Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Bertemu Mantan


__ADS_3

Mobil Bram tiba di depan rumah Bu Rosa.


"Assalamualaikum!" Ucap Bram sambil masuk ke dalam melewati pintu rumah.


"Eh Bram, ngapain lo main masuk dan nyelonong saja! kamu pikir ini rumah bapak kamu?!" Tanya Bu Rosa sambil bersedekap menatap sinis ke arah Bram


"Lah emang iya, ini kan rumah papi mertua," sahut Bram dengan santainya.


Dia pun langsung nyelonong.


"Kamu mau ke mana Bram?" tanya Bu Rosa.


"Mau jemput Sherly lah."


"Nggak boleh, Sherly nggak usah keluar."


"Ih kenapa, kan perginya sama aku Mi."


"Saya bilang gak boleh, ya gak boleh. Mending kamu pulang saja dan tinggalkan Sherly!"


Tanpa menunggu, Bram langsung naik ke lantai atas menuju kamar Sherly.


**"


"Kamu dengar sendiri kan apa kata Mami?" tanya Sherly ketika Bram tiba di depan pintu.


"Iya, Mami kamu itu aneh ya, apa dia tidak belajar agama. Seorang suami akan lebih berhak terhadap istrinya daripada orang tuanya." 


"Gak tau!"


"Ya sudah yang mending kita cabut dari sini saja Kita cari kontrakan."


"Tapi kontrakan kan butuh biaya Yang. Sementara kamu belum gajian."


"Ya sudah kita jalan-jalan saja yuk. Kali aja dengan refreshing kita bisa menjernihkan pikiran kita."


"Iya Deh."


***


Setelah bersiap Sherly dan belum turun lantai bawah. Ternyata mereka sudah ditunggu oleh Bu Rossa.


"Sherly! sudah Mami bilang kan kamu nggak usah keluar. Nggak usah pergi sama Bram."


"Mami apaan sih. Aku sama Bram  cuma mau ke Mall kok ."


Bu Rossa menarik tangan Sherly.


Sementara Bram menarik tangan Sherly yang lainnya.


Tarik menarik pun terjadi antara mertua dan menantu.


"Bram lepasin Sherly!dia tidak boleh pergi!"


"Mami ! yang seharusnya lepasin Sherly."


"Bram kamu yang  lepasin Sherly! kalau nggak aku timpuk  Kamu pakai sendal ini!"


"Coba aja Mami timpuk kepalaku, aku laporin Mami pada Pak RT. Aku akan bilang Kalau Mami sudah berbuat KDRT padaku."


Mereka masih terus tarik-menarik. Membuat Sherly pusing 7 keliling.


"Eh kamu pikir saya takut?!"


Bu Rossa  langsung melepas sandalnya kemudian melempar ke arah Bram.


Beruntung Bram  bisa mengelak.


"Wek gak kena! Gak kena," ejek Bram sambil menjulurkan lidahnya.


Merasa di ejek oleh menantunya bu Ross melepaskan kembali sendal satunya, dan kembali menimpuk kepala Bram.


"Headshot!" Sandal tersebut mendarat mulus di kepala Bram.


"Rasain lo!"  Seru bu Rossa sambil menjulurkan lidahnya mengejek bram.


Kening Bram sampai cerah karena terkena heel Bu Rosa.


"Mami apa-apaan sih. Lepaskan aku aku mau ikut Bram  saja."

__ADS_1


Sherly menyentak tangan Bu Rossa karena tak terima suaminya diperlakukan seperti maling ayam.


"Ayo Bram kita pergi saja dari sini."


"Sherly jangan pergi kamu awas kamu ya!" Bu Risa pun mengejar Bram  dan Cherly sampai ke teras rumah.


Sesampainya di teras rumah, Bram dan Sherly langsung masuk mobil dan segera pergi meninggalkan rumah itu.


"Sherly! Bram  awas kalian ya!"


Bu rusa berteriak-teriak di depan rumahnya. Hingga memancing perhatian warga sekitar.


