
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit Puri dan Rasya pulang membawa bayi mereka.
"Rencananya Mommy dan Daddy akan melaksanakan aqiqah untuk si kembar. Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" tanya bu Mita.
" Sudah mommy," sahut Rasya.
"Oh ya? Siapa namanya?"
"Kami memberikan nama Bagus dan Indah."
"Ehm Bagus dan Indah ya. Nama yang cocok untuk cucu mommy yang ganteng dan tampan ini," ucap bu mita sambil mencium bayi perempuan mereka.
"Iya dong. Aku mau nama mereka sesuai dengan karakter anak kami nantinya, iya kan Pur?" tanya Rasya sambil merentangkan tangannya ke pundak Puri.
'Iya dong Kak."
"Eh Puri, kamu masih saja Panggil Rasya kakak. Panggil daddy dong. Untuk mengajari anak-anak kamu," kata bu Mita.
Puri tersenyum.
"Ehm rasanya kok aneh ya manggil kak Rasya dengan panggilan Daddy. Trus Daddy di panggil apa dong?"
"Panggil Opa saja," sahut pak Wilmar dengan bangga.
"Gak sia-sia ya Opa, kita nikahkan anak kita di usia muda. Jadi kita bisa cepat punya cucu," ucap bu Mita sambil menimang-nimang Cucunya.
"Oh jadi itu toh misinya mommy?" tanya Rasya.
"Lah iya, kan mommy divonis dokter gak bisa punya anak. Sekalinya dapat cucu kembar, wah bahagia sekali."
Bu Mita berkali-kali mencium cucunya. Rasya dan puri tak pernah melihat bu Mita sebahagia itu.
Puri dan Rasya saling melempar senyum.
Mobil yang dibawa oleh Pak Wilmar memasuki kawasan rumah mereka.
Di depan rumah Pak Wilmar kini berdiri sebuah taman bermain. Mereka sengaja membangun taman bermain dengan beberapa wahana khusus untuk cucu mereka.
"Tuh Bagus, Indah, lihatkan persiapan Oma dalam menyambut kelahiran kalian berdua," ucap bu Mita sambil menunjuk taman bermain tersebut.
"Nanti kalau kamu sudah sehat, kita saja main di taman bermain itu Pur. Taman bermain itu sepertinya cocok untuk kita daripada anak-anak kita yang masih bayi."
"Masak ada mainan perosotan, wahana pesawat terbang. Ayunan mesti berapa tahun lagi anak kita bisa memainkannya," kata Rasya.
"Persis seperti pasar malam ya, haha " cetus Puri.
"Eh, biarkan sajalah. Itu wujud rasa syukur mommy." Seketika wajah bu Mita berubah jadi masam.
Sesampainya di rumah Puri dan Rasya membawa bayinya ke kamar bayi yang sudah dipersiapkan.
Sesampainya di kamar Mereka melihat dua tempat tidur bayi sudah terpasang dengan sempurna, berikut dengan lemari dan pakaian mereka yang tersusun rapi.
"Enggak sia-sia Pur kita beli peralatan bayi sebanyak ini. Ternyata sebagai orang tua kita punya insting yang tajam ya."
"Sepertinya begitu."
Puri dan Rasya masuk ke dalam kamar dan meletakkan bayi mereka pada masing-masing tempatnya.
"Tidur yang nyenyak ya Nak," ucap Rasya sambil meletakkan bayi perempuan nya di dalam box bayi.
Puri dan Rasya berdiri di antara bayi mereka. Puri mendaratkan kepalanya di pundak Rasya.
"Senang ya Pur, punya anak lucu-lucu seperti mereka."
"Iya Kak. Berasa dapat harta karun yang tak ternilai. Kalau melihat mereka begini aku jadi gak tega meninggalkan mereka untuk kuliah."
Rasya memeluk Puri dari belakang.
"Iya Pur, kamu tunda saja kuliah kamu sampai mereka besar. Sekarang tugas kita adalah merawat dan menjaga anak-anak kita Pur."
