
Setelah kejadian itu Puri tak lagi mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya. Puri semakin percaya diri meski kini perutnya semakin membesar.
Meski dirinya kini menjadi seorang istri, tapi tak membuat Puri kehilangan masa mudanya.
Dia bahagia karena memiliki teman yang menerima keadaannya. Setiap jam istirahat Puri, Lisa dan Keenan selalu menghabiskan jam istirahat bersama.
"Lu mau pesan apa?" tanya Lisa ketika mereka berada di kantin.
"Gue mau pesan mie ayam, sama ayam geprek ya Lis," sahut Puri.
"Hah lu mau pesan dua menu sekaligus? emang habis?"
"Lo lupa ya, gue kan sudah berbadan dua. Akhir-akhir ini tuh nafsu makan gue bertambah tau."
"Iya deh, pantesan aja pipi lu jadi gemoy gitu," ledek Lisa.
Makanan pun tiba di hadapan mereka.
Lisa dan Kenan sampai heran melihat Puri yang kuat menghabiskan 2 menu sekaligus.
"Mau ke mana Pur?" tanya Lisa ketika Puri beranjak
"Mau beli gorengan lagi belum kenyang gue. Kalian berdua mau nggak?"
Hah? Kenan dan Lisa saling melempar pandangan.
"Kalian berdua mau nggak? Gue beli banyak."
"Ehm nggak usah Pur, untuk lo saja udah kenyang gue."
"Ya udah kalau gitu gue pesan gorengannya 5."
Tak hanya gorengan, tapi Puri juga membeli rujak buah, dan es krim dan membawanya ke kelas.
"Puri!" Panggil salah seorang guru ketika Puri melewati ruang guru.
"Eh Lis, tolong pegangin jajanan gue."
"Iya, gue masuk ke kelas dulu ya."
"Oke," ucap Puri dia pun masuk di dalam kantor.
Puri duduk berhadapan dengan Bu Ratna.
"Ada apa Bu?"
"Puri, kemarin hasil ujian kamu dinyatakan lulus untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri."
Puri kaget sekaligus bahagia.
"Beneran Bu?" tanya Puri.
"Iya Puri, Setelah sekian tahun akhirnya sekolah kita bisa mendapatkan bantuan beasiswa ke luar negeri," tutur Bu Ratna.
"Tapi sayangnya beasiswa ini hanya bisa digunakan untuk tahun ini Puri. Karena kamu sedang hamil maka ibu bertanya pada kamu, apa kamu sanggup untuk menerima beasiswa ini?"
Puri menundukkan kepalanya. Dia pernah berharap untuk mendapatkan beasiswa itu. Namun keadaannya kini tentu tidak memungkinkan.
"Menurut ibu siapa yang lebih pantas mendapatkan beasiswa ini selain saya?" tanya Puri.
"Keenan. Dia juga berprestasi dalam bidang akademik. Selain olahraga tentunya."
"Baiklah Bu, kalau begitu berikan saja beasiswa itu pada Keenan. Keenan memang pantas mendapatkannya."
Bu Ratna tersenyum.
"Terima kasih Puri. Semoga Keenan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan."
"Sama-sama Bu."
"Kalau begitu silahkan kamu kembali ke kelas."
"Iya Terima kasih Bu."
Puri keluar kelas dengan hati yang berbunga-bunga. Bukan hanya karena dia telah dipilih karena kegigihan dan usahanya belaja,r tapi juga karena ia bisa berbagi. Jika saja dia ingin dia bisa kuliah ke luar negeri karena orang tua Rasya tentu mampu menanggung biaya sekolahnya. Namun Puri juga menyadari kewajibannya seorang istri yang tidak boleh jauh dari sang suami.
Karena itulah Puri lebih memilih melanjutkan kuliahnya di universitas di kota ini.
Sesampainya di kelas Puri masih memiliki waktu untuk mengunyah makanan yang sudah dibelinya
Makanan itu membuat perutnya terasa sesak.
"Duh sepertinya aku harus beli seragam baru," cetus Puri sambil mengunyah pastel.
"Sepertinya begitu Pur. Kamu sudah periksa kandungan kamu, Kok perut kamu besar sekali seperti itu?" tanya Lisa.
