
Sesuai kesepakatan antara Bram dan Sherly. Mereka akan menginap berpindah-pindah sebelum mendapatkan rumah kontrakan. Seminggu di rumah orang tua, Sherly dan seminggu di rumah orang tua Bram.
Setelah seminggu dari rumah orang tua Sherly, kini Bram dan Sherly kembali ke rumah orang tua Sherly.
Sherly dan Bram tiba di rumah orang tuamya Sherly.
"Mobil siapa tuh Yang?" tanya Bram ketika ada sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah orang tua Sherly.
Karena halaman parkir rumah orang tua Sherly sempit jadi mereka pin parkir di nahu jalan kompleks tersebut.
Keduanya keluar dari mobil dan berjalan menghampiri rumah.
Dari kejauhan mereka mendengar suara bu Rossa dan Pak Joko sedang berbincang-bincang dengan seseorang.
Karena curiga, Mereka pun mencoba mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh orang tua Sherly dan pria misterius itu.
"Iya Pak, beri kami waktu untuk memisahkan Sherly dan juga suaminya itu. Setelah itu barulah kami akan minta Sherly untuk menikah dengan anda."
"Ehm baik saya akan beri Anda waktu. Dalam satu bulan ini Sherly dan juga suaminya harus berpisah. Setelah itu Anda harus membujuknya agar mau menikah dengan saya. Karena jika tidak, saya akan menyita rumah ini."
"Iya Pak tenang saja, kami yakin bisa membujuk Sherly."
"Baiklah kalau begitu saya permisi."
Pria itupun keluar dari rumah mereka berpapasan dengan Sherly dan Bram.
Pria itu tersenyum mesum ke arah Sherly.
Kemudian dia masuk kedalam mobilnya.
Sherly dan Bram menoleh ke arah Pria itu Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah.
"Eh Sherly, anak Mami sayang, akhirnya kamu pulang juga Nak." Bu Rossa menyambut kedatangan sang Putri.
Kemudian ia menatap sinis ke arah Bram.
"Orang itu Siapa Mi?" Tanya Sherly.
"Oh dia Prasetyo, pemilik perusahaan real estate. Pemilik perusahaan yang membangun komplek kita ini dulu."
"Eh Sherly, mami mau bicara empat mata sama kamu. Jadi sebaiknya orang yang tidak berkepentingan tidak ikut campur," ucap bu Rossa sambil menoleh ke arah Bram.
__ADS_1
Bram yang sadar dengan sindiran Bu Rossa, langsung naik ke kamar mereka.
Sherly, Bu Rossa dan Pak Joko Mereka bicara di ruang tamu. Sementara Bram masih mencuri dengar pembicaraan ketiga orang itu.
"Aduh Sherly, muka kamu kok kusam begini sih."
"Ah masa sih Mami?"tanya Sherly panik sambil memegang kedua pipinya.
"Iya dong Sayang. Pasti karena kamu nggak pakai skin care mahal lagi kan?"
Sherly tertunduk.
"Aku mana ada uang mi, mau perawatan ke dokter. Biasanya kan perawatan aku ke salon kecantikan dibayarkan oleh Rasya."
"Nah itu kesalahan kamu."
"Maksud Mami apa? Mami mau suruh aku minta sama Rasya?"
"Eh bukan begitu, kamu minta dong sama Bram."
"Bram belum ada uangnya Mi, dia kan baru kerja mungkin minggu depan baru dia gajian."
Sherly tertunduk.
"Sherly hidup ini realistis. Sebelum kamu hamil anak Bram, sebaiknya kamu pisah saja sama dia. Untuk apa kamu mempertahankan orang nggak nggak bisa memberi kebahagiaan untuk kamu Sherly. Lebih baik kamu menikah dengan Pak Prasetyo. Dia itu duda, kaya raya lagi."
Sherly tertunduk. Jiwa matrenya bergejolak. Namun masih ada iman di hatinya meskipun setipis kulit ari hingga Serly tak serta merta menerima bujuk rayu dari ibunya.
