
Rasya menjemput Sherly di rumahnya.
Di dalam mobil Rasya menceritakan apa yang terjadi semalam. Tentang perpisahannya dengan Puri.
"Jadi kamu dan Puri resmi bercerai kan? Aku nggak mau disebut pelakor lagi oleh mommy kamu," tukas Sherly pura-pura marah.
"Iya sayang, dan rencananya dalam dua atau tiga hari ini aku akan bawa kedua orang tuaku untuk menemui orang tuamu. Saat itu juga aku akan meminta kedua orang tuaku untuk melamar kamu."
Senyum bahagia penuh kemenangan tercipta di sudut bibir Sherly.
"Gitu dong Sayang, aku kan jadi tenang," ucap Sherly sambil mendaratkan kepalanya pada dada bidang Rasya.
Tiba di kampus, Rasya menemui Bram di tempat tongkrongan mereka. Sebenarnya saat itu sudah jam kantor untuk Rasya.
Namun, karena merasa dirinya adalah Direktur Utama dan ayahnya adalah CEO dari perusahaan Itu, Rasya merasa santai-santai saja.
"Ngapain lu di sini Bram?" tanya Rasya.
"Lagi nunggu dosen gue lah. Lu ngapain di sini?" tanya Bram.
"Gua habis ngantar Sherly."
"Eh Bram gua mau cerita sama lu nih, rasanya kalau nggak cerita sama lo ada yang kurang dalam hidup gue."
"Cerita apa?" tanya Bram.
"Gue dan Puri sudah sah berpisah, gue sudah jatuhkan talak ke puri, dan rencananya malam minggu nanti gue mau bawa bokap nyokap gue untuk menemui Sherly."
Senang, tentu saja Bram senang mendengarnya. Namun, Bram bersikap seolah biasa saja.
"Terserah elu lah Ras, gue sih selalu dukung gimana baiknya lu lah."
"Iya bro, Oke kalau gitu gue cabut aja ya, gue sibuk nih."
"Iya gue tahu lo sibuk."
"Eh Ras, ngomong-ngomong di kantor lu ada lowongan kosong nggak buat gue?"
"Lo selesaikan saja skripsi lo, ntar kalau ada lowongan kosong gue beritahu lo deh."
"Oke bro."
Rasya beranjak meninggalkan Bram.
"Kalau begitu gue bisa dong pedeKate ke Puri." Bram tersenyum bahagia.
***
Siang harinya pertandingan basket pun selesai dan tim rahasia yang menjadi pemenang dalam perlombaan itu.
"Yey! Menang!"
Dengan bahagia Keenan menghampiri Puri dia langsung membuka piagamnya dan mengalungkan ke Puri.
"Ini Pur, piagamnya untuk kamu saja," ucap Keenan.
Hm, lagi-lagi pipi Lisa bersemu, karena dia yang lebih baper daripada Puri.
'Terima kasih Keenan, Selamat ya atas kemenangannya," ucap Puri sambil mengangkat Piagam yang tergantung di lehernya.
"Oh ya karena Keenan menang, bagaimana kalau om dan tante traktir kalian berdua makan bakso di warung depan."
"Wah oleh banget Tante," sahut Lisa.
"Kalau begitu ayo!"
__ADS_1
Mereka pun beranjak dari tempat tersebut. Sesekali Keenan melambaikan tangannya ke arah beberapa siswi yang menyorakinya.
Mereka memanggil manggil nama Keenan.
Ada juga yang semakin greget karena melihat Lisa dan Puri bersama Keenan.
Tiba di warung bakso, Puri sudah merasakan ada yang berbeda pada dirinya. Tiba-tiba saja dia mencium aroma bawang yang begitu menyengat.
Perasaan mual pun menghampirinya. Namun Puri mencoba untuk menahan hal itu.
Keenan memesan bakso dan beberapa saat kemudian bakso tersebut tersaji di depan mereka.
Puri merasa pusing ketika aroma bakso tersebut menyeruak melalui Indra penciumannya.
"Pur Kamu kenapa, Kok melamun saja," ujar Keenan ketika melihat puri hanya terdiam.
"Gak apa kok."
Puri tersenyum, untuk mengurangi aroma bawang putih pada bakso itu Puri menambahkan kecap cabai dan saus lebih banyak dari biasanya.
Mereka semua pun makan. Dengan menambahkan kecap dan cabe yang banyak serta perasan jeruk nipis barulah Puri bisa menikmati bakso itu.
Padahal biasanya dia begitu suka makan bakso.
