
Beberapa bulan berlalu kini kandungan Puri sudah berusia enam bulan.
Puri juga sudah menyelesaikan tugasnya sebagai siswi. Karena kepintarannya, dia mendapatkan nilai tertinggi di sekolah tersebut.
Malam yang cerah dengan taburan bintang-bintang di angkasa.
Puri dan Rasya berada di balkon kamarnya. Mencoba menikmati angin malam yang berhembus sepoi-sepoi.
Setelah makan malam, tiba-tiba saja Puri merasa begah dan sesak. Karena itulah Rasya membawa istrinya ke balkon untuk merelaksasi.
Puri bersandar pada kursi dengan kaki yang berselonjor. Rasya memijat telapak kaki Puri agar istrinya itu bisa lebih legah bernafas.
Perut Puri memang begitu besar, tak sebanding dengan tubuhnya yang mungil karena itulah Puri sering kelelahan meski hanya berjalan sekitar rumah.
"Bagaimana Pur sudah mendingan?" tanya Rasya.
"Belum Kak. Duh begah banget, kulit perut Puri terasa begitu terik."
Rasya mengusap perut Puri yang terlihat bergerak-gerak.
"Wah mereka bergerak-gerak Pur. Sakit gak?"
"Gak sih Kak, cuma perut aku memang terasa terik saja."
"Sayang jangan nakal ya, kasihan mommy," ucap Rasya kemudian mencium perut Puri.
Rasya duduk di belakang Puri sambil memeluknya.
"Pur, kira-kira anak kita kembar laki-laki atau perempuan ya Pur."
"Puri sih terserah Kak. Yang penting sehat dan selamat saja."
"Iya Pur, kak Rasya udah gak sabar deh ingin lihat anak-anak kita lahir, kira-kira wajahnya seperti apa ya Pur?"
"Hm yang pasti kalau cowok wajahnya mirip Kak Rasya, kalau cewek wajahnya harus mirip Puri dong."
"Iya mirip kamu dua-duanya juga gak apa," ucap Rasya sambil mencium bibir Puri.
Aw tiba-tiba Puri menjerit kesakitan.
"Kenapa Pur?"
"Akh! Aduh Kak tiba-tiba kok Perut Puri sakit sih."
"Yang bener Pur?"
"Aduh ngapain juga Puri bohong kak, ini tuh sakit banget!" Puri mengusap perutnya yang terasa sakit.
"Ya sudah Pur, ayo kak Rasya bawa kamu ke kamar." Rasya memapah tubuh Puri dan membawanya ke kamar.
Rasya menata bantal di atas tempat tidur.
Kemudian dia mendudukan Puri.
"Masih sakit?" tanya Rasya sambil mengusap keringat yang membasahi kening Puri.
"Aduh Kak kok rasa sakitnya datang pergi sih," keluh Puri sambil mengusap-usap perutnya lagi.
"Ya sudah, kak Rasya panggil mommy ya Pur."
Rasya meraih ponselnya di atas nakas.
'Halo mommy."
"Rasya kamu tuh kenapa sih, serumah kok telepon-teleponan. Gaya an banget sih."
"Aduh Mommy nanti saja ya ngomelnya, ini tuh darurat banget!"
"Darurat kenapa sih?"
"Mom, Puri sakit perut nih. Sepertinya dia akan melahirkan," ucap Rasya dengan panik.
"Apa sakit perut? Mungkin sakit perut biasa kali Nak. Kandungan Putri kan baru 7 bulan lebih."
"Akh Mommy! Sakit sekali!"teriak Puri sehingga kedengaran di sambungan telepon.
Bu Mita seketika menjadi panik.
__ADS_1
"Iya Puri sebentar ya nak Mami siapin mobil dulu."
Bu Mita keluar dari kamar kemudian mencari keberadaan suaminya yang ternyata sedang mengobrol bersama mang Ujang sang sopir pribadi.
"Daddy! Daddy!"Panggil Bu Mita dengan panik.