"Nggak tahu ya Lis Mungkin kemarin aku ngidam gak bisa makan, kalau sekarang kan usia kandungan sudah memasuki 4 bulan. Selera makan aku juga sudah mulai naik.
"Mungkin juga si Pur, sesak banget gue lihat lu pakai baju seragam lo."
__ADS_1
"Iya nanti pulang sekolah gue mau beli baju seragam yang baru, kayaknya ini udah mulai sempit."
"Hm, enak banget ya Pur jadi orang kaya. Pengen beli sesuatu tinggal pergi aja nggak harus ngumpulin uang dulu."
'Hm Alhamdulillah Lis, gue akui gue beruntung punya keluarga seperti Mommy dan daddy. Selain mereka baik ,mereka juga mencukupi kebutuhan gue bahkan beberapa persen saham diinvestasikan atas nama gue."
"Wah serius lo Pur, kalau gitu lo bisa tetap punya uang tanpa kerja."
"Hm ya gitulah."
***
Pulang sekolah Puri sudah ditunggu oleh Rasya. Puri berjalan bersamaan dengan Lisa.
"Eh, kak Rasya sudah nunggu gue duluan ya Lis."
Puri berjalan menghampiri Rasya.
"Kamu kenapa? kok jalannya aneh gitu?" tanya Rasya.
"Aduh seragam aku kayaknya sudah mulai sempit Kak mau beli baru deh."
"Ya udah kalau gitu aku antar kamu pulang ke rumah, terus kita ke kantor dan pulang dari kantor baru kita belanja?"
"Iya deh."
Rasya mengantar Puri di rumah, setelah memakai baju mereka kembali ke kantor.
Di kantor Rasya, Puri bertemu dengan Bram.
"Eh kak Bram ada di sini?" tanya Puri ketika melihat Bram.
"Eh iya Pur."
Bram melihat ke arah perut Puri yang mulai membesar.
"Sudah berapa bulan Pur?" tanya Bram.
"Sudah memasuki empat bulan Kak," jawab Puri sambil tersenyum malu.
"Kak Sherly bagaimana, sudah ada tanda-tandanya?" tanya Puri sambil tersenyum.
"Ehm, belum lagi proses mungkin."
"Ya udah Puri masuk dulu ya kak."
Bram kembali duduk di kerjanya begitupun dengan Puri yang kembali ke ruangan Rasya.
Telepon Bram berdering.
"Halo Sayang," suara Sherly terdengar di seberang telepon.
'Iya ada apa sayang?"Tanya Bram.
"Sayang aku mau kamu jemput aku di rumah, aku boring banget di rumah."
"Iya sayang. Nanti biar gak boring kita jalan-jalan ke Mall ya."
"Iya sayang. Aku tunggu kamu ya."
Bram menghempaskan nafas beratnya. Dia tahu Sherly pasti sedang stress memikirkan desakan orang tuanya. Karena itulah dia bermaksud ngajak Sherly jalan-jalan.
***
Setelah pulang kerja Rasya dan Puri langsung menuju pusat perbelanjaan.
Mereka melewati sebuah toko perlengkapan bayi.
"Ih kak, kita mampir yuk," ajak Puri.
"Ayuk Pur. " Rasya ikut bersemangat.
Memasuki toko tersebut ,Puri dan Rasya jadi pusat perhatian. Mungkin karena mereka adalah pasangan muda yang sangat serasi atau atau pasangan itu yang terlalu muda, mengingat wajah puri yang memang super cute apalagi saat ini pipinya lebih berisi.
"Kak Rasya itu lucu banget!" Seru Puri. Dia pun menghampiri rak pakaian bayi yang memang lucu dan unik-unik.
"Iya Pur, ini juga bagus-bagus," ucap Tasya sambil menyodorkan baju bayi berwarna loreng lengkap dengan topi baretnya.
"Ih itukan untuk anak cowok kak?"
"Iya memangnya kenapa? aku pengen punya anak cowok kok."
"Aku mau anak kita cewek." Puri mengambil beberapa baju bayi yang cewek. Sementara Rasya memilih baju bayi untuk cowok lengkap dengan sepatu dan topi dan sebagainya.
