
Setibanya di kamar Bram langsung mengunci pintunya.
Sementara Sherly duduk diatas tempat tidur. Dia sendiri masih syok dengan statusnya saat ini yang sudah resmi menjadi istri Bram. Bahkan Bram dan Sherly sudah terlibat perang dingin selama berapa tahun ini.
"Mau ngapain lo Bram, pakai kunci pintu segala?" tanya Sherly sambil bersedekap.
"Ya mau ML lah. Ini kan malam pertama kita," sahut Bram sambil membuka hoodienya.
"Gak mau lah gue. Kalau lo mau nyentuh gue, lo harus menafkahi gue dulu."
"Iya lah, nanti gue cari kerja."
"Kalau gitu ML nya nanti saja ya, tunggu loh udah ada duit!"
"Yah kok gitu sih? Bukanya tadi udah gue DP in Yang?"
"Dp, Dp pala' lo, pokoknya gue gak mau disentuh sebelum kita sepakat."
"Sepakat apa?"
"Sepakat dong. Lo mau beri berapa duit untuk gue sebulan?"
"Ya semampu gue lah," sahut Bram.
"Enak saja loh semampu lo! Klau se mampunya loh cuma lima puluh ribu sebulan bagaimana?!"tanya Sherly.
"Gak mungkin lah gue cuma kasih lo lima puluh ribu sebulan. Gile aja lo."
Sherly mendengus kesal.
'Kamu maunya berapa?" tanya Bram.
"Bentar aku perinci dulu."
"Skincare aku sebulan satu koma lima juta, uang jajan aku seratus ribu perhari, trus apa lagi ya…? Ehm pokoknya aku minta kamu nafkahin aku enam juta perbulan!
Meski Bram playboy dan nakal, tapi dia terlahir dari keluarga yang taat. Karena itu dia banyak tahu aturan-aturan dalam agama.Bram pun tagu tentang kewajiban menjadi suami istri, karena itu lah dia sering menasehati Rasya.
"Enam juta?!
"Iya Enam juta, itu cuma untuk gue belum untuk nyokap gue dan makan gue di rumah!"
Bram memutar bola mata malasnya.
"Aduh ternyata dimana-mana sama aja ya, kalau DP nya murah, bulanannya pasti mahal." Gumam Bram.
"Siapa suruh loh kasi mahar gue sembilan belas ribu hah ?!" teriak Sherly.
"Ih aku cuma punya uang segitu. Lagi pula mereka gak kasih kesempatan aku buat pulang," sahut Bram.
"Bodo amat!"
"Mahal banget Yang. Bisa nawar ngak?"
Sherly tersenyum miring.
"Oh bisa kok, kalau kamu kasi aku kurang dari segitu, ya servis semi saja ya," jawab Sherly bernada sinis.
"Ya udah deh. Ntar saja ML nya tunggu bulan depan saja, besok gue cari kerja dulu,"sahut Bram.
"Terserah."
Sherly kemudian berbaring di atas tempat tidur sambil membelakangi Bram.
Bram membuka pakaiannya, kaos dan jeans dan hanya menyisakan celana boxernya.
Setelah itu dia pun berbaring di atas tempat tidur bersama Sherly.
"Ser, bagi selimutnya dong." Bram menarik selimut Sherly.
Sementara Pak Joko dan bu Rosa mendengar pembicaraan keduanya.
"Tuh Papi, Sherly pintar banget, dia gak mau di sentuh Bram. Itu bearti anak kita aman, besok kita suruh saja Bram menceraikan Sherly, supaya kita bisa mencarikan Sherly jodoh pria yang tajir lagi."
"Iya Mami, besok pagi kita usir saja tuh si Bram dan suruh bram menceraikannya Sherly. Ayo kita tidur. Mereka berdua juga sudah aman."
Pak Joko dan bu Rosa kembali ke kamarnya.
***
Malam semakin larut.
__ADS_1
Bram dan Sherly sama-sama merasa gelisah.
Bagaimana pun Bram adalah pria yang normal. Jika sudah tidur bersama dengan seorang wanita, apalagi sudah halal naluri ke lelakinya pun muncul.
Begitupun Sherly, meski tak mencintai Bram, sebagai seorang manusia yang memiliki syahwat, tentu ada perasaan gelisah di hatinya.
Sherly pun jadi lebih banyak bergerak di atas tempat tidur.
"Sherly! Lo kok sepertinya gelisah banget?" tanya Bram.
"Iya dong. Gue gak bisa tidur, takut lo macam-macam sama gue."
"Ih ngapain lo takut. Kan kita sudah jadi suami istri."
Keadaan hening beberapa saat.
"Sherly."
"Apaan sih Bram?"
"Dosa lo nolak suami."
"Huh biarin, lo juga dosa gak memberikan gue nafkah!"
"Ya, kitakan baru nikah. Besok gue akan cari kerja, nanti gaji gue gue serahkan sama elo semua. Paling gue ambil untuk bensin ama rokok doang."
"Ah loh mau kerja apa Bram. Cari kerja gak gampang."
"Iya tapikan gue usaha."
"Ya sudah usaha dulu lah, baru minta jatah,."
Sherly menarik selimutnya semakin tinggi.
Bram melirik ke arah Sherly. Saat itu senjata miliknya tegak berdiri. Padahal sebelumnya dia tak pernah berhasrat sama sekali pada Sherly, ya meskipun Sherly itu cantik dan seksi.
Bram membalikkan tubuhnya menghadap Sherly yang membelakangi sejak tadi.
Bram memeluk Sherly dari arah belakang.
Seketika jantung Sherly berdetak dengan kencang.
