
Pagi hari ini Puri begitu sibuk menyiapkan perlengkapan sekolahnya. Karena kelelahan ia pun bangun kesiangan.
Puri mengikat rambut hingga mirip dengan ekor kuda. Begitupun Rasya yang harus siap lebih awal karena harus mengantarnya Puri sekolah.
Rasya melihat bayangan Puri dari pantulan cermin. Wajah Puri tampak lebih cantik dan cute meski tanpa makeup. Sekarang dia justru melihat Puri sebagai wanita yang paling cantik di dunia ini.
Rasya menghampiri Puri kemudian memeluknya dari belakang.
"Kak, ih ngapain sih?"
"Pur kamu dan cowok yang kemarin itu gak ada hubungan apa-apa kan?" tanya Rasya bernada cemburu.
"Iya, gak hubungan apa-apa lagi."
"Berarti kamu pernah jadian sama dia ?"
"Belum sempat," sahut Puri sambil memoles lip balm di bibirnya.
"Berarti kamu pernah dekat dong."
"Iya kenapa sih Kak?" tanya Puri yang mulai risih.
"Mulai sekarang kamu jangan dekati dia lagi ya."
"Ih gak lah, dia juga gak mau sama perempuan yang sudah hamil," sahut Puri sambil memakai tas selempang miliknya.
"Sudah Yuk."
Rasya dan Puri berjalan bergandengan menuruni anak tangga untuk sarapan. Setelah sarapan mereka pun berangkat ke sekolah.
***
Lisa dan Keenan menunggu Puri di depan gerbang sekolah mereka. Akhir-akhir ini Puri sering di bully dan mereka kasihan pada Puri.
Karena itulah Lisa dan Keenan menunggu Puri, agar siswa dan siswi yang lain tidak mengganggunya.
Mobil Rasya tiba di depan gerbang sekolah.
Lisa dan Keenan menoleh ke arah mobil tersebut dan kaget karena yang mengantar Puri adalah Rasya.
"Aku pergi dulu Kak," ucap Puri sambil mencium punggung tangan Rasya.
Rasya mencium pucuk kepala Puri, pipi kiri dan kanannya membuat Keenan dan Lisa begitu kaget.
"Hah, Puri dan Kak Rasya akur lagi. Apa mereka sudah menikah lagi?" guman Lisa.
****
Di rumah Sherly
Sherly membantu menggotong bu Rosa yang pingsan di tengah-tengah pintu kamarnya.
"Mami Aduh Mami kenapa sih, sedikit-sedikit pingsan sedikit-sedikit pingsan," omel Sherly.
"Bagaimana Mami nggak pingsan, kamu kenapa mau di gauli Bram hiks."
Bu Rosa mengangkat tubuhnya kemudian dia bersandar pada sandaran sofa.
"Ih Memangnya kenapa, kami kan sudah resmi menjadi suami istri. Lagi pula Bram janji kok bakalan memberikan nafkah yang cukup untuk aku, mami !"
"Iya mungkin untuk kamu cukup, tapi bagaimana dengan pembayaran hutang-hutang Mami dan Papi. Bagaimana caranya mami memberitahu pada teman-teman arisan mami. Mereka mengira Pasti mami berbohong. Harusnya kamu nggak usah disentuh dulu sama Bram, biar kamu bisa dekati Rasya lagi hiks"
Bram yang sudah rapi keluar dari kamar kemudian menghampiri Bu Rosa.
"Iya Mami aku memang nggak sekaya Rasya. Tapi aku akan berusaha mencukupi kebutuhan Sherly kok," sahut Bram.
Bu Rosa dan pak Joko memalingkan wajahnya.
"Sayang! Kamu gak ke kampus?" tanya Bram.
__ADS_1
"Ke kampus dong, bentar ya Sayang aku mandi dan siap-siap dulu."
"Iya Sayang."
Bram berjalan membuka tudung saji di meja makan.
"Mami mertua nggak ada sarapan kah?"tanya Bram dengan santai.
"Sarapan?! enak saja kamu minta sarapan! Sandal jepit tuh jadiin sarapan untuk kamu!"
"Jangan seperti itu Mami mertua. Biar begini aku ini kan menantumu."
Bram ke dapur dan menemui Inem.
"Mbak kopi di mana ya?"
"Oh ada Mas sebentar ya."
Inem mengambil gula dan kopi sasetan kemudian menyerahkan kepada Bram.
Bram menyeduh kopinya, kemudian duduk di sofa berhadapan dengan Bu Rossa.
Seketika nafas Bu Rossa terasa sesat, dia pun menarik nafas panjang berkali-kali.
"Mami mertua Kenapa sih?" tanya Bram sambil tersenyum miring seakan bahagia melihat ibu mertuanya yang tersiksa.
"Mendingan kamu keluar saja Bram dari rumah ini, setiap melihat kamu dada saya terasa sesak," sahut Bu Rosa sambil mengatur nafasnya.
"Itu tandanya ibu mertua belum ikhlas, coba di ikhlasin dan terima saja apa yang sudah terjadi."
"Gak sudi!"
