Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Serangan Balik


__ADS_3

Rasya berada di kamar di dalam apartemennya.


Saat ini dia berada dalam sambungan telepon bersama Sherly.


"Sayang karena sebentar lagi kita akan menikah, bagaimana kalau kita fitting baju pengantin?" tanya Sherly dalam sambungan teleponnya.


"Fitting baju pengantin?"


"Iya Sayang, resepsi kita enam bulan lagi, aku ingin pesan baju pengantin yang bagus dan detail, kalau gak dari sekarang pesannya, nanti gak keburu Sayang," rengek Sherly .


"Iya Sayang besok pagi kita ke butik ya."


"Iya Sayang, tapi gak hanya aku yang ingin tampil beda di pesta pernikahan kita nantinya."


"Maksud kamu apa Sayang?"


"Mami aku juga mau fitting kebaya untuk acara resepsi kita nantinya. Kamu gak keberatan kan Sayang, kalau mami aku ikut kita ke butik besok?"


"Ah gak dong."


"Ya sudah kalau begitu besok pagi kamu jemput aku ya."


"Iya Sayang."


"Dah Sayang, love u so much. Muach."


"Love you too."


Rasya menyimpan handphone miliknya di atas nakas.


Rasya terlentang di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya.


'Aku dan Sherly harus segera menikah, jika seandainya Puri hamil pun, aku akan nikahi keduanya. Sherly pasti gak akan  keberatan jika aku menikahi Puri, karena semuanya sudah terjadi. Dan Puri, Sepertinya dia gampang diatur.  Mau bagaimana lagi kalau memang takdirnya aku harus menikahi dua wanita sekaligus,' batin Rasya.


Rasya menghempaskan nafas kasarnya. 


Kring… dering telepon terdengar di atas nakas. Dengan malas Rasya meraba telepon tersebut. Rasya melihat layar handphone untuk memastikan Siapa yang menghubunginya.


"Bram?"

__ADS_1


"Halo, Bram ngapain lo telepon gue malam-malam?"


"Halo bro, nada bicara lu nggak enak banget ya. Padahal gue baru dengar berita dari Sherly kalau kalian sebentar lagi menikah."


"Hah! lo nelpon cewek gue? ngapain?" Tanya Rasya bernada cemburu.


"Hehe, gue nggak nelpon cewek lo , jealous banget sih lo jadi orang, asal lo tau gue nggak doyan cewek matre seperti Sherly. Gue tau dari status WA Sherly," sahut Bram ketus.


"Terus ngapain lu telepon gue?"


"Eh, Ras. Sebentar lagi kan lu dan Sherly nikah, boleh dong gue deketin Puri?"


Bola mata Rasya terbelalak mendengar pertanyaan Bram.


"Nggak boleh!"


"Loh kenapa? Lo juga sudah jatuhi talak ke Puri kan?"


"Pokoknya nggak boleh!" Pungkas Rasya sambil menutup teleponnya.


Bram menatap kesal ke arah layar handphonenya.


"Eh tapi kenapa juga gue harus izin sama Rasya, dia kan bukan siapa-siapanya Puri."


Bram menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Oke besok gue temui Puri di sekolahnya."


***


Waktu menunjukkan pukul tiga pagi.


Rasya terbangun dari tidurnya seketika dia merasakan mual.


Rasya yang masih begitu ngantuk itu terpaksa bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.


Di sana Rasya memuntahkan isi perutnya hingga tubuhnya begitu lemas.


Rasya mencuci wajahnya dan melihat pantulan wajahnya di depan cermin wastafel.

__ADS_1


Seketika Dia teringat dengan Puri.


"Kenapa aku muntah-muntah seperti Puri," gumamnya.


Perutnya terasa terasa begitu perih, dia mencoba mencari obat maag di laci obat. Tapi tak menemukannya, karena Rasya memang tak pernah mengalami masalah lambung.


'Akh sial, perutku perih sekali."


Rasya kemudian meminum air hangat untuk mengurangi di lambungnya.


Namun air itu bukannya meredakan perih di bagian lambungnya tapi justru membuat lambungnya semakin perih. Tenggorokan Rasya mungkin terluka akibat cairan asam lambung yang keluar melalui muntahnya nggak membuatnya sulit untuk menelan.


Rasya menahan rasa perih pada bagian lambung.


Setelah beberapa saat menahan rasa sakit, Rasya kembali tertidur.


****


Kring…suara telepon kembali terdengar di atas nakas Rasya.


Rasya meraih handphonenya kemudian memasukkannya ke dalam selimut.


"Halo," suara Rasya lirih di dalam selimut.


"Sayang! Ini sudah jam berapa, katanya kamu mau bawa aku ke butik?! Aku sudah siap-siap nih."


"Aduh Sayang, Maaf ya sepertinya tidak bisa hari ini. Semalam aku muntah-muntah, perutku nggak enak banget. Aku lagi meriang nih."


"Aduh Sayang kok kamu bisa sakit gitu sih, padahal aku sama Mami sudah siap-siap Loh," dengus Sherly bernada kecewa.


"Iya Sayang, lain kali ya, tunggu keadaan aku membaik. Sepertinya aku juga nggak bisa masuk kantor hari ini."


"Ya udah, besok saja. Kamu minum obat ya biar cepat sembuh. Aku gak mau gara-gara kamu sakit pernikahan kita diundur lagi," sahut Sherly ketus.


"Ngak lah Yang. Nggak akan mundur kok, apapun yang akan terjadi aku akan tetap menikah dengan kamu."


Di seberang telepon Sherly menarik senyumnya.


"Ya sudah Sayang istirahat saja, Aku tutup dulu teleponnya."

__ADS_1


__ADS_2