"Itu Bu Rossa sejak punya menantu kok seperti orang gila ya," ucap salah seorang warga.


"Iya, karena terlalu berambisi makanya jadi gila."tetangga lainnya menimpali.


***


Mobil Bram  melaju meninggalkan komplek perumahan mertuanya.


"Aku nggak habis pikir sama Mami kamu, Yang. Apa dia tidak pernah belajar tentang agama?"dengus Bram dengan kesal.


"Nggak tahu, aku rasa mami itu stress karena memikirkan hutangnya. Belum lagi aku dengar curhatannya pada Papi jika teman-temannya itu mengejek mami. Mami sampai nggak mau lagi ikut arisan karena selalu dipermalukan oleh teman-temannya."


"Ya lagian bukannya aku nyalahin Mami kamu sih Yang. Mami kamu itu terlalu muluk-muluk, dia merasa bisa mengatur segala sesuatu, termasuk jodoh, padahal jodoh kan di tangan Tuhan."


"Iya Yang, jadi bagaimana Yang. Aku mau kerja aja lah, biar bisa membayar hutang mami."


"Nggak usah kamu lanjutin kuliah aja, aku pikir aku akan jual mobilku saja, untuk menutupi hutang mami kamu Yang, biar dia nggak stress gitu."


Sherly menoleh ke arah Bram dan tersenyum haru.


"Ehm makasih ya Yang, kamu baik banget," Ucap Sherly sambil mendaratkan kepalanya di bahu Bram.


"Iya aku akan lakukan apapun untuk membahagiakan kamu. Yang terpenting saat ini kamu fokus kuliah biar cepat selesai."


"Iya Yang, makasih ya kamu baik banget "


"Iya dong."


Bram dan Sherly menuju salah satu Mall.


Sherly menoleh kanan kirinya. Beberapa toko pakaian memanjang busana-busana terbaiknya di depan etalase, membuat Sherly semakin nyesek.


Belum lagi tas-tas impor yang ingin ia beli dan dan belum sempat ia minta pada Rasya. Tas-tas itu terpajang dengan diskon dan harga yang begitu menarik.


Sebuah toko sepatu memajang sepatu yang sudah lama diinginkan Sherly.


'Ya allah kapan ya aku bisa beli barang-barang bagus lagi,' batin Sherly


Kemudian mereka melewati sebuah butik dan Sherly melihat sebuah gaun pengantin yang begitu indah.


Dia kembali teringat dengan rencana pernikahannya dan Rasya. Sherly terpikir jika saja dia menikah dengan Rasya, tentu semua akan mudah ia miliki. Tapi kini untuk kebutuhan sehari-harinya saja Sherly harus irit Bahkan dia tidak lagi ke dokter kecantikan untuk perawatan.


Sherly terdiam menatap manakein yang memajang gaun pengantin. Semua wanita pasti menginginkan menggunakan pakaian pengantin di hari pernikahannya.


Sementara dirinya dan Bram hanya melakukan ijab Kabul.


Brah menyadari ketika Sherly berhenti dan menatap menakein tersebut.


Dihampirinya Sherly.


Bram menepuk pundak Sherly. "Suatu saat aku berjanji akan mengenakan gaun pengantin itu untuk kamu Sherly. Kamu tenang saja, kelak kita juga akan mengelar resepsi pernikahan kita. "


Sherly menoleh ke arah Bram.


"Iya Bram gue inginnya seperti itu."


"Suatu saat aku akan jadikan kamu ratu sehari ,sama seperti wanita-wanita lainnya yang duduk bersanding di atas pelaminan."


Sherly meneteskan air matanya. 


"Iya Bram gue percaya kok sama loh," ucap Sherly menghapus air matanya.


"Maaf ya Sherly saat ini gue belum bisa membahagiakan kamu. Karena ini terjadi begitu mendadak."


Hm.


"Yuk kita jalan-jalan lagi, " ajak Bram sambil menggandeng tangan Sherly.

__ADS_1


Rasya dan Puri sedang menikmati jajanan di kawasan foodcourt yang berada di dalam mall.


