
Puri membuka mata kemudian bergegas menuju kamar mandi.
Setelah berpisah dari Rasya Dia seolah mendapat semangat baru hidupnya.
Bahkan wajah Puri lebih ceria hingga membuatnya ingin mempercantik diri dengan memakai lip balm dan bedak two cake tipis.
Setelah siap Puri keluar dari kamar bersamaan dengan Rasya.
Rasya sedikit pangling melihat wajah Puri tampak cantik dan lebih segar hari ini.
Dengan bibir yang lebih cerah namun tampak lebih natural.
Puri melewati Rasya yang masih terpaku menatapnya.
***
"Selamat pagi Mommy, selamat pagi Daddy," ucap Puri sambil menarik kursi di meja makan.
"Selamat pagi Puri."
"Wah anak mommy cantik sekali hari ini."
Puri tersenyum mendapatkan sanjungan seperti itu.
"Puri, nanti kamu berangkat sama mommy dan Daddy ya. Nanti pulang sekolah daddy minta sopir untuk jemput kamu."
"Puri bisa naik taksi kok mommy, hari ini ada event di sekolah, jadi Puri gak tahu harus pulang jam berapa."
"Ya sudah, kamu boleh naik taksi, tapi setelah pulang jangan kemana-mana ya, langsung pulang saja."
"Iya mommy."
Bu Mita dan pak Wilmar terus saja mengajak Puri berbicara sementara Rasya merasa diacuhkan oleh kedua orang tuanya sendiri.
Pagi itu Putri begitu bersemangat sekolah. Karena merasa begitu senang,sekarang dirinya merasa bebas karena tak lagi berstatus Seorang Istri.
Puri juga merasa bebas, apalagi saat ini Keenan tengah menunggu jawaban cinta dari nya.
Setelah sarapan Bu Mita dan Pak Wilmar mengantar Puri sekolah. Setelah berpamitan pada keduanya Puri keluar dari mobil dan berpapasan dengan Lisa.
"Lisa!" panggil Puri sambil melambaikan tangannya ke arah Lisa.
"Hai Pur. Pagi ini wajah kamu bahagia banget sepertinya."
"Iya dong bahagia, karena gue punya kabar gembira untuk lo."
"Kabar gembira apa Pur?"
Puri mendekati Liisa kemudian berbisik di telinganya.
"Aku sama Kak Rasya sudah berpisah. Jadi aku bisa terima cintanya Keenan."
"Hah serius lu Pur?"
__ADS_1
"Iya Kak Rasya berencana untuk melamar pacarnya Si Sherly itu. Katanya Mereka ketahuan selingkuh di kantor. Karena itu Mommy meminta Kak Rasya milih antara aku dan kak Sherly. Ya Kakak Rasya pilih Kak Sherly dong."
"Terus lo nggak merasa dirugikan gitu Pur?"
"Enggak lah, gua dengan kak Rasya nggak pernah ngapa-ngapain."
"Lagi pula Mommy udah janji sama aku.Katanya, mommy mau membiayai kuliah aku sampai aku jadi dokter."
"Wah bagus kalau gitu Pur, aku saja pengen jadi dokter ,tapi sepertinya orang tua ku tidak mampu."
"Iya aku beruntung bertemu dengan Mommy dan Daddy, mereka menganggapku seperti anak kandung sendiri. Bahkan mereka lebih memanjakanku daripada kak Rasya."
Lisa dan Puri berjalan menuju koridor, tiba di depan gerbang bangunan sekolah, ternyata puri sudah ditunggu oleh Keenan.
Dari kejauhan Keenan tampak tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Puri.
"Tuh gebetan lo, Sepertinya dia sudah nunggu loh."
Puri tersenyum bahagia melihat Keenan yang menyambut kedatangan dengan senyuman yang terindah.
"PurĀ lo beruntung banget ya, punya orang tua angkat kaya dan baik, terus punya gebetan seperti Keenan lagi. Gua jadi iri sama lu."
"Nggak usah iri juga keles, suatu saat kamu juga pasti temukan bahagia dengan cara kamu sendiri."
"Iya benar juga Pur, bahagia juga bukan karena harta dan punya pacar tampan. Bahagia itu karena kita selalu bersyukur dan bisa menikmati segala sesuatu pemberian dari Tuhan."
"Cerdas banget lu sekarang ya," cetus Putri.
"Tuh Keenan samperin gih."
Puri menggandeng tangan Lisa.
"Hai Pur," sapa Keenan dengan senyum manisnya yang membuat hati siapa bisa luluh.
"Hai juga Keenan."
"Ayo Pur, kita ke lapangan basket, kamu harus duduk di tempat duduk yang paling depan. Kamu juga harus bisa memberi semangat sama aku biar aku menang."
