Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Rumah Baru


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. 


Bram dan Sherly mendatangi rumah kedua orang tua Sherly.


"Assalamualaikum," ucap keduanya di depan pintu.


Seperti biasa kehadiran Bram selalu tak diterima oleh Bu Rosa.


"Ngapain kalian berdua ke sini?" tanya bu Rossa dengan ketus.


Bram dan Sherly terlihat santai, mereka langsung duduk di sofa ruang tamu.


"Mami, apa Mami nggak bisa bersikap baik pada Bram?" Tanya Sherly karena melihat tatapan Bu Rosa yang tak bersahabat pada Bram.


Bu Rosa duduk di sofa namun masih memalingkan wajahnya dari Bram.


Bram membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah amplop coklat tebal.


"Itu uang yang bisa Mami gunakan untuk membayar hutang-hutang mami," ucap Bram.


Bu Rossa menatap Bram dengan ragu.


"Iya Mami, Bram rela menjual mobilnya untuk membayar hutang-hutang mami," kata Sherly.


Bu Rosa membuka amplop seketika bola matanya berbinar melihat pecahan uang rp100.000. senyum menyeringai terbit di sudut bibir Bu Rosa.


"Aku rasa itu cukup kan Mami untuk membayar hutang mami?" tanya Sherly. 


" Cukup, cukup sekali."


"Baguslah kalau begitu. Setelah itu kami berdua memutuskan untuk pindah dari rumah ini Mami."


"Loh Sherly kenapa harus pindah? Rumah Ini kan sudah cukup untuk kalian berdua tinggali." tanya bu Rossa.


"Kami mau memulai membangun rumah tangga kami Mami. Aku sama Bram sudah menyewa rumah."


"Tapi Sherly," bu Rossa terlihat ragu.


"Gak apa-apa kok mami. Aku bisa jagain Sherly, mami gak usah khawatir, cepat atau lambat kami tetap akan meninggalkan rumah ini," kata Bram.


Bu Rosa terdiam.


"Ayo Bram, kita bereskan barang-barang kita," ajak Sherly.


Bram dan Sherly naik ke lantai atas. Kemudian kembali lagi setelah beberapa saat dengan membawa tas dan koper.


Bola mata bu Rosa berembun.


"Sherly, jangan pindah Sher! Kalau kamu pergi, siapa yang  menemani Mami di rumah ini."


"Tenang saja Mi. Nanti aku sering-sering datang ke rumah ini kok." 


"Aku pergi dulu ya Mi," ucap Sherly sambil mencium punggung tangan Bu Rosa.


"Aku juga pergi Mi." Bram mencium tangan bu Rosa untuk yang pertama kalinya.


"Bilang Papi kalau aku udah pindah ya Mi, nanti aku sering-sering datang kemari lagi," ucap Sherly.


Bu Rosa tak bisa berkata-kata, anak kesayangan kini pergi meningkatkannya


Mereka berdua pun perlahan menghilang di balik pintu.


"Hiks, Sherly," ucap bu Rosa sambil meneteskan air matanya.


Bu Rosa menghampiri teras rumah dan melihat Sherly dan Bram memasukkan barang-barang ke dalam mobil dan benar saja, Bram tak lagi menggunakan mobilnya seperti biasa.


Setelah mereka pergi, barulah bu Rosa merasakan kehilangan. Dilihatnya amplop yang berisi uang tersebut. Ada rasa bersalah di hatinya terhadap Bram. Karena dirinya selalu menghina sang menantu yang membuat putrinya pun pergi meninggalkan rumah ini.


"Hiks Sherly. Kenapa kamu pergi dari rumah ini Nak. Mami jadi kesepian," tutur bu Rosa sambil meneteskan air matanya.


***


Sherly menyandarkan kepalanya di pundak Bram sementara Bram mengusap kepala Sherly. Tangan mereka saling menggenggam.


Sherly tersenyum bahagia, karena seperti terlepas dari tekanan berat yang menghimpit tubuhnya.


"Bram thanks ya, lo mau berkorban dengan menjual mobil lo untuk bayar hutang mami dan papi."

__ADS_1


'Iya Sayang gak usah di pikirkan,yang penting sekarang kamu gak merasa tertekan lagi, biar kita bisa menikmati hidup kita jadi lebih baik," ucap Bram.


"Iya aku jadi lega meninggalkan mami dan papi."


