Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Menantu VS Mertua


__ADS_3

"Bramesti Wijayanto, saya nikah dan kawinkan kamu dengan putri saya yang bernama Sherly Ananda binti Joko Tarup dengan mas kawin uang tunai sebesar sembilan belas ribu rupiah dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya, Sherly Ananda binti Joko Tarup dengan mas kawin uang tunai sebesar sembilan belas ribu rupiah dibayar tunai!"


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Pak Ilham sebagai penghulu.


"Sah!"


"Alhamdulillah Sherly dan Bram sudah resmi jadi pasangan suami istri."


Bu Rosa yang masih sok itu mengusap dadanya yang tiba-tiba sakit.


"Tidak! Tidak mungkin. Sherly tidak boleh menikah terkecuali dengan Rasya," ucap bu Rosa. Karena terlalu syok tiba-tiba saja pandangan bu Rossa  menjadi gelap.


Seketika tubuh bu Rosa terkulai tak berdaya setelah mendengar kata Sah. Hilang sudah harapan dan mimpi-mimpinya untuk memiliki menantu yang kaya raya.


Detik itu juga Bu Rosa pingsan.


"Bu Rosa!"seru seorang warga.


"Eh Mami!"Sherly ikutan panik. Begitupun para warga.


"Bu Rosa! bu Rosa!"


Salah Seorang warga menciumkan minyak angin ke hidung Bu Rosa hingga membuatnya sadar.


"Aduh bu Rosa mungkin syok karena anaknya tiba-tiba saja menikah,"terka salah seorang warga.


Karena keadaan bu Rosa tak memungkinkan Pak Joko membawa pulang istrinya. Begitupun Bram dan Sherly yang kini sudah resmi jadi suami istri.


Mereka berempat tiba di rumah. Pak Joko membopong tubuh bu Rossa yang masih lemas.


Mereka pun tiba di rumah, Pak Joko meletakkan Bu Rosa di sofa ruang tamu mereka.


"'Aduh Papi Kenapa Papi harus menikahkan  mereka sih hiks ?" tanya bu Rosa sambil menangis 


Sementara Sherly dan Bram yang sudah terlanjur jadi suami istri itu duduk di atas sofa berhadapan dengan bu Rosa  yang bersandar pada sofa. Mereka berdua tidak tahu apa yang harus dilakukan saat itu.


"Bagaimana nggak dinikahkan Mami. Papi sudah nggak bisa menghindar lagi. Papi tidak tahu kalau yang datang itu Bram, bukan Rasya," jawab Pak Joko yang juga terdengar kecewa.

__ADS_1


"Aduh hancur sudah harapan dan impianku untuk memiliki menantu kaya raya. Bagaimana aku bisa menceritakan pada teman-temanku Jika menantuku seorang pengangguran seperti Bram,"racau Bu Rosa.


"Mami, sabar Mami tenangkan dirimu, jangan berkata-kata seperti itu Nanti orang lain bisa tahu tentang rencana kita," bujuk pak Joko.


"Biar saja Papi mami sudah tidak peduli lagi rencana kita kacau, semua berantakan hiks hiks," tangis bu Rossa.


'Oh jadi ini semua rencana mereka untuk menjebak Rasya, sialan gue yang kena getahnya. Tapi nggak papa juga sih, lumayan bisa nikah dengan cuma modal keluar mahar 19000, ajib-ajib murah banget,' batin Bram sambil tersenyum geli.


"Kenapa kamu tertawa Bram, kamu senang kan bisa menikahi Sherly?!"


"Ah gak juga Tante! Eh mami. Saya mana tau bakalan jadi seperti ini," sahut Bram.


"Hiks pokoknya kamu sekarang juga pergi dari rumah saya Bram! Jangan kamu dekati Sherly lagi! Saya gak mau punya menantu pengangguran seperti kamu!" usir bu Rosa.


"Eh gak bisa gitu dong mami! Biar bagaimana juga aku dan Sherly sudah nikah loh. Sekarang kami sah sebagai suami istri."


"Suami istri apa nya! Saya nggak sudi kamu jadi menantu saya! Ayo pulang sana!"


"Yah kok diusir sih mami. Paling ngak kita lakukan ritual malam pertama dulu lah, baru saya pulang, saya dan Sherly kan sudah halal!"


"Enak saja kamu mau perawani anak saya! Punya hak apa kamu?!" tanya bu Rosa ngotot.


