Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Perundungan


__ADS_3

"Rasya! Bram kalian Kenapa berpelukan dan berdua-duaan?"tanya Bu Mita dengan bola mata yang mendelik.


Rasya dan Bram yang kaget langsung melepaskan pelukan mereka.


"Ngapain kalian berdua berpelukan?" Tanya Bu Mita sekali lagi.


"Oh nggak apa-apa kok Mommy, jangan salah paham dulu lah, kita berdua kan sama-sama bahagia."


Bu Mita menaikan satu alisnya.


"Bahagia kenapa?" tanya Bu Mita.


Bram dan Rasya saling melempar senyum.


"Mommy gak ucapin selamat kepada Bram?" tanya Bram.


'Kamu ulang tahun Bram?" tanya bu Mita.


Bram tersenyum. "Gak kok Tante."


"Trus ucapan selamat untuk apa?" tanya Bu Mita.


"Bram sudah menikah mommy."


"Menikah kok nggak ngundang tante sih Bram."


"Coba deh Mommy, terka Siapa yang jadi istri Bram."


"Siapa?" tanya Bu Mita.


"Si Sherly Mommy," sahut Rasya.


"Hah, Sherly?! Kok bisa?"


'Ih panjang ceritanya," sahud Rasya lagi.


"Trus kamu bahagia dengan pernikahan Bram?' Tanya bu Mita pada Rasya.


"Bahagia dong Mommy. Bram itukan sahabat aku," jawab Rasya sambil menepuk pundak Bram.


Bu Mita tersenyum. 'Baguslah semoga ini bukan sandiwara mereka berdua. Aku awasi mereka, jangan sampai Rasya balikan sama Sherly dan menyakiti Puri. Aku gak mau Puri ngambek dan membawa cucu ku kabur,' batin Bu Mita.


Setelah menerima pekerjaan dari Rasya, hari itu juga Bram menjalani training.


***


Di dalam kelas Puri menyimak baik-baik penuturan guru kelasnya, dia belajar dengan sungguh-sungguh.


Kring bel istirahat berbunyi.


"Baiklah setelah istirahat kita lanjutkan pembahasannya," kata ibu guru pun merapikan meja dan keluar dari ruangan.


"Istirahat kita kemana nih?" tanya Puri sambil merapikan buku-bukunya.


" Makan bakso yuk, aku sudah ajak Keenan juga. Tapi lo yang traktir ya," ucap Lisa sambil menoleh ke arah Puri.


"Iya tenang saja."


Lisa mengamati leher Puri yang sedikit terbuka karena gerakan peregangan di lehernya. Dilihatnya ada tanda kemerahan dengan bentuk tak beraturan di ceruk leher Puri.


"Pur, itu apa? Loh digigit serangga ya?" tanya Lisa sambil membuka kerah kemeja Puri.


Puri kaget langsung menutup kerah kemeja kembali.

__ADS_1


"Ehm itu bukan di gigit serangga Lis, tapi di gigit drakula," jawab Puri sambil tersenyum.


"Hah, yang bener saja loh Pur, mana ada drakula di zaman modern seperti ini."


Lisa mengamati dan membuka kemeja Puri. Begitu banyak tanda jejak kepemilikan yang diberikan Rasya.


"Lah, Pur ternyata banyak, ck ck ck. Lo nggak sakit Pur, memar-memar gitu?" tanya Lisa heran.


Puri mengulum senyumnya." Gak dong," jawab Puri sambil mengulum senyumnya lagi melihat kepolisian Rasya.


Jika saja dia tak mengalami sendiri, dia juga pasti tidak tahu sama seperti Lisa.


'Biarlah Lisa, polos seperti apa adanya, belum waktunya dia tahu,' batin Puri.


Meski Lisa adalah sahabat baiknya dan segala sesuatu pasti dia cerita pada Lisa. Namun, untuk hubungan suami-istri Puri tak pernah bercerita apa pun. Dan enggan menceritakan urusan ranjangnya kepada sang sahabat.


"Eh, katanya mau makan bakso! Kok masih di kelas?" tanya Keenan yang datang menghampiri Lisa dan Puri.


"Ayo Pur, tapi lo ngak usah muntah-muntah lagi ya."


"Semoga saja Ya."


Lisa, Puri dan Keenan berjalan beriringan melewati koridor sambil berbincang dan bercanda 


Mereka bertiga terlihat menikmati persahabatan mereka.


"Eh liat tuh si Keenan, maunya jalan sama Puri  ya," ucap Gisel.


"Iya juga ya, apa Puri berselingkuh dengan Keenan? Katanya kan Puri dan suaminya sudah berpisah?" Ucap Xena pada dua rekannya, Aura dan Gisel.


"Mungkin, gue pernah denger kalo hasrat wanita hamil  itu besar, dan gue rasa si Keenan jadi tempat pelampiasan hasratnya si Puri tuh," sahut Gisel.