Mereka semua mulai menyantap bakso itu. Begitupun dengan Puri. Namun beberapa saat Puri merasa perutnya terasa bergejolak.
Puri coba menahan perasaan yang hendak muntah.
Dia pun bangkit.
"Permisi ya om tante saya ke toilet dulu."
"Oh iya silahkan," sahut mereka.
"Nggak usah."
Puri berjalan cepat menuju toilet karena sudah tidak tahan ingin muntah Putri menahan muntahan itu di mulutnya kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Setibanya di toilet ia muntah-muntah.
Uek uek
Tak hanya sekali Puri muntah hingga tak ada lagi yang tersisa di dalam perutnya. Sekujur tubuhnya pun terasa lemas.
Puri merasa pusing dan kurang bertenaga. Dia khawatir penyakit lambungnya kembali kambuh.
"Aduh sepertinya aku harus minta mommy yang jemput."
Karena terlalu lama berada di toilet Kinan menjadi khawatir.
"Puri kok lama banget ya?"
"Pasti puris lagi sakit perut tuh dia kan punya penyakit lambung akut. Lihat saja cabe di kuah baksonya Puri," sahut Lisa.
"Kalau begitu Aku susul sajalah, takutnya terjadi sesuatu pada Puri," ucap Keenan.
Keenan berjalan menghampiri Puri. Ketika ia mendekati area toilet, dia melihat Puri iyang terlihat berjalan longkai sambil memegang bagian perutnya.
"Pur, kamu kenapa?" tanya Keenan.
"Nggak apa-apa, mungkin penyakit lambung aku kambuh lagi."
"Ya sudah kalau begitu aku antar pulang ya?" tanya Keeanu.
"Gak usah, aku sudah telepon mommy kok."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita kembali duduk sambil menunggu jemputan kamu."
Puri dan Kinan berjalan menghampiri kedua orang tuanya dan Lisa.
Puri terlihat sangat gelisah saat itu, bau dari bakso kembali tercium menyengat di hidungnya hingga membuatnya berasa hendak muntah.
Puri memijat pelipisnya, karena merasakan sakit kepala yang tiba-tiba.
"Puri kamu sakit?" tanya mommy nya Keenan.
"Iya Tante sepertinya penyakit lambung Puri kambuh."
"Kamu kebanyakan makan cabe si Pur," sahut mommy Keenan.
"Iya Tante, mungkin."
Beberapa saat kemudian sebuah mobil mewah berhenti di depan sekolah Puri.
"Pur tuh kak Rasya," kata Lisa.
Puri menoleh dan kaget kenapa Rasya yang menjemputnya.
"Maaf Tante om saya sudah dijemput, Puri pulang dulu ya."
"Oh iya Pur, hati-hati ya."
"Ayo Pur aku antar kamu ke depan," ucap Keenan.
"Iya."
Rasya turun dari mobil ia melihat ke arah sekolah menunggu Puri. Namun ternyata Puri datang dari arah seberang bersama seorang pria.
Terima kasih ya Kinan ucap Putri ketika tiba di samping mobil Rasya.
Rasya memperhatikan Keenan dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis.
"Ya Pur, hati-hati kamu istirahat saja di rumah."
"Iya dah aku pulang dulu ya."
"Ya hati-hati nanti aku telepon kamu."
Rasya membelalakkan bola matanya mendengar ucapan Keenan. Sementara Putri dia bersikap santai saja karena dia pikir mereka berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa.
Puri masuk ke dalam mobil begitupun Rasya.
Di dalam mobil keduanya hanya diam, Puri enggan memulai pembicaraan bersama Rasya meskipun ia heran kenapa mommy menyuruh Rasya yang menjemput.
"Mommy dan Deddy tiba-tiba ada urusan mendadak. Jadi mereka meminta aku untuk jemput kamu." Sepertinya Rasya tahu apa yang ada di dalam pikiran Puri.
Setelah pembicaraan itu keduanya kembali diam.
Hanya saja Puri berkali-kali memijat kepala nya.
"Berhenti kak!"
Tiba-tiba saja Puri meminta rasa untuk menghentikan mobilnya.
Rasya berhenti dan mengerem mendadak beruntung saat itu jalanan masih sepi.
Tanpa memberi alasan Putri membuka pintu mobil kemudian ia berlari ke tepi trotoar dan memuntahkan isi perutnya.
Bola mata Rasya membelalak bulat sempurna.
"Puri muntah-muntah ?"
__ADS_1