Hembuskan napas Bram hangat menyapu bagian telinganya, dari jarak sedekat ini Sherly bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Bram yang begitu lembut.
Bram semakin berani karena Sherly hanya diam saja tak bereaksi.
Bram menyusupkan tanganya pada belahan dada Sherly.
Sherly menggigit bibirnya, karena merasakan sentuhan lembut dari Bram.
Tangan Bram mulai bermain di ujung puncak bukit Sherly sambil mencium ceruk leher Sherly,membuat darah Sherly berdesir. Bahkan Bram meninggal jejak-jejak kepemilikan di leher Sherly.
Di berikan sentuhan memabukkan itu Sherly merasa tak mampu menolak.
Bram membalikkan tubuh Sherly hingga terlentang agar dia mudah mengeksploitasi tubuh istrinya itu.
Seperti bayi Bram mulai bereaksi di bagian dada Sherly lidahnya mengeksplor dan menggigit gigitnya pelan membuat Sherly mengelinjang.
Akh! Lenguh Sherly.
Bibirnya yang seksi itu langsung di sambar oleh Bram.
Kedua bibir mereka pun saling bertaut. Hasrat kedua insan itu tak mampu lagi terbendung, bahkan mereka lupa jika mereka sebelumnya mereka adalah musuh berbuyutan.
**
Akh! teriak Sherly ketika dinding suci miliknya berhasil dibobol oleh Bram.
Meskipun awalnya merasa sakit perlahan Sherly begitu menikmati penyatuan mereka.
Begitupun dengan Bram, dia merasa beruntung memiliki istri yang menjaga kesuciannya.
Gerakan Bram semakin cepat membuat tubuh Sherlby berguncang-guncang.
Matanya merem-melek menikmati penyatuannya itu.
"Ouh! Lebih cepat Bram!" lenguh Sherly.
Seperti kuda jantan yang gagah perkasa Bram terus memacu kecepatannya keluar masuk di dalam goa licin, sempit dan hangat itu.
Membuat Sherly terbang tinggi menuju puncak tertinggi. Tubuh Sherly bergetar ketika merasakan gelombang dahsyat yang sebentar lagi mencapai puncaknya.
__ADS_1
Satu hentakan terakhir Bram mampu membuat sekujur Sherly bergetar merasakan nikmat hingga ke ubun-ubun.
Akh! Lenguh keduanya sambil merem melek menikmati sisa-sisa pelepasan.
Bram merebahkan tubuhnya diatas tubuh Sherly dengan tubuh yang berkeringat.
Cup satu kecupan Bram mendarat di kening Sherly.
"Terima kasih ya Sherly, atas servisnya. Aku janji akan berusaha membahagiakan kamu," ucap Bram kemudian dia menumbangkan tubuhnya di samping Sherly.
"Janji ya Bram."
"Iya Janji."
Bram memeluk Sherly sambil mencium keningnya. Keduanya pun saling melempar senyum puas.
Setelah mengatur nafas dan mendinginkan suhu tubuhnya mereka pun tertidur dalam keadaan tanpa busana.
Bram membukakan matanya karena merasakan gumpalan kenyal menyentuh bagian dadanya, Bram memeluk Sherly karena cuaca ssat itu begitu dingin. Seketika senjata Bram kembali tegak berdiri.
Tanpa permisi Bram kembali melakukan penyatuan mereka. Sherly terbangun karena merasakan sesak dan nikmat pada bagian bawah tubuhnya.
Matanya merem melek menikmati serangan fajar di waktu mendekati fajar tersebut.
Durasi ronde keduanya cukup lama hampir satu jam. Membuat keduanya semakin metasa puas sekaligus lelah. Setelah pertempuran kedua itu keduanya kembali tertidur.
***
Sherly dan Bram masih berada dalam selimut tanpa sehelai benang pun.
Suhu yang dingin membuat pelukan keduanya semakin erat.
Pak Joko dan bu Rosa menghampiri kamar Sherly.
Mereka bermaksud untuk mengusir Bram dan meminta Bram menceraikan Sherly.
Tok tok tok
Pintu digedor dengan keras dan tak berhenti.
Sherly dan Bram terpaksa membuka matanya.
"Siapa Yang?" tanya Bram.
"Mami kali."
"Ngapain sih gedor-gedor pintu kencang banget," keluh Bram sambil turun dari tempat tidurnya kemudian memakai pakaiannya.
Begitu pun dengan Sherly.
Tok tok tok.
"Sherly! Bagun Sherly!" teriak bu Rosa.
"Iya bentar mami!"
Sherly menggunakan tank top dan hot pantnya.
Dia pun membuka pintu tanpa mencuci wajahnya terlebih dahulu.
Kreak
Seketika bola mata bu Rosa dan pak Joko terbelalak melihat jejak-jejak kepemilikan di leher dan dada Sherly.
"Sherly!" teriak Bu Rosa.
"Ih kenapa sih Mami teriak-teriak begitu?" tanya Sherly sambil menguap.
"Jadi kamu dan Bram sudah….?"
"Sudah apa mami?" tanya Sherly sambil mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk
Bu Rossa tak sanggup berkata-kata di hanya menunjuk bagian dada Sherly yang di penuhi jejak kepemilikan.
Sherly menoleh ke bagian dadanya.
"Hehe, iya mami. Habisnya gak kuat nahan sih," jawab Sherly sambil tersipu-sipu.
Seketika pandangan bu Rosa kembali gelap, dia pun pingsan.
"Eh Mami!"
__ADS_1
bersambung dulu ya reader, kira-kira apa reaksi Rasya kalau tau Bram dan Sherly menikah ya