Mereka terus memilih barang-barang kebutuhan bayi mereka hingga tak terasa satu troli penuh.
"Kak, sepertinya sudah cukup kak bajunya."
"Iya cari apa lagi Pur?" tanya Rasya.
__ADS_1
Puri mengedarkan pandangannya ke sekitar toko.
"Kak! Tempat tidur bayi kak!" Tunjuk Puri ke arah tempat tidur berwarna pink bergambar Barbie
"Ih jangan yang itu Pur. Yang ini saja!" Rasya tertarik pada tempat tidur bayi yang berbentuk mobil Ferrari.
"Ih itu kan untuk cowok kak! Yang ini saja!"
"Yang ini saja lebih macho! Kan belum tentu anak kita cewek Pur."
"Anak kita belum tentu cowok juga kak."
Penjaga toko heran melihat mereka berdua berdebat.
"Jadi mau yang mana nih mas, mbak?"
"Yang ini saja!" Puri dan Rasya sama-sama kekeh dengan pilihannya.
"Gak usah yang itu Pur, kalau anak kita cowok, apa kata dunia kalau tempat tidurnya Barbie gitu."
"Gak mau yang ini saja kak!"
Keduanya masih sama-sama ngotot dan berdebat.
"Jadi yang mana nih mas, mbak?" tanya penjaga toko lagi..
"Yang ini!" Mereka sama-sama kekeh.
Penjaga toko menghempaskan nafas kasarnya.
"Ya udah deh mbak, kalau begitu saya beli dua-duanya saja. Kirim ke alamat yang ini ya." Akhirnya Rasya membuat keputusan yang adil .
"Dua-duanya Mas?" tanya penjaga toko.
'Iya dua-duanya saja."
'Ehm, sultan mah bebas,' batin penjaga toko tersebut.
Keluar dari toko Puri, mulai merasa kelelahan. Belanjaan mereka juga sangat banyak.
"Duh Aku capek banget! Pengen cepet istirahat nih pulang aja yuk."
"Kamu bukan capek belanja Pur,capek berdebat sama aku," cetus Rasya.
"Habisnya Kak Rasya nggak mau ngalah sih," cetus Puri.
"Bukan gak mau ngalah Pur, tapi kak Rasya yakin anak kita tuh laki-laki," ujar Rasya sambil merangkul pundak Puri.
"Tapi aku juga yakin Kak, anak kita tuh perempuan."
"Ya udah deh. Kita lihat saja nanti. Kapan mau USG?" tanya Rasya.
"Besok aja kak. Aku capek banget! Dari sekolah terus ke kantor dan belanja."
"Iya deh, kalau begitu kita pulang ya. Kamu gak boleh capek Pur, nanti gak bisa kasih kak Rasya makan malam," ucap Rasya sambil tersenyum mesum.
"Nah tuh tau sendiri."
"Kita makan saja dulu yuk Pur."
"Iya kak, aku lapar banget."
***
Bu Mita dan Pak Wilmar berada di ruang tamu sambil menunggu kepulangan Rasya dan Puri.
Tiba-tiba seorang pria berada di ambang pintu
"Permisi! Mau mengantar barang," ucap Pria itu.
"Iya ada ya?"tanya Bu Mita.
"Kami mau mengantar barang Bu."
Barang apa ya pak? Tanya Bu Nita lagi.
"Ini barang-barang perlengkapan bayi."
"Perlengkapan bayi?!"
"Siapa yang pesan pak?!"
"Atas nama mas Rasya Bu."
"Rasya? Aduh mereka sudah beli perlengkapan bayi mereka? Padahal kan kandungan Puri baru memasuki kehamilan empat bulan!" Bu Mita syok
Lebih syok lagi ketika dia melihat belanjaan Rasya dan Puri hampir satu pickup, barang-barang tersebut diturunkan. Ada box bayi, ada dua bak mandi bayi dan semua yang mereka beli semua sepasang.
"Astagfirullah Rasya! Puri! Untuk apa mereka beli perlengkapan bayi sebanyak ini! Awas saja kalian pulang, nanti mommy semprot kalian!" Seru bu Mita.
__ADS_1