Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Terjebak Rencana Sendiri


__ADS_3

Puri duduk seperti biasanya di dalam kelas.


"Pur, loh sudah masuk kelas?"


"Iya Lis. Gue harus tetap melanjutkan sekolah gue."


"Trus, bagaimana selanjutnya hubungan lo dan kak Rasya Pur?" tanya Lisa.


"Gak ada apa-apa Lis."


"Loh gak nikah sama kak Rasya Pur?"


"Untuk apa menikah dengan orang yang sudah mencampakkan kita demi wanita lain. Harusnya jika kak Rasya bertanggung jawab dari dulu dia sudah mengatakan jika dia pernah perawanin gue Lis. Kalau saja gue gak hamil, gue pasti gak akan pernah tahu akan hal itu."


"Ya sudah Pur,yang mana baiknya untuk kamu saja."


Kring bel masuk sekolah pun berbunyi.


Puri berkonsentrasi untuk menjawa soal-soal ujian.


Setelah jam istirahat, Puri tak keluar dari kelas dia membaca-baca buku pelajaran sebelum masuk  jam ujian selanjutnya.


Lisa duduk di samping Puri dengan dua cemilan di meja mereka.


"Makan dulu Pur."


"Gue gak bisa makan Lis. Kalau makan pasti muntah."


"Duh gak enak banget ya Pur ngidam."


"Iya Lis, apalagi kalau kita ngidam anak dari lelaki yang kita benci."


"Lo benci sama kak Rasya Pur?"


"Benci banget!"


"Trus apa yang lo lakukan setelah melahirkan. Lo mau rawat anak Lo seorang diri tanpa suami?" tanya Lisa.


Puri berhenti membaca buku kemudian menoleh ke arah Lisa.


"Itu dia gue bingung Lis. Setelah melahirkan gue mau kemana? Gue punya anak, gak bisa kerja juga, kuliah juga gak bisa. Terus terang saja kalau harus menikah dengan kak Rasya lagi gue gak mau, Hiks hiks."


"Yah, loh kok nangis soh Pur. Padahal gue nggak bermaksud untuk membuat lo sedih Pur."


"Gue memang sedih aja Lus,apalagi di rumah nggak ada tempat gue untuk cerita. Rasanya rumah itu tak senyaman seperti dulu lagi."


"Ya udah lu sabar saja lah put setiap masalah pasti ada jalan penyelesaiannya," ucap Lisa sambil mengusap punggung Puri.


Setelah bel berbunyi mereka kembali melaksanakan ujian.


***


Rasya berada di kamarnya, mencoba untuk memejamkan mata yang sulit sekali untuk terpejam. Saat itu perasaannya masih tidak enak namun infus sudah terlepas di tangan Rasya.


Telepon berdering membuat Rasya membuka matanya.


"Halo," sapa Rasya lirih.


"Rasya Hiks Hiks. Kamu tahu nggak, Mommy dan Dedi mu sudah membatalkan pernikahan kita."


"Iya maafkan aku Sherly. Pernikahan kita harus batal."


"Hiks hiks, tidak Rasya, Aku tidak mau berpisah darimu. Jika pernikahan ini batal, lebih baik aku mati saja!" tangis Sherly.


"Jangan Sherly, Jangan lakukan itu."


"Terus untuk apa lagi aku hidup Rasya, aku sudah malu. Pernikahanku batal, pasti orang-orang akan mengejekku. Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup. Aku mau mati aja Rasya.


"Tenang kan dirimu Sherly. Jangan gegabah!"

__ADS_1


"Sudahlah Rasya, lihat saja mungkin besok aku gak akan ada lagi di dunia ini hiks, ini semua karena kamu Rasya!" Suara tangis Sherly.


"Sherly kamu jangan gegabah!"


"Tidak Rasya! Jika kamu tidak datang ke rumah ku saat ini, maka aku akan bunuh diri! Aku tunggu kau setengah jam dari sekarang, kebetulan rumah aku juga gak ada orang, jadi aku bebas melakukan apa saja!" 


"Tapi Sherly! Aku?!"


Seketika sambungan teleponnya terputus.


Sherly tersenyum menyeringai.


"Bagaimana Sherly kamu sudah berhasil memaksa Rasya untuk datang ke rumah kita?"


"Sudah Mami setengah jam lagi Rasya akan datang."


"Baiklah kalau begitu kita siap-siap."


Bu Rosa dan pak joko pun segera bereaksi.


***


Bram berada di kamarnya sedang bermain game online.


Permainannya harus terhenti karena sambungan telepon dari Rasya.


"Halo bro tumben mau nelpon gue?" tanya Bram.


"Bram, gue boleh minta tolong sama lo nggak Bram?"


"Minta tolong apa Bro?"


"Gua minta tolong, loh liatin keadaan Sherly. Katanya dia mau bunuh diri Bram. Gue nggak bisa temui dia karena gue lagi sakit."