"Kamu rela kehilangan rumah ini? apa kamu rela jika papi sampai dipenjara karena tak sanggup bayar hutangnya. Cuma kamu yang kami harapkan Sherly. Kamu Jangan pikirkan Bram. Bram itu orang lain, sedangkan kami berdua ini kedua orang tua kamu."
Sherly
"Ayolah Sherly, kamu minta cerai sama Bram. Kamu masih cantik ,kamu masih seksi. Pasti masih banyak cowok-cowok tajir yang mau menikahi kamu."
Lagi-lagi Sherly tertunduk.
"Kamu tinggal pikirkan sendiri, kamu pilih kebahagiaan mami atau Bram, si playboy kere itu! Bisa saja setelah bosan dengan kamu, Bram akan meninggalkan kamu. Kamu jangan percaya dengan rayuan maut Bram. Mami yakin di belakang kamu dia masih berselingkuh dengan pacar pacarnya yang lain. Jangan hanya karena wajahnya ganteng, kamu tertipu Sherly. Karena makan ganteng aja nggak akan kenyang."
Bu Rosa terus memprovokasi Sherly.
Begitupun dengan Pak Joko. Mereka berdua benar-benar ingin memisahkan Bram dan Sherly.
__ADS_1
Satu jam mereka berbincang, dan mereka berusaha mencuci otak Sherly agar kembali menjadi pribadi yang materialistis.
Sementara Bram hanya mengusap dadanya. Bram sangat menyayangkan sikap kedua orang tua Sherly yang justru menjerumuskan anaknya. Padahal Bram saat ini sudah mencoba untuk menjadikan sosok suami yang bertanggung jawab pada istrinya. Bram juga tak lagi memperdulikan beberapa wanita yang mengirim pesan kepadanya dan menggodanya.
Bram mencoba untuk benar-benar serius untuk membangun rumah tangga, meski mereka belum terlalu saling mencintai.
Setelah di doktrin oleh kedua orang tuanya Sherly naik ke kamar mereka.
Dari cara Sherly berjalan dan raut wajahnya Bram melihat ada perubahan pada diri Sherly.
Sherly duduk di hadapan Bram namun wajahnya menoleh ke arah lain.
"Aku dengar apa yang mami dan papi katakan padamu Sherly."
Sherly pun menoleh ke arah Bram sambil menatapnya.
"Terus kamu mau apa Bram? Aku bingung. Kalau aku tak mengikuti kata-kata orang tuaku untuk meninggalkanmu, mereka pasti akan dipenjara, rumahku pasti akan disita. Kamu juga nggak bisa menyelesaikan nya kan Bram?"
"Lalu apa kamu akan mengikuti permintaan orang tuamu itu Sherly?" Tanya Bram.
"Aku tak punya pilihan lain Bram. Aku tak ingin rumah orang tua ku disita. Aku juga tak ingin kedua orang tuaku di penjara," tutur Sherly dengan lirih.
Bram menghempaskan nafas kasarnya.
"Tapi aku tak akan menceraikan kamu Sherly."
Sherly melirik ke arah Bram, sebetulnya perasaan cinta mulai tumbuh di hati Sherly untuk Bram.
Bola mata Sherly mulai memerah, bulir bening menetes di pipi Sherly.
"Teus gue harus bagaimana Bram? lo bayangin saja bagaimana sulitnya posisi gue saat ini. Gue anak mereka satu-satunya, dan mereka berharap banyak dari gue, hiks. Apa mungkin karena keegoisan gue, rumah kedua orang tua gue ini harus di sita, trus mereka mau tinggal di mana Bram hiks hiks."
Melihat Sherly yang terlihat tertekan, Bram pun menghampirinya kemudian memeluknya.
"Iya Sherly, aku paham kamu sedang dilema saat ini. Tapi karena kita sekarang kamu adalah istri aku, masalah kamu juga akan jadi masalah aku, dan aku janji akan membantu kamu menyelesaikan masalah kita ini," ucap Bram sambil memeluk Sherly.
"Hiks, janji ya Bram," ucap Sherly.
'Iya Sayang, aku janji kok."
__ADS_1