Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Kabar Yang Sangat Membahagiakan


__ADS_3

Setelah makan di mall, Rasya dan Puri memutuskan untuk pulang ke rumah.


Puri berjalan semakin pelan sambil menggandeng tangan Rasya 


"Aduh kak, perutku begah banget," keluh  Puri.


"Ya habisnya kamu makan segitu banyak Pur, makanya Kak Rasya bukannya melarang kamu makan, takutnya kamu yang seperti ini."


"Ya habis mau gimana Kak?  nafsu makan Aku lagi baik. Kan kasihan anak kita kalau aku lapar anak kita pasti ikutan lapar."


"Iya tapi kan susah juga kalau kamu sampai kesulitan jalan kayak gini."


"Aduh kak, berhenti dulu deh perutku nggak enak banget."


Mereka pun berhenti dan duduk di salah satu bangku yang ada di salah satu koridor.


Rasya melirik penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Udah mau magrib Pur, yuk kita pulang nanti diomelin Mommy, katanya kamu kan nggak boleh pulang lewat magrib."


"Aduh kak tapi sepertinya Puri nggak bisa jalan."


"Ya udah aku gendong kamu saja Pur."


"Iya deh."


Puri naik ke atas punggung Rasya. Kemudian mereka  berjalan menuju lift dengan santai, tanpa memperdulikan orang-orang yang tengah memperhatikan mereka.


***


Di dalam mobil, Puri merasakan perutnya yang terasa begah hingga dia bersandar pada jok mobil.


Puri begitu gelisah sampai mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.


"Kamu nggak apa-apa kan? kalau perut kamu nggak enak kita ke rumah sakit saja yuk kita periksa."


"Ah nggak kok Kak, kita cepat pulang saja."


Rasya membawa laju mobilnya. Dan tiba di rumah, beberapa saat sebelum adzan maghrib berbunyi.


"Assalamualaikum," ucap keduanya.


Ternyata Bu Mita dan Pak Wilmar sudah menunggu kehadiran mereka.


"Dari mana kalian pulang magrib-magrib seperti ini?" Tanya Bu Mita.


"Dari belanja Mom, sekalian ajak Puri jalan-jalan. Bentar lagi kan dia ujian biar gak stres."

__ADS_1


Bu Rita melirik ke arah setumpuk belanjaan yang sengaja dibiarkan di ruang tamu.


Rasya dan Puri mengikuti ekor mata bu Mita. Keduanya pun tersenyum nyengir.


"Siapa yang suruh kalian belanja sebanyak ini?  padahal usia kandungan Puri Baru 4 bulan?"


"Nggak ada yang nyuruh Mommy, tadi kita lewat di toko perlengkapan bayi, jadi aku sama Puri putuskan untuk berbelanja perlengkapan untuk anak kami nanti," tutur Rasya.


"Tapi kenapa sebanyak itu?" tanya bu Mita.


"Tadi Puri maunya belanja perlengkapan bayi perempuan, tapi Kak Rasya memilih perlengkapan bayi laki-laki, karena nggak ada yang mau ngalah, ya Jadi kami beli dua-duanya," tutur Puri.


"Aduh Kalian ini Sudah mau jadi orang tua, masih seperti anak kecil saja. Gak ada yang mau mengalah. Menurut orang tua mommy, nggak boleh kalau beli perlengkapan bayi sebelum usia kandungan 7 bulan lagi pula Kalian kan nggak tahu jenis kelamin anak kalian itu apa!" Omel bu Mita.


"Sudahlah Mommy,biarkan saja. Kalau nggak terpakai nantikan kita bisa sedekahin," sahut pak Wilmar pun beranjak.


"Ayo mending kita siap-siap sholat magrib berjamaah. Rasya, Puri dia ditunggu di mushola."


"Iya Daddy."


Puri dan Rasya naik ke lantai atas melewati anak tangga.


Tak sengaja Bu Mita memperhatikan cara Puri yang berjalan.


"Puri kamu nggak apa-apa?" tanya bu Mita.


"Puri nggak apa-apa Mommy, cuman perut Puri terasa begah karena kebanyakan makan tadi."


"Iya mommy."


Karena terlalu mengkhawatirkan kandungan Puri, setelah shalat Isya Mereka pun pergi memeriksakan Puri ke dokter kandungan.


Menurut mereka, perut Puri itu terlalu besar untuk ukuran hamil 4 bulan apalagi Puri hamil anak pertama mereka jadi mengkhawatirkan keadaan Puri.


***


Setelah shalat Isya Mereka pun mendatangi praktek dokter spesialis kandungan.


Puri dan Rasya duduk bersebelahan.


Agar bisa bernafas lebih lega, Puri pun menyandarkan kepalanya pada pundak Rasya.


"Masih begah Pur?"tanya Rasya sambil mengusap perut puri.


"Masih kak. Kulit di perut aku terasa mengeras, seperti tertarik.


"Ya sudah kita periksa saja semoga saja tidak apa-apa ya," ucap Rasya sambil mencium kening Puri.

__ADS_1


"Almira Puri!" 


"Ayo Put kamu dipanggil."


Rasya menuntun Puri untuk masuk ke ruang pemeriksaan.


Karena ini pemeriksaan pertama Puri, banyak hal yang ditanyakan oleh dokter pada Puri.


"Ada keluhan?" tanya Dokter.


"Perut saya kalau terisi makanan selalu terasa begah. Dan bagian perut saya terasa nyeri dokter.


"Nyeri pada ligamen perut ini terjadi ketika rahim meregang karena harus menopang bayi yang sedang tumbuh. Jadi, jika rahim meregang, maka ligamen juga ikut meregang, masih bersifat normal."


"Oh begitu dokter."


"Oke kalau begitu kita lakukan USG."


"Puri berbaring kemudian bagian perutnya dibuka oleh seorang suster. Setelah diberikan gel khusus dokter mengarahkan tranduser kebagian perut Puri."


"Masya Allah, ternyata hamil anak kembar," ucap dokter.


"Anak kembar dokter?" tanya mereka semua dengan perasaan bahagia.


"Iya, anak kembar."


"Alhamdulillah. Puri mommy bahagia punya cucu kembar. Kamu memang menantu kesayangan."


'Hah, menantu kesayangan. Memangnya menantu mommy ada berapa?" tanya Puri.


'Maksud mommy, mommy bener-bener gak salah pilih menantu, karena sebentar lagi mommy punya dua cucu."


'Iya Pur, semoga saja kita punya anak kembar sepasang," ucap Rasya sambil memeluk Puri.


"Iya kak biar gak rebutan lagi."


"Hm, ibu, bapak nanti saja ya ngobrolnya. Kita lanjutkan pemeriksaannya," ucap dokter.


"Eh, iya dokter sampai lupa,saking bahagianya," ucap bu Mita.


Mereka terlalu bahagia dengan berita kehamilan Puri, apalagi hasil pemeriksaan tersebut janin yang ada di dalam rahim Puri tumbuh dengan baik.


Di dalam mobil.


Puri bersandar pada Rasya dengan kaki yang berselonjor sementara Rasya memeluk sambil mengusap perut Istrinya.


Pasangan muda itu terlihat bahagia begitupun dengan bu Mita dan pak Wilmar.

__ADS_1


Pulang dari rumah sakit, bu Mita segera menelpon arsitek untuk renovasi kamar yang akan di gunakan untuk calon cucu kembarnya. 


Bersambung 


__ADS_2