
Setelah keluar dari ruang operasi, Puri dibawa ke ruang perawatan begitupun dengan kedua bayinya.
Bu Mita dan Pak Wilmar menggendong satu persatu cucu mereka.
Saat Puri itu baru sadar sepenuhnya.
Puri membuka matanya dan melihat Rasya yang tersenyum ke arahnya.
"Kamu sudah bangun Sayang?" tanya Rasya.
Puri meraba bagian perutnya.
"Aku sudah melahirkan Kak?" tanya Puri.
Rasya mengusap keringat di kening Puri.
"Sudah, kamu lupa ya, tuh lihat mommy dan Daddy sudah dapat jatah gendong satu persatu."
Puri tersenyum melihat kedua mertuanya yang terlihat bahagia.
"Eh mommynya sudah bangun."
Bu Mita menghampiri Puri dan memperlihatkan bayinya.
"Nih Puri anak perempuan kamu."
Bu Mita meletakkan bayi perempuan itu di samping Puri.
"Kak ini anak kita, kok wajahnya mirip Kak Rasya." Puri hendak membalikkan tubuhnya.
"Aw! Eh Pur! Jangan banyak gerak!" tahan Rasya.
"Puri mau peluk dan cium Kak."
Rasya menggendong bayinya kemudian mendekatkan ke Puri.
Dengan haru mencium dan memeluk bayinya itu.
Hiks
"Dia cantik sekali Kak, Gak sabar untuk menggendongnya."
"Iya tunggu beberapa hari lagi mungkin kamu sudah bisa menggendongnya."
"Nah kalau ini si abang Mom." Pak Wilmar mendekatkan bayi laki-laki ke Puri.
"Hiks wajahnya semua mirip kak Rasya," ucap Puri sambil menciumi pipi bayi itu.
"Ya Allah, senangnya lihat mereka sehat dan lucu begini hiks," ucap Puri tak sadar air mata berlinang tanda bahagia.
"Iya Pur. Sebagai wujud syukur kami nanti Daddy mau sumbang satu ekor sapi untuk satu yayasan panti asuhan."
"Alhamdulillah. Iya Daddy terima kasih."
***
Bram baru tiba di ruangannya.
Sebelum duduk Bram meregangkan pinggangnya.
Sudah seminggu Bram harus bekerja lembur melayani istrinya. Semalam dia sampai meminum obat kuat agar bisa mengimbangi hasrat sang istri.
"Duh lama-lama bisa encok di kerjain Sherly," keluh Bram.
"Ehm apa setiap orang hamil itu syahwat gede seperti itu ya."
Bram berada di ruang Rasya sedang memeriksa berkas-berkas yang harus di tangan tangani Rasya.
Dering telepon membuat konsentrasi Bram buyar.
Diraihnya handphone.
"Halo selamat pagi Pak Rasya."
__ADS_1
"Yaelah basa-basi banget lo," sahut Rasya ketus.
"Hehe, ada apa nih Bos, pagi-pagi nelpon?"
"Bram semalam Puri melahirkan anak kembar Bram. Anak gue cowok cewek!"
"Alhamdulilah, beruntung banget lo Rasya langsung dapat dua. Semoga saja Sherly juga hamil anak kembar."
"Iya Aamiin."
"Eh tugas gue, lo pegang kendali ya."
'Siap Bos."
"Oke kalau begitu Bram gue tutup dulu sambungan teleponnya."
"Eh, Ras, Puri melahirkan di rumah sakit mana? Gue dan Sherly nanti sore mau jenguk, boleh gak?"
"Yaelah lo Bro. Pakai nanya lagi. Ya boleh dong."
"Oke Bro. Gue mau gendong anak-anak lo moga ketularan dapat anak kembar juga."
"Oke. Gue tunggu."
Bram dan Rasya pun menutup teleponnya.
***
Kamar Puri tak henti-henti kedatangan tamu yang ingin melihat cucu dari pemilik M &W corporation.
Bu Mita dan pak Wilmar dengan bangga memamerkan cucu-cucunnya.
"Lihat tuh Pur, mommy dan Daddy dari tadi gak ada capek-capek gendong anak kita."
"Haha Iya Kak, namanya juga baru dapat cucu."
"Pur, kira-kira anak-anak kita beri nama siapa ya?"
"Whm bagaimana dengan Bagus dan Indah?"
"Nanti tinggal cari nama sambungnya lagi."
'Iya Kak."
"Kalau begitu kamu makan ya Pur, biar cepat sehat, biar kita cepat bawa anak-anak kita pulang."
"Iya Kak."
"Mommy juga gak sabar, mau bawa cucu mommy ke kamar mereka yang baru," kata bu Mita.
"Kita pulang ya Cu. Oma sudah siapkan kamar spesial untuk kalian berdua."