"Tapi kamu kerja pakai apa Bram?"


"Untuk sementara aku pakai motor dulu. Aku pikir dengan pakai  motor biaya akan lebih irit. Aku juga sempat kepikiran setelah pulang kerja, aku bakalan cari sampingan jadi driver ojek online, lumayan untuk tambahan."


"Ya Bram, kalau kamu kerja terus, kapan punya waktu buat aku?" tanya Sherly dengan bibir yang cemberut.


Bram tersenyum. "Yah Yang, aku juga kerja untuk kamu Kok. Nanti uangnya aku berikan pada kamu kok," ucap Bram.


"Ehm tapi kan aku juga butuh kamu Bram, bukan sekedar uang mu," sahut Sherly.


Bram tersenyum," Ah yang bener? Berarti istri ku gak Matre lagi ya?"  tanya Bram sambil tersenyum.


"Masih dikit," sahut Sherly sambil tersenyum simpul.


"Bram merangkul Sherly membawa dalam pelukannya lebih dalam lagi. Keduanya merasakan kebahagiaan yang tiada tara ketika benih benih cinta itu mulai mekar dan bersemi.


***


Bram dan Sherly pun tiba di rumah kontrakan mereka. Setelah menurunkan barang-barang mereka pun berberes rumah dan peralatan rumah tangga. Karena Sherly tak biasa mengerjakan pekerjaan rumah, jadi kebanyakan pekerjaan rumah itu dilakukan oleh Bram. Bram membersihkan seluruh area rumah dari dalam hingga keluar rumah dari siang hingga malam hari. Pekerjaan bersih-bersih itu pun selesai setelah jam 08.00 malam.


Aduh capek juga ya hari ini, keluh Bram sambil membuka pakaiannya, seluruh tubuhnya basah oleh keringat.


Bram melakukan pendinginan tubuhnya selama beberapa saat kemudian masuk ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Bram keluar dengan menggunakan handuk sepinggang menampakkan perut sixpacknya serta dada bidang yang sedikit basah. Wajahnya pun lebih segar dan tampan.


Bram masuk ke dalam kamarnya dan kaget melihat Sherly sedang meliuk liukan tubuhnya sambil menatap layar handphone..


"Yang kok kamu seperti kucing betina yang pengen kawin sih?" tanya Bram.


"Emang lagi pengen kawin," balas Sherly dengan bola mata yang berbinar.


Sherly menatap Bram, dari atas sampai bawah kemudian menggigit bibirnya.


Bram menelan salivanya.


'Kok bini gue kalau lagi konak gitu jadi keliatan seram ya, bukanya nafsu, malah bikin gue takut,' batin Bram.


Sherly tersenyum mesum sambil mengedip ngedipkan matanya.


Bukannya berhasrat, Bram jadi semakin ragu untuk mendekat.


"Ya Allah, apa istri gue kerasukan ya, maklum saja rumah ini kan lama kosong," gumam Bram sambil mengedarkan pandangannya.


Karena tak biasanya Sherly bersikap binal seperti itu 


"Bram sini dong," pinta Sherly dengan nada manja.


Sherly melambaikan tangannya ke arah Bram kemudian memonyongkan bibirnya minta Bram menciumnya.


Bram kembali menelan salivanya.


"Eh iya Yang, kalau minta jatah jangan gitu dong, serem atuh Yang. Gak biasanya kamu seperti ini," ucap Bram.


"Ih namanya juga suasana baru. Sini Yang cepat udah gak tahan nih," ucap Sherly sambil menggigit bibirnya.


Bram perlahan melangkah.


'Bismillahirrahmanirrahim, hey kalau kau setan yang menyerupai istriku sebaiknya kau pergi!"  Usir Bram sambil mengibas-ngibasjan tanganya, ia pun memejamkan matanya melangkah sambil membaca ayat kursi.


Ketika ayat akursi selesai dibacakan Bram mendarat bokongnya sambil mengintip, berharap setan yang menyerupai istrinya itu sudah kabur.


Bram kager karena melihat Sherly sudah membuka sebagai pakaiannya 


"Hah kok setan nya gak pergi sih? Malah makin berani, padahal sudah baca ayat, kursi," guman Bram sedikit kaget.


"Ih, istri sendiri di bilang setan," dengus Sherly.


Sherly pun membuka seluruh penutup tubuhnya tanpa diminta.


