucap Rasya.
Bu Mita mendelik ke arah Rasya.
"Baiklah Rasya, jika keputusanmu sudah bulat. Daddy juga kasihan melihat Puri jika sikap kamu seperti ini. Tapi daddy peringatan kepada kamu, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
Pak Wilmar dan Bu Mita beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan tempat tersebut.
Sherly kembali tersenyum menyeringai, karena ia yakin jika orang tua Rasya tak punya pilihan lain kecuali menikahkan mereka.
***
Bu Mita dan pak Wilmar berada di dalam mobil.
"Bagaimana Daddy, apa kita restui hubungan antara Rasya dan Sherly?"
"Kita sudah berjanji pada ayah Puri untuk menjaganya."
"Iya mommy, tapi daddy takut Rasya akan berbuat nekat, yang justru akan semakin menyakiti Puri. Bagaimana kalau mereka berdua melakukan tindakan yang tidak kita inginkan. Maklum saja, mereka masih muda dan sering mengambil keputusan tanpa pikir panjang. Sebelum itu terjadi, lebih baik kita sudahi saja pernikahan mereka berdua. Toh kasihan puri jika suaminya tidak Pernah mencintainya dan justru mencintai wanita lain."
"Iya Daddy, mommy rasa juga begitu. Biarkan saja, jika memang mereka ingin berpisah. Sebelum semuanya terlambat. Kita akan tetap menjaga Puri sama seperti menjaga anak kandung kita sendiri."
"Iya daddy rasa juga begitu, mungkin ini jalan terbaik bagi mereka berdua."
__ADS_1
Kita akan bicarakan pada Puri nanti malam.