Bu Mita dan pak Wilmar terlihat begitu senang.
Bram sengaja pulang lebih cepat karena berencana akan menjenguk Puri.
Motor Bram tiba di depan rumah mereka.
Tok tok tok. Bram mengetuk pintu
Pintu pun dibuka beberapa saat kemudian. Bram kaget melihat penampakan Sherly saat ini.
"Yang kamu ngapain pakai lingerie sore-sore gini. Nanti kalau ada yang datang bagaimana?"
Sherly menggigit bibir bagian bawahnya.
"Aku dari tadi nungguin kamu, Bram." Sherly tersenyum mesum
Glek..Bram menelan salivanya.
"Nungguin aku?"
"Kenapa nungguin aku pakai baju seperti ini Sayang?"
__ADS_1
"Ih masa' kamu gak ngerti sih Bram."
Sherly menutup pintu rumahnya.
Sherly menggandeng tangan Bram kemudian membawanya ke dalam kamar.
"Ehm sabar dulu ya Sayang. Aku masih gerah,selain itu aku lapar makan dulu ya."
"Ehm ya sudah aku sudah siapkan nasi goreng untuk kamu Bram. Buruan makannya, gue udah gak kuat."
"Hah, nasi goreng setiap hari, gak bisa masak yang lain apa," dengus Bram.
Sherly hanya tersenyum. Senyumnya senyum mesum pula. Membuat Bram bergidik ngeri
'Ya ampun kenapa ya, bini ku sejak hamil nafsunya gak kebendung. Padahal semalam sudah dua ronde,' batin Bram.
Bram menarik kursi meja makan. Begitu pun Sherly.
Bram menyuapi nasi goreng itu ke mulutnya. Dia harus sabar karena sang istri gak bisa masak, selain nasi goreng dan mie instan.
Perasaan Bram tak enak hati, karena terus diperhatikan oleh Sherly.
"Yang kamu mau makan?" tanya Bram.
"Gak. Mau itu!" Tunjuk Sherly ke arah celana Bram.
Uhuk uhuk Bram sampai tersedak.
Dia segera menyambar gelas yang berisi secangkir teh. Karena tersedak makanan pedas Bram langsung meneguk minuman itu.
Glek gleak bruukkk.
Bram menyemburkan kembali air yang diminumnya.
"Yang ini teh kok rasanya asin sih Yang?"
"Hah yang benar Yang?" tanya Sherly.
"Iya bener dong."
"Oh iya aku lupa Bram, di rumah kita kan gak ada gula, saling horninya aku sampai gak bisa bedakan mana garam mana gula."
"Yaelah Yang."
Bram Kehilangan selera makan. Dia langsung bangkit langsung menuju tempat tidur.
"Aku mandi dulu Ya, kamu tunggu di kamar saja."
"Iya Ya Bram."
Sherly kembali ke kamarnya. Sementara Bram masuk ke kamar mandi.
Tiba-tiba saja Bram merasakan perutnya terasa bergejolak. Mungkin karena makan nasi goreng pedas, ditambah teh asin perutnya pun jadi mules.
Kreak ..kreak Bram langsung berlari ke kamar mandi. Setelah lima belas menit Bram keluar, baru saja keluar dari kamar mandi, Bram kembali merasakan mules pada bagian perutnya. Entah apa yang dimasukkan Sherly ke dalam masakannya.
"Sherly! Aw perutku sakit ! Aoa yang kau tambahkan ke dalam makanan ku," keluh Bram
Bram begitu kesal dengan kecerobohan istrinya itu. Namun dia tak bisa ke kamar untuk memarahinya. karena baru beberapa langkah meningkatkan kamar mandi Bram kembali merasakan mulas.
Satu jam setengah Bram menghabiskan waktunya di kamar mandi.
Tubuhnya terasa begitu lemas.Rencananya Bram ingin memarahi Sherly karena kesal.
Dia sudah siap-siap menghukum Sherly dengan tak memberikan nafkah batinnya.
"Sherly, kamu!"Di lihatnya istrinya itu tertidur lelap, mungkin karena lelah menunggu dirinya.
Bram memperhatikan wajah Sherly dengan lekat.
"Kenapa ya, kamu kalau melihat dia tidur gini gak tega memarahinya."
Bram mendekati Sherly kemudian mencium pipinya.
__ADS_1
"Seperti apapun kamu Sherly, aku bersyukur bisa memiliki istri seperti kamu," ucapnya sambil mengusap-usap kepala Sherly.
Bersambung dulu ya reader. Maaf sekali, bukannya author bermaksud malas-malasan up, tapi memang kondisi author gampang drop belakang ini 🙏 jadi waktu upnya bergiliran dengan karya yang lain.🙏😘😘