"Mommy Kenapa sih teriak-teriak gitu?"tanya Pak Wilmar sambil menghampiri istrinya.
"Bang Ujang siapkan mobil!"
"Memangnya mau ke mana mommy?"
Si Puri perutnya tiba-tiba saja sakit.
"Sakit kenapa sih, diare? Atau sakit maag?"
"Bukan Daddy, sepertinya Puri mau melahirkan."
"Aduh mommy, Memangnya sudah sampai bulan?"
Justru belum sampai bulan, makanya Mommy panik! Ayo buruan kita bantu Rasya untuk membawa Puri kerumah sakit.
"Ayo Mommy!"
***
Di dalam kamar Puri terus saja meringis merasakan sakit pada bagian perutnya.
Sementara Rasya menggenggam tangan Puri sambil sesekali mengusap kening Puri yang mengeluarkan begitu banyak keringat.
"Aduh Kak! Puri nggak sanggup lagi. Sakit banget Kak."
Puri pun berguling-guling menahan sakit sambil menggenggam erat tangan rahasia.
"Iya Sayang kamu sabar ya. Kak Rasya mau menyiapkan baju untuk kamu. Kita ke rumah sakit sekarang."
Rasya beranjak dari Putri kemudian ia menuju lemari dan memasukan beberapa potong pakaian untuk Puri ke dalam tas.
Kreak… pintu kamar Puri dan Rasya dibuka.
Bu Mita dan pak Wilmar segera menghampiri Puri.
"Iya mommy tapi sakitnya hilang datang."
Bu Mita meraba perut Putri yang seperti mengalami kontraksi.
"Iya bener Daddy sepertinya Puri sebentar lagi mau melahirkan ayo siap-siap!"
"Ya sudah tunggu apa lagi kita bawa Puri sekarang."
Pak Wilmar mencoba untuk mengangkat Puri namun dia nggak sanggup.
"Puri kamu bisa jalan menuruni anak tangga kan?" tanya Pak Wilmar.
"Iya Daddy."
Dibantu pak Wilmar, Puri pun turun dari tempat tidur. Pak Wilmar dan Bu Mita membantu Puri berjalan menuruni anak tangga sementara Rasya membawa tas yang berisi pakaian Puri
Setelah tiba di teras rumah, mereka langsung masuk ke dalam mobil dan segera ke rumah sakit.
"Aduh sakit banget Mommy," keluh Puri. Wajah Puri memerah karena menahan rasa sakit keringat dingin terus mengucur melalui pori-porinya di sekujur tubuh.
"Puri sabar ya nak. Banyak-banyak berdoa saja ya."
Rasya mengusap setiap tetes keringat yang mengalir pada wajah Puri dia pun mencium Puri dengan lekat.
"Sabar ya Sayang, rasa sakit saat persalinan diganjar surga," bisik Rasya sambil mengusap rambut Puri.
Namun Puri tak menghiraukan ucapan Rasya. Dia tak pernah mengalami hal ini sebelumnya dan merasakan begitu sakit sesakit-sakitnya hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Suhu Puri tubuh menjadi dingin wajahnya seketika menjadi pucat dengan tubuh yang gemetar.
Puri mencengkram tangan Rasya karena tak kuat menahan rasa sakit hingga berdarah.
"Hiks mommy sakit sekali," lirih Puri sambil menangis.
"Iya Nak. Mommy tahu. Sabar ya sayang. Sebentar lagi kita sampai."
__ADS_1
Rasya memeluk Puri sambil mencium-ciumnya.
"Kak sakit." Puri mengaduh kesakitan membuat Rasya tak tega.
"Iya Sayang, kalau bisa dibagi biar kak Rasya saja yang merasakannya," ucap Rasya. Kemudian mencium pipi Rasya.
"Kamu lihat kan Rasya, bagaimana seorang ibu harus menahan kesakitan ketika hendak melahirkan anaknya."
Rasya menoleh ke arah bu Mita.