"Apa?! Mahar cuma sembilan belas ribu doang! Pakai belagak mau lakukan ritual malam pertama cih! Tak sudi, kamu pikir anak saya itu anak kucing! Mahal juga makanan kucing dari mahar yang kamu berikan!" teriak bu Rosa.


'Ih mami jangan menghina gitu. Sahabat nabi juga ada tuh yang maharnya cuma sepotong besi, ada juga tuh orang yang melamar istrinya maharnya cuma membaca salah surah dalam Alquran. Yang penting kan ikhlasnya," sahut Bram dengan santainya.


"Iya kamu ikhlas! Saya yang gak ikhlas!" Teriak bu Rosa dengan suara tinggi.


Bram mengulum senyumnya.


"Ih gak boleh gitu,  dosa loh Mami! Memisahkan suami istri! Salahkan saja Papi, kenapa dia mau menikahkan kami berdua! Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai seorang suami kok."


"Saya tidak perduli! Pokoknya kamu keluar dari rumah saya, sekarang ju-ga!" usir bu Rosa dengan penuh penekanan.


"Aduh mami jangan teriak-teriak gitu. Nanti warga mendengar bagaimana? Kita jadi  tambah malu," ucap Pak Joko seraya mengusap dada istrinya yang sudah naik turun karena menahan murka.


Mami ngak sudi punya menantu Seperti dia Papi, bukanya bikin seneng nanti dia justru akan menyusahkan kita. Bram itukan pengangguran.


Benar saja, beberapa saat kemudian pak Rt dan warga kembali datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Tuh kan mami pak Rt dan warga berdatangan. Sudah diam, kita bisa tambah malu kalau mereka tahu semua ini rencana kita, bisa-bisa kita juga diusir dan jadi sasaran amuk warga karena telah merencanakan semua ini," bisik pak Joko.


Mendengar perkataan pak Joko Bram tersenyum. Dia jadi tahu semua rencana mereka.


'Gue kerjain aja sekalian,' batin Bram.


"Ada apa ini ribut-ribut bu Rosa, pak Joko?" tanya Pak RT


Pak RT duduk di samping Pak Joko.


"Ah tidak apa-apa Pak istri saya hanya syok  saja karena tiba-tiba saja kami menerima menantu."


"Iya Pak RT saya sampai diusir sama mertua saya sendiri. Saya dan Sherly kan sudah resmi menikah. Masak gak boleh gitu-gitu di malam pertama." Bram mengadu selah menjadi orang yang paling tersakiti.


"Ih gak boleh gitu dong bu Rossa, sekarang Sherly itu sudah resmi jadi istrinya nak Bram, silahkan saja mereka melakukan apa yang sepertinya dilakukan oleh pasangan suami istri," sahut pak RT.


Baram tersenyum ke arah bu Rosa sambil menaik turunkan alisnya.


"Haha iya nih, pak joko dan bu Rosa seperti tak pernah muda saja, seperti gak tahu gimana perasaannya saat jadi pengantin baru," sahut pak Nasir, wakil RT.


"Iya pak, justru suami istri yang melakukan hubungan suami istri akan mendapatkan pahala Bu. Dan berdosa jika kita sebagai orang tua memisahkan mereka," sahut  warga lainnya yang menimpali.


 Bram mencoba menahan tawanya ketika melihat wajah bu Rosa dan pak Joko terlihat begitu kesal.


"Nah denger tuh mami! Papi. Jadi aku berhak atas Sherly. Kalau mami dan Papi gak boleh kan aku tinggal di sini aku akan bawa Sherly kerumah orang tua ku. Aduh mami dan papi ku juga pasti senang dapat menantu secantik Sherly," sahut Bram.


"Tidak! Sherly gak boleh ikut kamu! Iya kamu boleh tinggal di sini," sahut bu Rosa pasrah.


"Hehe terima kasih ibu mertua, bapak-bapak sekalian. Kalau begitu saya permisi dulu ya, mau ke kamar sudah tak sabar melakukan ritual malam pertama," ucap Bram tanpa sungkan.


Iya silahkan nak Bram, kalau perlu jamu kuat dan perkasa datang saja saja ke rumah saya ya," sahut salah seorang warga.


"Hehe, gak minum jamu juga udah kuat pak," sahut Bram.


 


" Ayo istriku," ucap Bram sambil menarik tangan Sherly membawanya ke lantai dua, dimana kamar Sherly berada.


Bu Rosa menarik nafasnya yang terasa menyesakkan dada.

__ADS_1


 


__ADS_2