"Gila aja ya, pantesan aja meskipun Puri itu bunting, si Keenan tetap saja mau dekat-dekat sama dia." Xena mencebikkan bibirnya.


"Makin kesel gue sama dia tuh. Bagaimana kalau kita kerjakan Puri habis-habisan, kita bikin malu saja dia. Biar gak ada yang mau temenan sama dia lagi," sahut Aura.


"Gue ada," sahut Gisel sambil tersenyum miring.


"Apaan tuh?"


Mereka bertiga pun berbisik-bisik.


"Oke, pastikan kali ini rencana kita berhasil, seperti yang sudah-sudah."


Ketiga remaja putri itu tersenyum licik.


***


Kring…tak terasa jam pelajaran sudah usai. Para siswa dan siswi bergegas membereskan buku-buku mereka yang berada di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas.


"Puri!" Ibu guru memanggil Puri.


"Iya ada apa Bu?"


"Kamu ke kantor sebentar ya, setelah pulang sekolah nanti. Ada yang ingin Ibu bicarakan tentang beasiswa kamu."


"Oh iya Bu."


Bu Ratna keluar dari kelas diikuti para siswa-siswi lainnya.


"Eh Lis, lu pulang aja duluan gue mau ke ruang guru."


"Lu nggak mau ditemani."

__ADS_1


"Nggak usah, ntar bentar lagi juga Kak Rasya jemput gue."


"Oke, gue pulang duluan ya soalnya mau bantu nyokap gue jualan."


"Oke." Puri mengacungkan jempolnya ke arah Lisa.


Puri berjalan melewati koridor menuju ruang guru.


Karena kelas Puri berada di paling ujung dia pun harus memutar untuk sampai ke ruang guru.


Sebenarnya Puri bisa saja memotong Jalan melewati lapangan terbuka. Namun karena cuaca saat itu sedang terik, dia lebih memilih berjalan melewati koridor agar tidak panas meski harus memutar bangunan gedung sekolahnya.


Para siswa berlari-lari mereka seperti anak ayam yang lepas dari kurungannya. Saking bahagianya ketika pelajaran sekolah usai.


Ketika tiba di pertigaan koridor, Puri bermaksud untuk ke toilet. Maklum saja karena kehamilan yang mulai memasuki usia tiga bulan. Akhir-akhir ini Puri memang lebih sering pipis, mungkin karena peregangan rahimnya akibat pertumbuhan sang janin.


Puri masuk ke dalam toilet. Dia tidak menyadari jika tiga cewek badung itu tengah mengawasinya.


"Eh, Puri masuk ke toilet tuh. Sepertinya rencananya kita lakukan sekarang saja, mumpung sekolah sepi," usul Xena.


"Oke deh."


Puri masuk kedalam toilet karena tas ransel yang dibawanya begitu berat. Puri melepaskan ranselnya sejenak di meja wastafel yang cukup besar.


Kemudian dia mencuci wajahnya agar lebih segar. Setelah itu Puri masuk kedalam toilet untuk buang air kecil.


Ketika keluar dari toilet Puri melihat pintu toilet tertutup dengan rapat. Dia pun melirik ke arah meja panjang wastafel yang terdapat cermin besar. Padahal tidak sampai lima menit dia tinggalkan.


"Oh dimana tas gue."


Puri segera menuju pintu toilet dan coba membukanya. 


"Hah, terkunci." Puri langsung panik, dia berteriak dan coba untuk menggedor-gedor pintu.


"Tolong! Tolong!" teriak Puri kencang.


Sambil menggedor-gedor pintu.


Tapi keadaan hening.


***


 Rasya berada di dalam mobilnya bermaksud untuk menjemput Puri.


Treat, handphone Rasya bergetar


"Halo mommy," sapa Rasya.


"Rasya, kamu gak usah jemput puri sekarang."


"Loh kenapa mommy?"


"Puri tadi kirim pesan katanya hari ini dia ikut tes dalam pemilihan beasiswa dan kemungkinan akan pulang terlambat," ucap bu Mita di sambungan teleponnya.


"Oh, ya sudah. Ini juga aku baru di mobil Mommy. Lupa jadwal jemput Puri."


"Ya sudah Rasya, nanti katanya kalau sudah selesai tesnya, Puri akan hubungi kamu lagi," ucap bu Mita.


"Oke lah kalau begitu."


***


"Hiks hiks buka pintunya!" tangis Puri, sudah berjam-jam dia terkunci di ruangan tersebut.

__ADS_1


Puri melihat langit sudah berwarna jingga, dia kehausan kelaparan dan dehidrasi. Tapi tak ada satupun yang datang menolongnya.


Tubuh Puri yang lemah itu, sudah tidak kuat untuk berteriak karena suaranya habis. Puri bersandar pada pintu toilet. Matanya mulai tertutup karena lelah.


__ADS_2