"Ehm. Gak apa-apa aku mengorbankan cita-cita ku demi anak-anak ku."
Rasya membelai kepala Puri. Kemudian mencium bibirnya.
"Itu baru istri ku," ucap Rasya. Kemudian ia mendarat kecupan di bibir Puri.
***
Usia si kembar kini berusia 7 hari. Sebagai wujud syukur keluarga pak Wilmar pun mengadakan aqiqah.
Sudah sejak subuh terjadi kesibukan di rumah orang tua Rasya.
Bu Mita berada di kamar Rasya dan Puri. Mereka memilih-milih baju yang akan digunakan untuk acara aqiqah.
Karena begitu banyak baju yang mereka beli, sampai mereka sendiri bingung mau memakai yang mana karena semuanya bagus-bagus dan cantik-cantik.
Bu Mita sampai turun tangan dalam membantu mempersiapkan kedua cucunya.
Akhirnya mereka memilih baju putih untuk membuat mereka semua seragam.
Pak Wilmar yang sudah mengenakan baju batik terpaksa mengganti dengan kemeja putih.
Anak kembar mereka pun terlihat serasi ketika mengenakan baju putih dengan peci dan juga kerudungnya.
"Masya Allah cantik dan gantengnya cucu-cucu Oma," ucap bu Mita.
Puri dan Rasya membawa keluar bayi-bayi mereka karena sebentar lagi akan diadakan aqiqah.
Acara aqiqah pun berjalan lancar. Mereka kini memberi nama dua bayi kembar mereka itu, dengan nama yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Yakni Athaillah Bagus Muzakki, untuk bayi laki-laki dan
Ghania Indah Husna untuk bayi perempuan.
__ADS_1
***
Sherly dan Bram sedang berada di sebuah toko perlengkapan bayi. Mereka hendak membeli hadiah untuk kedua anak Rasya dan Puri.
"Sayang kita mau beri hadiah apa ya untuk anak kembar Rasya dan Puri?"
"Ehm mana aku tahu. Mereka kan sultan. Anak mereka pasti sudah punya segalanya."
"Ya belikan boneka saja lah Yang. Biar gak ribet. Kita sudah terlambat nih.
"Ehm baiklah."
Bram dan Sherly membawa hadiah yang sudah mereka bungkus. Di rumah Pak Wilmar dan Bu Mita sudah ramai para tamu yang hadir.
Bram memarkir sepeda motornya di tempat parkir khusus tamu.
Setelah itu mereka langsung menghampiri Rasya dan Puri. Sebelum menghampiri Rasya dan Puri. Bram menyempatkan diri menyapa Bu Mita dan Pak Wilmar.
"Assalamualaikum Om, Tante," ucap Bram sambil menjabat tangan kedua orang itu.
"Waalaikumsalam Bram. Kenapa baru datang Bram? Kalian sudah ditunggu Rasya sama Puri loh."
"Hehe Iya Tante maklum Sherly lagi hamil. Pagi-pagi biasanya suka mual dan pusing."
"Oh iya, sudah berapa bulan Sherly?"
"Tiga bulan Tante," jawab Sherly.
"Oh pantes kamu kurus sekarang Sher."
"Masa Sherly kurus Tante, tapi yang tertekan itu saya loh," sahut Bram.
Sherly mencubit perut Bram.
"Hehe, sakit Yang. " Bram mengusap perutnya yang di cubit oleh Puri. Tuh kan tante,saya loh yang tersiksa,"
Bu Mita mengulas senyum tipisnya.
"Ada-ada saja kamu Bram," ucapnya.
'Ya sudah ya Tante, saya mau menemui Rasya dan Puri dulu."
"Oh iya silahkan."
Bram dan Sherly pun menemui Rasya dan Puri yang tengah berbahagia menggendong anak-anak mereka.
"Halo ponakan-ponakan Om yang cantik dan ganteng."