Rasya kaget melihat Puri yang sudah memakan begitu banyak hidangan dari mulai mie ramen, dimsum dan takoyaki.


Tak lupa nasi uduk dan ayam Kalasan juga nyari standar tak bersisa.


Rasya terbengong  melihat istrinya yang biasanya makan cuma sedikit itu, Kini menghabiskan sebagian makanan yang mereka pesan.


"Kamu nggak lagi kerasukan kan Pur?"tanya Rasya.


"Enggak lah kak aku memang suka lapar akhir-akhir ini makanya pakaian aku udah pada nggak muat semua."


"Ya tadi kamu makannya pakai bismillah nggak Pur?" Tanya Rasya.


"Pakai Kak, malahan aku baca doa makan, panjang dan lengkap. Kenapa sih kok sepertinya Kak Rasya nggak seneng aku makan," sewot Puri sambil mengunyah makanannya.


"Enggak karena Kak Rasya cuman takut saja kamu kenapa-napa. Kalau kamu nggak papa, Ya udah makan saja. Siapa sih yang nggak senang melihat istrinya sehat."


"Iya, aku habisin ya Kak," ucapkan sambil menyendok kuah tom yam.


Rasya sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat selera makan Puri.


Ketika asyik makan Puri tak sengaja melihat Bram dan Sherly yang sedang memilih makanan di foodcourt yang sama.


Tanpa sungkan Puri langsung memanggil sambil melambaikan tangan.


"Kak Bram!"Bram dan Sherly seketika menoleh.


Begitupun Rasya yang menoleh ke arah Bram dan Sherly.


"Kak Bram sini!"Panggil Puri.


Rasya membelakan bola matanya. Sebenarnya dia masih sungkan untuk bertemu dengan Sherly.


"Ngapain kamu ajak mereka ke sini ?"ucap Rasya berbisik.


"Eh Yang. Ada Puri dan Rasya yuk kita gabung sama mereka.


Bram hendak pergi tapi lengannya ditahan oleh Sherly.


"Nggak usah, kan ada Rasya aku jadi nggak enak."


"Biasa aja kali, namanya juga mantan."


Dengar ragu-ragu Sherly melangkah mengikuti langkah kaki Bram.


"Hai Puri! hai Rasya!"sapa Bram ranah


Rasya tersenyum kemudian menundukkan wajahnya.


Begitupun dengan Sherly yang masih malu-malu untuk bertemu Rasya.


"Ayo Kak Sherly, kak Bram. Duduk sini makan sama-sama."


"Iya Pur. Kita juga sudah pesan makanan kok."


"Ya sudah kita makan sama-sama."


Bram duduk di samping Sherly begitupun Puri yang pindah duduk di samping Rasya.


Dunia seperti terbalik saat itu. Karena dulu biasanya rasa bersama Sherly, sementara Bram bersama Puri.


Bram dan Puri terlihat menikmati makanan mereka. Tak begitu dengan Sherly dan Rasya. Selama duduk di sana, hanya Bram  dan Puri yang mengobrol sementara kedua mantan kekasih itu tak bersuara sedikitpun.


"Sayang kamu nggak makan?"tanya Bram pada Sherly yang hanya diam.


"Aku suapin ya," ucap Bram lagi sambil menyuapkan sebuah tempura ke mulut Sherly.


Sherly pun mengunyah makanannya.


"Kak Raysa ayo makan. Mau Puri suapin juga?" Tanya Puri sambil menyuapkan tempura sayur pada Rasya.


Keduanya terlihat begitu kikuk ketika berhadapan untuk pertama kalinya setelah menjadi mantan.


'Sialan. Ternyata seperti rasanya bertemu mantan,' batin Rasya dan Sherly.


Mungkin, karena Puri tak pernah pacaran karena itu dia tak pernah tahu bagaimana rasanya ketemu mantan. 


Sampai mereka pulang Rasya dan Sherly masih enggan untuk saling menyapa.

__ADS_1


sorry ya reader. author baru sempet up 🙏🥰🥰


__ADS_2