Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Menghubungi Bu Mita


__ADS_3

Bu Mita tengah memeriksa berkas-berkas di ruangannya, kemudian menatap layar handphone yang menyala.


Dia langsung meraih handphone tersebut.


Di lihatnya sebuah panggilan telepon dari sang Putra.


"Rasya."


"Halo assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Mommy." 


"Rasya kenapa kamu meringis seperti itu?" tanya bu Mita yang terlihat khawatir.


"Mommy, perut ku sakit sekali. Sudah beberapa kali aku muntah-muntah hingga tubuhku terasa lemas sekali."


"Hah! Memangnya kamu kenapa Rasya?" Bu Mita semakin panik.


"Aku gak tau mommy. Saat ini aku masih berada di apartemen. Aku minta tolong mommy, panggil dokter Mira ke apartemen ku, aku sudah tidak tahan mommy. Aku muntah-muntah terus," keluh Rasya.


"Ya sudah mommy akan jemput kamu di apartemen kamu ya."


"Bu Mita langsung beranjak karena mengkhawatirkan sang putra."


Bu Mita menelpon supir pribadinya untuk menyiapkan mobil. Setelah itu dia langsung menghampiri Rasya di apartemennya.


Setibanya di apartemen, Bu Mita dan Rasya segera ke rumah sakit. Rasya langsung di infus karena kondisinya yang memprihatinkan akibat dehidrasi.


Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Rasya dibawa ke ruang perawatannya. Dia harus di opname.


Setelah memeriksa keadaan Rasya kembali, Suster meninggal tempat tersebut.


"Rasya kamu makan apa sih, sampai muntah-muntah gitu?"


"Gak tahu mommy. Aku gak makan apa-apa kok."


"Ya sudah, mommy telpon daddy dulu ya."


Baru mau menghubungi suaminya. Bu Mita sudah mendapatkan telepon dari nomor yang tak di kenal.


"Dari siapa ya?" Bu Mita mengangkat sambungan telepon tersebut.


"Halo assalamualaikum," sapa bu mita.


"Halo assalamualaikum. Maaf apakah saya sedang bicara dengan orang tuanya Almira Puri?


"Iya benar, Ada apa ya Bu?"


"Saya wali kelas Puri, saya secara pribadi meminta anda untuk datang ke sekolah, ada hal yang ingin saya dan kepala sekolah bicarakan."


"Apa harus sekarang Bu, karena saya sedang di rumah sakit, anak saya masuk rumah sakit."

__ADS_1


"Iya Bu, karena saat ini Puri juga sedang di rawat di ruang UKS, sebelumnya dia pingsan."


Bu Mita kaget mendengar berita itu.


"Pingsan Bu?"


"Iya selain itu ada masalah yang ingin saya kan pada anda selaku orang tua atau wali dari Ananda Puri."


'Baik Ibu, saya akan datang sekarang juga."


Bu Mita menutup teleponnya.


"Rasya, mommy tinggal dulu. Mommy harus ke sekolah Puri. Puri pingsan di sekolah."


"Hah pingsan."


"Iya, kamu bisa sendiri kan, atau mommy telpon daddy untuk menemani kamu?"


"Ah nggak perlu mommy, aku bisa sendiri kok."


Bu Mita keluar dari kamar tersebut.


"Puri pingsan?" gumam Rasya.


Handphone Rasya kembali bergetar di atas nakas.


"Halo," sapa Rasya.


"Baikan apanya, aku saat ini sedang dirawat di rumah sakit."


"Di rumah sakit?! Baiklah, kalau begitu aku kesana sekarang Sayang."


***


Menikah?" tanya Keenan.


"Iya Keenan. Aku rasa Puri dihamili oleh mantan suaminya. Saat Puri gak sadar."


Keenan membelalakan bola matanya menatap Lisa tanpa berkedip.


"Aku gak tahu bagaimana kejadian, tapi aku yakin jika saat melakukannya Puri tidak sadar. Puri cerita semua ke aku ,kalau dia dan Rasya tak pernah berhubungan suami istri sampai mereka bercerai," tutur Lisa.


Rumit, begitulah Keenan menangkap cerita dari Lisa itu.


"Rasya? Pria yang biasanya mengantarnya sekolah itu?"