"Ya sudah gak sudi. Nanti saya buktikan, jika saya menantu yang menurut mami tak berguna ini akan jadi seorang yang sukses di kemudian hari," sahut Bram.
Bu Rosa dan pak joko bangkit dan pergi meninggalkan Bram. Setelah satu jam Sherly turun menghampiri Bram.
"Ayo Yang kita pergi sekarang." Sherly dan Bram berjalan bergandengan tangan ke mobil.
"Aduh nanti saja ya, aku udah telat nih."
"Oke lah kalau begitu."
Mobil Bram melaju membelah Jalan Raya.
Mereka pun memarkirkan mobilnya di parkiran.
"Kamu ikut aku saja aku nggak lama kok paling satu jam atau 2 jam kuliahnya. Daripada kamu bolak-balik," usul Sherly.
"Iya Deh, aku tunggu di kantin ya."
Keduanya pun keluar dari mobil.
Tanpa sungkan Sherly menggandeng mesra tangan Bram menuju ruang kelas Sherly.
Mereka pun jadi pusat perhatian.
Apalagi mahasiswi yang pernah menjadi mantan nya Bram.
Dinda mengucek-ngucek matanya.
"Eh Ren, itu Bram dan Sherly kan?" tanya Dinda pada Rena yang sibuk membaca artikel di salah satu website.
"Bukan, paling juga Spongebob dan Patrick," sahut Rena tanpa menoleh.
"Ih gue serius tau! Gue nggak salah lihat kan, Sherly dan Bram bergandengan tangan." Dinda yang tidak percaya masih mengucuk-ucuk matanya.
"Mata lo kali bintitan, masa iya, Sherly dan Bram dan dengan tangan. Sherly sama Rasya kali."
"Enggak gue yakin itu Sherly sama Bram."
__ADS_1
"Eh yang namanya kutub itu kalau sesama jenis saling tolak menolak. Nah Bram sama Sherly kan sama tuh vibesnya, nggak mungkin lah mereka lengket," Sahut Rena sambil menggigit coklat import.
Tiba-tiba Sherly dan Bram lewat.
"Sayang awas saja kamu godain cewek di kantin ya," ucap Sherly.
"Gak akan kok. Kalau sudah nikah aku akan setia kok," jawab Bram.
Dinda dan Reina melongo mendengar dan melihat mereka berdua.
"Eh itu Bram dan Sherly?" tanya Reina yang juga tak percaya.
"Bukan tapi Spongebob dan Squidward," sahut Dinda kesel.
Reina yang melongo itu pun tanpa sadar menggigit jarinya sendiri.
"Aw sakit."
Sementara Dinda yang sudah berjuang untuk mendapatkan Bram harus merasakan patah hati.
"Hiks tega banget Bram, padahal aku sudah banyak berkorban untuk dia, tapi dia malah memilih Sherly hiks."
"Sabar Din, mungkin kalian gak berjodoh," ucap Reina sambil mengusap punggung Dinda.
Bram duduk di kantin sambil mengotak atik handphonenya.
Beberapa saat kemudian dia melakukan sambungan telepon dengan seseorang.
"Halo bro ,"sapa Rasya di sambungan teleponnya.
"Halo juga Bro."
"Ada apa lu nelpon gue pagi-pagi?" tanya Rasya.
"Gue butuh kerjaan, di kantor lu ada nggak kerjaan."
"Tumben Bro, lu mau kerja."
"Ya iyalah sekarang gue udah punya tanggung jawab tau!"
"Tanggung jawab apa Bro?" tanya Rasya lagi.
"Lo tau nggak kemarin lu suruh gue menemui Sherly. Terus gue dijebak sama kedua orang tuanya. Mereka pikir itu lo Bro. Mereka merencanakan penggerebekan saat gue dan Sherly berada di kamar."
"Terus lo digerebek dong sama warga?"
"Ya iyalah, Lo tau nggak saat itu juga Gue disuruh nikahin Si Sherly."
"Terus lo nikah?"tanya rasa semakin penasaran.
"Ya mau nggak mau lah gue nikahin dia. Mereka mau laporin gue ke kantor polisi, mau di arak keliling kampung jadi ciut nyali gue."
"Haha untung bukan gue Bram yang datang. Kalau nggak kasihan banget sama Puri dan anak yang ada di dalam kandungannya."
"Hah, maksud loh apa? Puri hamil?" tanya Bram kaget.
"Iya Puri hamil dan gue udah rujuk sama dia. Jadi lo jangan sebut-sebut Sherly lagi di depan Puri."
"Ya jelas dong! Kan Sherly sekarang sudah jadi bini gue Bro!"
" Hooh, yaudah mungkin Sherly Ema jodoh lo kali Bram. Kalau Lo butuh kerjaan datang saja ke kantor gue bro."
"Oke Bro Nanti gue kesana ya."
"Iya."
Rasya pun menutup teleponnya.
"Huh, untung saja bukan gue di grebek," ucap Rasya sambil mengusap dadanya.
__ADS_1
Entah sejak kapan perasaan Rasya untuk Sherly itu hilang. Justru sekarang dia mengkhawatirkan