Puri dan Rasya berdiri menyambut kedatangan mereka berdua.
"Apa kabar Pur?" tanya Sherly. Mereka bercupika cupiki.
"Baik Kak."
"Boleh silahkan saja Kak."
Sherly pun meraih bayi mungil itu dari gendongan Puri.
"Bram lihatlah cantik banget deh," ucap Sherly.
"Iya nih yang cowok juga ganteng, seperti aku om nya," sahut Bram.
"Ah bisa saja loh Bram. Kalau yang ganteng pasti mirip lo. Padahal kan gak ada DNA lo sama sekali," dengus Rasya.
"Iya mirip lo Rasya."
Sherly melihat bayi ganteng yang tengah mengenakan peci itu.
"Masya Allah ganteng banget ya, bayi nya."Cup cup. Sherly mencium bayi itu.
"Duh kalau lihat bayi-bayi lucu gini sepertinya udah gak sabar menunggu anak kita dilahirkan ya Sayang," kata Bram.
"Iya, anak kita juga pasti lucu juga," sahut Sherly.
"Iya lah siapa dulu bapaknya," Sahut Bram lagi.
"Oh iya Pur, bagaimana kalau kita jodohkan saja anak kita? Biar keturunan kita semakin berkualitas?" Usul Sherly sambil nyengir.
"Hiks sayang, Jangan bicara seperti itu. Kita dan mereka itu beda kasta. Jadi jangan mimpi punya menantu orang kaya," bisik Bram.
"Ih apa salahny,a melanjutkan misi dan visi yang gagal sebelumnya," cetus Sherly sambil menyiku perut Bram.
"Ih itu sih visi dan misi mami dan papi mertua. "
Puri dan Rasya pun saling melempar senyum.
"Kalau anak-anaknya gak keberatan gak masalah kok. Kita sih setuju-setuju saja Kok," sahut Rasya.
" Iya kan Sayang?" tanya Rasya pada Puri.
"Iya dong. Tergantung anaknya."
"Nah tuh kan mereka saja gak keberatan,"sahut Sherly sambil mengulum senyumnya.
Setelah berbincang-bincang Sherly dan Bram pun memutuskan untuk pulang.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Puri dan Rasya begitu menikmati hari-hari mereka menjadi sepasang suami istri dengan dua anak kembar.
Secara perlahan sikap mereka menjadi dewasa seiring berjalannya waktu. Mereka pun menjadi sepasang suami istri yang berbahagia dengan anak-anak yang cantik dan pintar-pintar.
Lalu bagaimana dengan Bram dan Sherly?
__ADS_1
Bram bolak-balik di depan ruang operasi. Tak hanya Bram tapi juga kedua orang tua Sherly tengah menanti kelahiran cucu mereka berdua.
Meski sudah hampir setahun menjadi menantu Bu Rosa dan Pak Joko. Nyatanya Bram belum juga mendapat restu. Kedua orang tua itu selalu memandang rendah Bram.
Detik yang menegangkan itu berakhir juga ketika terdengar suara tangis bayi yang terdengar dari dalam ruang operasi.
"Alhamdulillah akhirnya.istri ku melahirkan." Bra berucap penuh syukur.
Sementara bu Rosa dan Pak Joko masih menatap sinis ke arah Bram.
Bram sudah terbiasa dengan perlakuan mertuanya terhadap dirinya itu.
Beberapa saat kemudian terdengar suara box bayi yang didorong keluar dari ruang operasi. Bram dan kedua orang tua Sherly menghampiri suster yang mendorong box bayi itu.
"Suster anak saya sudah lahir?" tanya Bram.
"Iya istri anda melahirkan anak perempuan."
"Alhamdulillah," ucap Bram.
Trus keadaan anak saya bagaimana tanya Bu Rosa.
"Alhamdulillah keadaan ibunya sehat dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan."
"Alhamdulillah," ucap Bram dengan begitu bahagia dan haru.
