
Pagi hari yang cerah, matahari bersinar terang di pagi ini, secerah wajah Puri karena sudah dua hari dia tidak merasakan mual dan pusing lagi.
Puri menyisir rambutnya, memasang jepit rambut dan mengikat rambutnya seperti ekor kuda membuat wajahnya semakin cute.
Puri merasa bahagia karena dia bisa bersekolah lagi dan bisa bertemu teman-temannya terutama Lisa dan Keenan.
Selama beberapa hari ini, Keenan lah yang paling sering menghubunginya. Karena itu ia tidak terlalu bosan berada di rumah.
Seperti biasa, sebelum berangkat sekolah Puri sarapan bersama kedua orang tua angkatnya.
"Puri kamu sudah sehat nak?"tanya Bu Mita.
"Alhamdulillah sudah mommy, Puri minum obat lambung yang diberikan oleh dokter Mira."
"Ya syukur kalau gitu, jangan makan pedas lagi ya. Ingat kamu pernah menderita penyakit tukak lambung. Mommy, nggak mau sampai terjadi sesuatu pada kamu."
"Iya Mommy Puri kapok."
"Ya sudah, biar kamu enggak jajan sembarangan Mommy sudah meminta bi Inem menyiapkan bekal makan siang kamu."
Puri tersenyum sambil menatap bu Mita. Wanita itu begitu perhatian terhadapnya.
Selesai sarapan Puri diantar oleh sopir pribadinya. Bu Mita bahkan mempekerjakan seorang sopir untuk mengantar Puri ke mana saja dia pergi.
Puri tiba di sekolah. Kedatangannya disambut dengan wajah pucat Lisa.
Lisa terlihat gugup dan panik ketika berhadapan dengan Puri.
"Lo kenapa sih Lis?" Tanya Puri heran ketika Lisa menghampirinya di mobil.
"Ehm, anu Pur, lo baca pesan di grup?" tanya Lisa.
"Pesan di group?"
Puri membuka ranselnya kemudian mengambil handphonenya.
Dia membuka pesan grup kelasnya.
Seketika bola mata Puri membelalak membulat sempurna, sesak terasa di dada Puri, seketika air matanya tumpah.
"Sabar ya Pur," ucap Lisa sambil mengusap punggung Puri.
"Siapa yang tega memfitnah gue Lis?" tanya Puri.
__ADS_1
"Gue gak tahu. Pas gue tiba di kelas, beberapa siswa sedang membicarakan tentang loh Pur."
"Hiks hiks, mungkin karena gue muntah-muntah kemaren di kelas, jadi mereka pikir gue ngidam Lis," tutur Puri sambil menangis.
"Iya Pur, tapi lu nggak usah nangis. Ntar mereka pikir lo beneran hamil lagi."
"Gimana gua nggak nangis, gue difitnah sekejam itu, sakit hati gue Lis. Gua pasti malu sama temen-temen yang lainnya. Terutama sama Keenan Hiks."
"Iya Pur gue ngerti perasaan lo. Lu tenang saja ,ada gue kok yang selalu bersama lo. Ayo kita masuk, jangan takut Pur. Kita lawan mereka," ucap Iisa sambil mengusap punggung Puri.
Ketika mereka hendak melangkah, Keenan datang menghampiri Puri.
Puri menatap Keenan dengan tatapan berembun.
"Ayo Pur, biar saja mereka bilang apa. Gue percaya kok sama lo," ucap Keenan sambil meraih tangan Puri.
Keenan menggenggam tangan Puri, mereka bertiga berjalan beriringan.lisa dan Keenan seolah jadi tameng yang akan melindungi Puri.
Masuk ke gerbang sekolah, mereka melewati gerombolan siswa-siswi Yang sepertinya memang menanti kehadiran Puri.
Tatapan sinis mengarah ke arah Puri dan Keenan.
"Masih berani datang ke sekolah lu Pur, nggak tahu malu banget ya. Muka saja polos, tapi kelakuannya."
"Iya, aku tahu siapa Puri. Puri itu anak baik-baik tahu," sahut Lisa
Xena, Aura dan Gisel memutar bola mata malasnya.
"Baiklah, gue nggak asal ngomong doang kok," sahut Xena.
"Kalau nggak percaya kita buktiin!"
Mereka bertiga menantang Puri.
Kering…. bell sekolah berbunyi.
"Kita tunggu lo di jam istirahat," tantang mereka bertiga.
"Yang sabar ya Pur," ucap Lisa.
Puri, Lisa dan Keenan berjalan menghampiri kelas. Setelah tiba di kelas mereka, Keenan kembali ke kelasnya.
Puri dan Lisa belajar seperti biasa, walaupun banyak pasang mata yang menoleh ke arah Puri.
__ADS_1
Jam istirahat pun tiba. Puri ternyata sudah ditunggu oleh Xena, Aura dan juga Gisel.
"Ayo Pur! Lo ikut kita!" Ajak Xena sambil menarik tangan Puri.
Sementara Aura dan Gisel menghadang Lisa.
Puri sengaja ditarik menuju toilet.
Semua siswa-siswi memandang Puri dan Xena, mereka mengikuti Puri hingga ke toilet.
Puri sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Xena terhadapnya.
Tiba di toilet wanita. Xena mengeluarkan sesuatu.
"Gue dibilang fitnah sama mereka, sekarang kita buktikan kebenarannya."
"Lo gunakan alat tes ini, untuk membuktikan jika lo itu gak hamil!"
"Xena!" Teriak Keenan yang baru saja tiba.
Xena dan Puri langsung menoleh ke arah Keenan.
"Kenapa?! lo takut, aib cewek lo terbongkar?!" tanya Xena sambil bersedekap.
"Gak apa Keenan, gue akan buktikan apa yang dikatakan oleh Xena itu tidak benar." Dengan percaya diri Puri mengambil alat tes itu dari tangan Xena.
Puri memang ingin membuktikan jika dirinya tak seperti apa yang dituduhkan oleh Xena dan teman-temannya.
Xena tersenyum menyeringai. Mereka pun menunggu dan rela berkumpul di toilet tersebut.
***
Puri masuk kedalam toilet kemudian membaca cara pakai alat tersebut.
Dia pun melakukan tes itu.
Beberapa saat kemudian alat tersebut mulai bereaksi.
Seketika bola mata Puri membelalak dengan sempurna ketika melihat alat tes pack tersebut menunjukkan garis dua berwarna merah dengan jelas.
"Hiks, aku hamil?"
Bersambung gengs, ijin cuti gak update dua hari boleh gak 🤣🤣🤣
__ADS_1