"Ehm, tapi aku boleh ajak Lisa kan?"
"Boleh dong, untuk kamu apa sih yang nggak."
Keenan dan Puri saling memandang dan tersenyum.
"Hm, Puri yang di rayu, kok gue yang jadi baper." gumam Lisa.
Hari ini sekolah mereka memang sedang mengadakan event tahunan. Karena itulah tidak ada kegiatan belajar mengajar.
Hari ini Puri dan Lisa diberi kesempatan untuk duduk di kursi paling depan di lapangan basket . Biasanya kursi itu untuk orang-orang penting, seperti tamu undangan dan orang-orang yang ikut berkepentingan untuk tim mereka.
Banyak pasang mata memperhatikan Puri dan Keenan,ada juga yang merasa iri dan dengki, karena dari gestur wajah mereka terlihat mereka terlihat bahagia.
Keenan menuntun Puri memasuki aula gedung basket. Ternyata meski pertandingan belum dimulai, lapangan tersebut hampir penuh.
__ADS_1
Beruntung Puri dan Lisa berkesempatan untuk duduk di kursi tamu.
Ketika tiba di kursi tamu. Keenan menuntun Puri membawanya menemui seseorang.
"Pur sini, perkenalkan ini kedua orang tuaku," ucap Keenan.
Putri tersenyum kemudian bersalaman dengan kedua orang itu dan mencium punggung tangannya secara bergantian, begitupun Lisa.
Sepasang suami istri itu tersenyum ke arah Puri.
'Mommy, Daddy, ini Puri, gadis yang aku bicarakan kemarin."
Puri dan Lisa melototkan bola matanya, mereka tak menyangka jika hari itu Keenan akan memperkenalkan Puri kepada kedua orang tuanya.
'Purii beruntung banget, ternyata Keenan serius banget sama dia, pasti Keenan sudah cerita banyak tentang Puri kepada kedua orangtuanya,' batin Lisa.
Mommynya Kenan tersenyum ke arah Putri.
"Jadi ini yang namanya Puri, cantik, cantik banget."
Puri mengulum senyumnya membuat wajahnya yang polos Itu tampak semakin ayu.
"Cantik dong Mom, pilihan Keenan kan bukan yang kaleng-kaleng."
Ucapan Keenan membuat Putri baper parah sekaligus malu. Tak hanya Puri bisa juga ikutan baper.
"Beruntung banget Puri di sanjung sama calon mertuanya," guman Lisa lagi.
"Ayo Pur, lo duduk sama bokap nyokap gue. Nanti lo kasih semangat ya buat gue," ucap Kenan.
Puri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka duduk bersama, Mommynya Keenan melempar beberapa pertanyaan kepada Puri, dan Sepertinya dia menyukai Puri yang polos dan jujur itu.
Setelah beberapa saat ngobrol, Keenan dipanggil oleh pelatih, sebentar lagi pertandingan basket akan dimulai, karena itu Keenan diminta untuk prepare dengan timnya terlebih dahulu sebelum pertandingan dimulai.
"Mommy, Daddy, aku sudah dipanggil oleh pelatih Aku titip Putri ya."
"Iya tenang saja kamu."
Putri tersenyum, betapa bahagianya dia diperlakukan manis seperti itu oleh Keenan dan kedua orang tuanya.
Tiba-tiba Puri teringat kepada Bram, yang kini juga sedang menanti cinta darinya.
Putri pun melamun.
'Ya Tuhan Bagaimana ya perasaan kak Bram, jika tahu aku punya pacar. Pasti dia sedih banget. Aku jadi bingung pilih Kak Bram atau Keenan. Kedua-duanya sama-sama baik sih. Apa kak Bram aku combalangkan dengan Lisa saja ya, Lisa kan suka banget sama kak Bram.'
Pertandingan basket pun dimulai.
Sorak sorai penonton memenuhi gedung tersebut. Banyak sekali para penonton yang meng-eluhkan Keenan sebagai kapten basket sekolah mereka. Tak jarang juga Keenan jadi buah bibir di antara para siswi, baik dari sekolah mereka ataupun sekolah lawan Mereka, karena sosok Kenan yang memang mempesona dan penuh daya pikat.
"Keenan! Keenan! Keenan! "suara panggilan itu terdengar menggema, kebanyakan mereka para pendukung Keenan adalah para siswa-siswi yang mengidolakannya.
Setiap kali ada kesempatan, Keenan selalu melambaikan tangannya ke arah Puri.
__ADS_1
Tentu saja bangga terasa di hati Puri karena dia menjadi sosok yang istimewa bagi Keenan saat ini.