"Ha Sherly bunuh diri? Emang kenapa bro dia mau bunuh diri."


"Mommy dan Deddy gue nggak suka sama Sherly. Jadi mereka memutuskan Untuk membatalkan rencana pernikahan kami."


"Aduh Bram, percaya nggak percaya deh. Lu temuin aja dia katanya di rumahnya nggak ada orang gue takut dia nekat beneran."


"Iya deh. Terus gue harus ngomong apa sama Sherly.


"Lu bujuk dia lah Bram, kasih pengertian ke dia."


"Ih males banget gue ngomong sama Sherly."


"Ya sudah lo  diam-diam saja, kalau dia nekat baru lo beraksi."


"Is, lo dan  Sherly itu sama-sama nggak jelas tau nggak, ya udah deh gue kesana."


Atas permintaan Rasya, Bram  pun menemui Sherly. 


Mobil Bram tiba di depan rumah Sherly.


Sherly mendengar suara mobil tiba. Dia pun memulai rencananya.


"Ih kok rumahnya sepi banget,"ucap Bram.


Rumah tersebut terlihat remang-remang karena ada sebagian lampu yang menyala dan sebagiannya mati.


Suasana komplek di rumah Sherly pun sepi.


"Ngeri juga gue masuk ke rumah orang kayak gini. Ntar gue dituduh mau merampok lagi.


Bram masuk karena pintu sudah terbuka.


"Assalamualaikum," ucap Bram.


Bram menghentikan langkah kakinya ketika dia berada di ruang tamu yang gelap.

__ADS_1


Tiba-tiba dia mendengar suara tangis dari lantai 2 samar-samar. Dan itu sepertinya suara tangis Sherly.


"Hiks hiks aku mau mati saja, Hiks hiks


"Sherly! Sherly gue masuk ya!" teriak Bram.


Tak Ada jawaban selain isak tangis.


Tak ingin terjadi sesuatu pada Sherly Bram pun langsung naik dan langsung masuk  ke kamar Sherly yang remang-remang itu.


Tiba-tiba Bram melihat Sherly yang hendak melakukan percobaan bunuh dirinya. Sherly seperti hendak melompat ke jendela. Karena mengira yang datang adalah Rasya.


"Hiks hiks lebih aku mati saja," ucap Sherly sambil mencoba untuk melompat pada jendela rumahnya.


"Sherly jangan!"


Bram berlari kemudian menarik tubuh Sherly hingga keduanya jatuh saling menindih.


Bruk…


"Bram ternyata elo?" dengus Sherly kesal ketika dia menyadari yang datang adalah Bram.


Sherly mengangkat tubuhnya yang menimpa tubuh Bram.


"Iya kenapa. Rasya nyuruh gue buat lihat keadaan loh."


"Loh ngapain si Sher, pakai acara mau bunuh diri lagi. Norak banget lu."


Sialan Bram  tahu rencana gue. Gue harus berakting agar dia lebih percaya kalau gue benar-benar putus asa dan ingin mengakhiri hidup,' batin Sherly.


"Hiks hiks Gue mau mati saja! Bram. Rasya tega  membatalkan pernikahan kami."


Sherly bangkit dan coba kembali naik ke jendela.


"Eh Sherly! Lo jangan bodoh cowok kan gak cuma Rasya doang."


Bram menahan tangan Sherly agar Sherly tak melompat ke jendela.


"Lepasin!" Sherly coba melompat tapi tubuhnya di tarik oleh Bram.


"Lepasin gue Bram!" Sherly meronta-ronta dia masih mencoba pura-pura untuk lompat ke jendela.


"Eh Sherly jangan nekat loh."Bram masih menahan tangan Sherly.


"Lepasin!"Sherly semakin kuat meronta dia masih mencoba untuk melakukan percobaan bunuh diri pura-pura nya otu agar Bram menceritakan pada Rasya betapa menderitanya dirinya saat itu 


Agar tak melakukan hal tersebut. Bram menarik tangan Sherly dan memeluknya dari belakang.


"Jangan…."


Seketika Lampu kamar Sherly menyala.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya salah seorang warga yang diketahui sebagai pak RT.


Bram kelabakan begitupun Sherly.


"Eh Pak, kami gak ngapa-ngapain kok," ucap Sherly.


"Berpelukan di kamar yang gelap di bilang tidak ngapa-ngapain?!


Seorang warga lain datang.


"Wah mereka mau berzina rupanya Pak! Kalau begitu kita seret saja mereka! Suruh mereka berdua menikah! Bisa bikin kotor kampung kita ini."


Sherly dan Bram kaget.


"Tapi pak kami hanya…"


"Sudah! Kalian sudah kepergok! daripada kalian berdua meresahkan lebih baik kalian berdua dinikahkan!" pungkas Pak RT.

__ADS_1


Mereka berdua pun ditarik warga dan di sidang di rumah RT karena sebentar lagi akan dinikahkan.


__ADS_2