Wajah Bram jadi pucat. Mungkin karena kelelahan dan dehidrasi Bram jadi berhalusinasi.


"Yang kamu bukan setan kan?" tanya Bram dengan bibir gemetar.

__ADS_1


"Is bukan lah, setan moyang loh? " sahut Sherly.


Sherly yang sudah tak bisa menahan hasratnya langsung menarik handuk Bram kemudian mendorong tubuh Bram hingga terlentang di atas tempat tidur.


Bram menutupi matanya dengan tubuh genetar, dia hanya bisa pasrah saat Sherly memasukan senjatanya pada liang kenikmatan sang istri.


Saat benda tumpul itu terbenam seluruhnya Bram mulai merasa sensasi nikmat yang luar biasa.


Bram membuka matanya.


"Iya ternyata beneran istri ku, rasanya sama," ucap Bram yang kemudian menikmatinya permainan sang istri, Setelah cukup lama memimpin permainan Sherly mulai kelelahan.


Bram kemudian mengambil alih permainan. Ranjang yang mereka kenakan berantakan. Karena berganti-ganti posisi. 


Ronde pertama pun selesai dalam waktu setengah jam. 


Bram yang memang sebelumnya merasa lelah ,itu langsung menghempaskan tubuhnya di samping tubuh sang istri setelah menembak benihnya.


"Hua hua, capek banget," ucap Bram. Beberapa menit mengatur nafas. Bram menoleh ke arah Sherly yang menyentuh senjatanya sambil tersenyum mesum.


"Sekali lagi ya Bram," pinta Sherly dengan nada nanja 


Gleg Bram menelan salivanya. 'Sudah setengah jam, belum ouas juga,' keluh Bram membatin.


Sherly kembali mengedip-ngedipkan matanya.


"Hah, tapi gue cap…" 


Belum selesai Bram bicara, Sherly sudah bergerak kembali memimpin permainan, bahkan senjata Bram yang terkulai di paksa untuk kembali tegak berdiri untuk bisa masuk ke celah sempit itu lagi.


Ranjang itu kembali berguncang, Sherly benar-benar melampias hasratnya, karena selama tinggal di rumah orang tua mereka, dia tak merasa leluasa bercinta karena selalu di awasi kedu orang tuanya.


Sherly melengkuh dengan suara yang kencang.


Akh! Ehm ! Esk ! Enak banget Bram!


"Hus diam Yang. Nanti tetangga denger," ucap Bram dengan suara yang bergetar karena sedang di pompa Sherly.


Masa bodoh! Sherly terus melakukan gerakan di atas tubuh Bram sampai dia benar-benar mencapai puncak kenikmatan.


Akh! Lengkuhnya panjang.


Sherly merebahkan tubuhnya di samping Bram.


 Kemudian ia tertidur pulas setelah menggauli suaminya yang tak berdaya.


Bram menoleh ke arah Sherly sambil mengatur nafas karena kelelahan.


"Ya dia enak tidur, gak beresin rumah, minta jatah paskai istilah nambah lagi tuh. Duh capek banget deh hari ini," keluh Bram.


Setelah nafasnya teratur Bram memiringkan tubuhnya memeluk Sherly, tak lama kemudian dia pun tertidur lelap kembali.


***


Bram tersadar karena gerakan Sherly yang tiba-tiba.


Sherly bangkit Kemudian menyibak selimut. Tanpa sempat menggunakan pakaian, Sherly langsung berlari menuju kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Sherly langsung muntah-muntah.


Bram menghampiri Sherly kemudian memakainya handuk untuk menutupi tubuh bugil istrinya.


Uek uek, Sherly terus saja muntah-muntah. Bram memijit t tengkuk Sherly.


"Sayang kamu kenapa sih?" tanya Bram.


"Gak tau Bram, tiba-tiba saja perut gue bergejolak dan pengen muntah."


"Ehm, ya udah yuk kamu istirahat lagi. Nanti biar aku pijit dan di kerok. Besok pagi baru kita periksa ke dokter." 


"Iya Bram."


Sherly berbaring tengkurap di atas tempat tidur. Setelah di pijit Bram Sherly pun tertidur lelap.


Hm, kira-kira Sherly kenapa ya reader. Maaf ya beberapa hari ini gak up. Doa in ya semoga author bisa up banyak-banyak biar cepat selesai ceritanya ,🙏😁


 

__ADS_1


 


__ADS_2