"Iya Keenan."


"Aku rasa Rasya pasti memberikan minuman khusus pada Puri hingga membuatnya tak sadar, kemudian memperawani nya, hiks hiks. Jika tidak, Puri pasti tidak mau diceraikan olehnya," tutur Lisa sambil menangis 


Sejujurnya apa yang dikatakan Lisa itu belum begitu jelas, Karena itu hanya menurut dugaannya saja.

__ADS_1


Keenan menatap sinis ke arah Puri.


"Aku tahu Keenan, mungkin kamu gak bisa menerima keadaan Puri lagi, tapi aku minta agar kamu gak ikut-ikutan memojokan Puri seperti yang lainnya. Aku percaya Puri hanya korban dari keegoisan Rasya, setelah mengambil kegadisan Puri, dia menceraikan Puri dan bermaksud menikah dengan gadis lainnya."


Kali ini barulah perasaan Keenan tersentuh.


Hiks hiks, Lisa mendengar suara tangis Puri di dalam ruang UKS.


Lisa menghampiri Puri, sebelum itu dia menghapus air matanya terlebih dahulu.


Keenan tidak ikut masuk, dia masih nunggu di balik pintu, seraya mendekarkan percakapan Lisa dan Puri.


Karena kejadian tersebut membuat geger satu sekolah. Tak hanya murod, para guru pun ikut membicarakan kejadian yang baru pertama kalinya terjadi di sekolah itu.


Ruang UKS pun dipenuhi oleh siswa yang ingin mengetahui keadaan Puri. 


"Puri," lirih Lisa sambil memeluk Puri yang sedang menangis.


"Lisa hiks, aku gak tahu kenapa aku bisa hamil, hiks," turur Puri lirih.


"Pur,apa kamu yakin kamu gak  pernah melakukan bersama kak Rasya? Kalian pernah tidur bareng ngak?"


Puri berhenti menangis dia langsung menatap ke arah Lisa.


"Pernah, saat aku jatuh sakit, kami juga pernah tidur seranjang saat di rumah sakit, tapi aku yakin kak Rasya gak mungkin melakukannya di rumah sakit," tutur Puri.


"Hiks, lagipula aku yakin kak Rasya gak mungkin melakukannya. Dia kan tidak menyukai ku sama sekali," tangis Puri.


"Kalau bukan Kak Rasya,lalu siapa Pur?! Kak Bram ?" tanya Lisa.


"Kak Bram juga gak mungkin, aku gak pernah ngapa-ngapain sama dia. Dia cuma antar jemput aku, setelah itu kami gak pernah bertemu, hiks."


"Lalu siapa Puri, gak mungkin juga Keenan kan?!" dengus Lisa.


Hiks hiks, Puri semakin jadi menangis mendengar nama Keenan.


"Aku malu banget Lis, satu sekolah pasti sedang mengatai ku, hiks hiks. Sumpah aku benar-benar gak tahu siapa yang sudah menghamili ku!" tangis Puri sambil terisak-isak.


"Fix, itu pasti kerjaan kak Rasya Pur."


"Kak Rasya?!" Hiks, Puri justru semakin sedih. Karena saat ini dia merasa muak dan sangat membenci Rasya. 


Entah sejak kapan rasa benci itu tertanam di hati Puri. Padahal dia bukan gadis pendendam.


"Sabar saja Pur,ini ujian dalam hidup loh."


"Bagaimana gue bisa sabar Lis. Masa depan gue hancur, gue malu! Malu sekali, rasanya gue pengen bunuh diri saja Lis. Gak ada gunanya gue hidup. Biar gue nyusul kedua orang gue saja Lis. Gue gak sanggup menghadapi ini semua, hiks," tangis Puri putus asa 


"Astagfirullah Pur, sabar ya Pur. Sebesar apapun masalah yang kita hadapi, ingat kita jangan sampai putus asa dan coba mengakhiri hidup kita sendiri. Putus asa itu dosa, apalagi sampai bunuh diri. Itu dosa besar Pur," ucap Lisa sambil memeluk Puri.


Keenan mendengar semua pembicaraan Puri dan Lisa tersebut.

__ADS_1


"Kasihan Puri," gumamnya.


__ADS_2