"Jadi sebagai anak kamu gak boleh melawan orang tua terutama sama mommy. Dan sebagai suami kamu harus menyayangi dan menghargai istri mu yang sudah merasakan sakitnya melahirkan anak untuk kamu. Sementara kamu hanya menikmati tanpa harus merasakan sakit akibat hubungan suami istri yang kalian lakukan."
"Duh mommy, nanti saja ya ceramahnya, kita tuh mau bawa ke Puri rumah sakit," sahut Pak Wilmar.
"Biar saja Daddy, biar Rasya lebih terbuka pikirannya jadi dia akan pikir-pikir untuk selingkuh," cetus Bu Mita.
"Gak lah mommy, Rasya itu seperti Daddy. Satu istri untuk selamanya. Iya kan Rasya." sahut pak Wilmar.
"Iya Daddy. Tau tuh mommy bawaannya curigaan saja. Masa lalu diungkit-ungkit," sahut Rasya kesal.
"Aw sakit!" teriak Puri.
"Daddy! Percepat saja mobilnya. Kasihan Puri."
Pak Wilmar pun kembali melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit Puri langsung diperiksa.
"Bagaimana dokter?"
"Karena terlalu beresiko melahirkan normal, saya sarankan untuk mengambil tindakan bedah saja, tapi itu kembalikan lagi pada ibunya sendiri," ucap dokter.
"Iya dokter lakukan yang terbaik untuk menantu dan cucu saya," Sahut bu Mita.
"Hiks, kak Rasya Puri takut jika harus di operasi." Belum apa-apa tubuh Puri sudah gemetaran.
"Kak Rasya akan temani kamu sampai ke ruang operasi ya Pur."
"Hiks memang bisa?"
"Bisa, biar daddy yang akan urus. Yang penting kamu jaga kondisi kamu saja Pur, jangan stress jangan takut," sahut Pak Wilmar .
"Iya Sayang. Hak usah tegang ya. Kak Rasya akan temani kamu saat operasi nanti."
"Iya Kak."
***
Setelah semua siap, Puri pun dibawa ke ruang operasi, tangan Rasya masih menggenggam erat tangan Puri.Baru masuk ke ruang bedah saja Puri sudah ketakutan.
Rasya memakai pakaian lengkap dengan masker dan juga penutup kepala.
"Tenang ya Sayang tak akan terjadi apa-apa kok, Kak Rasya akan berdoa untuk kamu."
"Iya Kak. Puri takut." Rasya menggenggam tangan Puri semakin erat.
Beberapa saat Puri diberikan suntikan pada beberapa bagian tubuhnya.
Kemudian selang oksigen di pasang ke hidungnya, Puri pun perlahan memejamkan matanya.
Rasya berbisik di telinga Puri. "Semangat berjuang sayang."
Proses pembedahan pun terjadi. Rasya masih berada di samping Puri meski dia tak melihat bagaimana para medis itu membelah perut istrinya.
Oek oek.
"Alhamdulillah," guman Rasya.
Rasya mengintip bayi yang keluar itu ternyata bayi laki-laki.
"Alhamdulillah Sayang, anak pertama kita laki-laki," bisik Rasya sambil meneteskan air matanya karena haru dan bahagia.
Oek oek. Bayi kedua lahir.
Rasya kembali mengintai dari tirai. Rasya kembali tersenyum dan berbisik pada Puri.
"Alhamdulillah sayang, anak kedua kita perempuan, bayinya cantik seperti kamu," bisik Rasya.
__ADS_1
Bulir bening menetes di pipi Puri dengan bibir yang tersenyum. Dia mendengar semua bisikan Rasya dan merasa bahagia dan haru.
"Terima kasih Sayang kamu sudah biat hidup kak Rasya sempurna. Kita punya dua anak sekaligus, dan gak ada yang lebih membahagiakan dari pada ini. Cepat sadar ya, bayi kita pasti ingin segera bertemu dengan mommy nya." bisik Rasya, dia pun mencium lekat pipi Puri sambil menangis haru.