Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Lamaran


__ADS_3

Setelah muntah-muntah Puri, sudah tidak kuat untuk melanjutkan sekolahnya lagi. Dia menelpon sang supir pribadi untuk menjemputnya di sekolah.


Dari toilet Puri langsung menuju kelasnya, sementara Keenan dan Lisa mencari-cari keberadaan Puri.


"Ke mana perginya Puri, sudah dipesenin makanan?" Tanya Keenan pada Lisa.


"Nggak tahu, tadi gua kan pesan minuman juga."


Xena, Aira dan Gisel menghampiri Keenan.


"Hai Keenan Kok bingung sih, pasti kamu Lagi cariin Puri ya?"tanya Aura.


"Si Puri lagi di kamar mandi muntah-muntah."


Tanpa menunggu reaksi Keenan Mereka pun berjalan melewati Kinan.


"Ih rasanya nggak sabar gue buat ngasih tahu ke Keenan," cetus Aura.


"Sabar dong, kalau kamu nggak sabar, Nanti kurang seru, kita kan ingin Puri di permalukan."


"Ya bener itu, skenario kita harus berjalan dengan baik," sahut Aura.


Keenan dan Lisa berinisiatif untuk menghampiri Puri ke toilet. Namun mereka tak mendapatkan Puri di sana.


Karena bingung mereka memutuskan untuk kembali ke kelas. dan terlihat Puri sedang membereskan buku-bukunya.


"Pur kamu kenapa?" tanya Lisa.


Mereka masuk ke kelas dan menghampiri Puri.


"Gue mau pulang aja, nggak kuat gue."


"Kita ke rumah sakit saja Pur, nanti kamu bisa diopname loh Kalau dibiarin,seperti yang kemarin itu," usul Keenan.


"Iya nanti saja, tunggu mommy aku pulang."


"Mommy kamu pulang kapan? Nanti kalau dibiarkan sakit kamu tambah parah, ingat loh kita sudah ujian," cetus Lisa.


Aku gak enak kalau harus memberi tahu mommy tentang keadaan ku. Mommy pasti khawatir dan meninggalkan urusan bisnisnya hanya untuk pulang menemui ku."

__ADS_1


"Ya sudah loh minta tolong sama kak Rasya aja Pur," usul Lisa.


"Ah gak lah," sahut Puri buru-buru.


"Gua sudah minta supir jemput, Lisa temani gue ijin ke guru piket."


Setelah ijin ke guru piket, Keenan dan Lisa mengantar Puri ke depan pintu gerbang dan menunggu hingga Puri masuk ke dalam mobil.


***


Sudah tiga hari Puri tidak sekolah karena kondisinya. Dia juga enggan memberitahukan keadaannya tersebut pada  Bu Mita.


Hari ini Bu Mita dan pak Wilmar sengaja pulang karena mereka sudah janji untuk melamar Sherly.


Setelah minum obat dan istirahat yang cukup, Puri pun merasa baikan.


Bu Mita menghampiri kamar Puri.


"Puri sayang, mommy dengar katanya kamu 3 hari tidak masuk sekolah, karena sakit ya?"


"Iya mommy, maag Puri kambuh."


"Sudah sembuh mommy."


Wajah Puri memang terlihat lebih segar dari sebelumnya.


"Oh ya sudah, kalau begitu mommy tinggal dulu ya Pur. Kalau ada apa-apa telepon mommy ya Nak."


"Iya mommy."


Bu Mita keluar dari kamar Puri. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Sherly.


Di perjalanan bu Mita menghubungi Rasya,  mereka berangkat bersama untuk melamar Sherly.


Kedatangan Pak Bu Mita dan Pak Wilmar disambut baik oleh kedua orang tuanya Sherly.


Setelah berbasa-basi, Pak Wilmar menyatakan niat kedatangannya kepada kedua orang tua Sherly.


"Kedatangan Saya kemari untuk melamar Putri anda yang bernama Sherly untuk putra kami Rasya. Sudikah kiranya Anda menerima lamaran kami ini," ucap Pak Wisman.

__ADS_1


"Tentu saja pak, Karena kami melihat hubungan Rasya dan Sherly yang sepertinya mereka sudah tidak bisa di pisahkan lagi, karena itu untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, bagaimana kalau pernikahan mereka kita percepat saja," ucap pak Joko ayahnya Sherly.


"Oh kenapa harus di percepat, bukannya mempersiapkan pernikahan itu butuh waktu yang cukup lama." Bu Mita memprotes.


"Begini pak, agar hati kami menjadi tenang, bagaimana mereka di halalkan terlebih dahulu, dengan menikah di KUA saja minggu depan, maklum anak saya perempuan dan saya tak ingin terjadi sesuatu pada putri saya."


Pak Wisman dan Bu Mita saling melempar pandangan.


"Minggu depan Pak? Apa tidak terlalu cepat?"


"Yah tentu tidak Pak, ada seorang pria yang ingin melamar Sherly juga pak, saya sudah menolaknya dan saya takut pria itu berbuat nekad terhadap Sherly, jika Sherly sudah menjadi milik Rasya seutuhnya tentunya Sherly bisa terus-terusan bersama Rasya dan saya juga merasa tenang karena Sherly sudah ada yang menjaga." Ayahnya Sherly terus mendesak dengan berbagai alasan.


Sejujurnya pak Wilmar dan Bu Mita kurang setuju, mereka pun berdebat. Namun karena pak Joko mengancam akan membatalkan pernikahan tersebut dan karena Rasya tak mau kehilangan Sherly mereka pun setuju. 


Akhirnya kesepakatan kedua keluarga pun terjadi.Dua Minggu lagi, ijab kabul antara Rasya dan Sherly akan terjadi di KUA, dan semua itu pihak keluarga Sherly yang akan mengurusnya.


***


Setelah kepulangan Rasya dan kedua orang tuanya, Sherly dan keluarganya kembali berbincang-bincang.


"Bagus, kita berhasil mendesak pak Wisman Papi. Aku gak mau kehilangan calon menantu seperti Rasya itu. Bayangkan, dia itu pewaris dari perusahaan ayahnya. Hidup kita pasti bakalan senang kalau Rasya jadi menantu kita," ucap ibunda Sherly.


Sherly tersenyum bangga.


"Iya Sherly, kamu memang pintar pilih calon suami. Apapun yang terjadi, Kamu harus tetap menikah dengan Rasya. Papi akan sebarkan berita bahagia ini kepada seluruh anggota keluarga kita."


"Harus itu Papi," sahut Sherly.


"Oh ya Sherly, kalau kamu sudah nikah sama Rasya, jangan lupa belikan Papi mobil baru ya."


"Mami juga Ya Sherly, mami mau beli cincin berlian biar bisa pamer ke teman-teman arisan mami."


"Beres Mami, Papi. Rasya itu mudah di atur kok. Dia loyal banget sama aku. Kalau aku sudah jadi istrinya, aku jamin, Mami sama Papi bakalan hidup senang, tanpa harus bekerja keras."


Kedua orang tua Sherly saling melempar senyum bangga.


"Gak sia-sia kita punya anak gadis cantik ya Papi."


 

__ADS_1


__ADS_2