***
Setelah beberapa saat di observasi di dalam ruang operasi, Sherly pun di pindahkan di ruang perawatan.
Setelah Sherly sadar, Bram menggendong bayi itu dan menyerahkannya kepada Sherly.
"Sayang,lihat lah bayi perempuan kita. Wajahnya cantik dan lucu seperti kamu," ucap Bram.
Sherly tersenyum menyambut bayi itu. Dia pun menciumnya.
"Iya ya Bram anak kita cantik sekali, seperti aku."
Kreak.. tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Saat itu Bu Rosa dan Pak Joko mengerutkan wajahnya ketika melihat Rasya dan Puri datang dengan membawa anak kembar mereka yang berusia 6 bulan.
"Assalamualaikum," ucap Puri dan juga Rasya.
"Waalaikumsalam."
Mereka berdua pun masuk menghampiri Sherly.
"Baru selesai operasi Kak?" tanya Puri.
"Iya Pur. Baru keluar dari ruangan operasi."
"Puri dan Kak Rasya langsung datang ketika mendengar berita dari Kak Bram kalau Kak Sherly sudah melahirkan."
"Ehm iya Pur terima kasih ya."
"Iya Kak."
"Mana calon menantu Puri?" tanya Puri. Puri pun memberikan bayi perempuan pada Bram, sementara dia meraih bayi perempuan Sherly.
"Duh cantiknya calon menantu mommy," ucap Puri sambil menciumi bayi cantik yang mungil itu.
Seketika bola mata bu Rosa dan pak Joko terbelalak dan berbinar binar. Bagaimana tidak, kini ada sang cucu yang akan melanjutkan misi dan visi mereka selanjutnya.
"Papi dengarkan apa kata si Puri, dia mau menjodohkan cucu kita dengan putranya," bisik bu Rosa.
"Iya mommy, tak ada rotan akar pun jadi. Anak kita gak dapet suami kaya, cucu kita harus dapat anak orang kaya," balas pak joko berbisik.
"Iya Papi. Misi kali ini harus sukses. Kita harus punya cucu menantu yang kaya Raya."
"Iyes Mami."
Akankah misi dan visi pak Joko dan Bu Rosa berhasil kali ini? Next di buku keduanya ya. Insyaallah teribit pertengahan bulan ini. Dengan judul
Perjodohan Silang.
🌹🌹🌹🌹🌹Tamat.🌹🌹🌹🌹🌹
Sinopsis Perjodohan Silang.
Novel ini akan menyatukan kembali dua cerita author. Dengan judul The Twins CEO dan Pernikahan Singkat.
Keluarga Leon Sebastian memiliki dua pasang cucu kembar bernama .
Adhiatma dan Adhinata anak dari pasangan Sarah Dan Irgi.
Sementara Cinta dan Kasih anak
dari Nessa dan Farel. Nesa dan Irgi adalah bersaudara kembar. Mereka bermaksud melakukan perjodohan Silang antara kedua pasangan kembar mereka
Aditama dan Cinta, sementara Adhianata dengan Kasih. Awalnya anak-anak mereka menerima perjodohan itu dari kecil hingga dewasa. Namun, apa yang terjadi ketika mereka bertemu dengan pasangan kembar lainnya yang bernama Bagus dan Indah di konferensi orang-orang kembar. Bisakah Mereka mempertahankan perjodohan itu demi bakti kepada kedua orang tua mereka.Atau malah memilih jodoh mereka sendiri? Lalu siapa jodoh mereka sebenarnya?
Jangan lupa mampir ya gengs. Nanti ada notifikasi pemberitahuan. Insyaallah cerita kedua ini lebih seru lucu, dan santai. Gak ada konflik berat yang bikin kening mengkerut ya.
Salam sayang selalu dari author. Terima kepada para reader yang telah membaca dan mendukung karya author ini.
Dukungan dan semangat lalian adalah motivasi bagi author, walaupun belakang author jarang update karena terkendala kondisi author.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu.🙏🥰🥰🥰
__ADS_1