
Setelah pulang dari kampus Bram dan Sherly pulang ke rumah Bram.
"Bram ngomong-ngomong nyokap lu mau nggak ya, terima gue sebagai menantu."
"Ya mau nggak mau lah," sahud Bram.
"Hah loh kok gitu sih Bram, terpaksa banget kayaknya nyokap lo," dengus Sherly.
" Haha, Lo tau kan tulisan security seal ? Do not accept if the seal is broken."
"Tau lah. Di botol kecap juga ada, trus apa hubunganmu dengan gue," sahut Sherly mendengus
"Ada dong Yang."
Bram tersenyum.
"Apa?" tanya Sherly.
"Nyokap gue pernah bilang, kalau mau beli barang periksa segelnya dulu,apa pun itu. Jangan diterima apa bila segelnya rusak, nah kalau segelnya gue yang rusak ya gak apa, toh di retur juga gak bisa lagi kan jadi ya mau gak mau, nyokap gue harus terima lah," sahut Bram.
Sherly melotot bola matanya
"Hah?!" Maksud lo mau samain gue sama botol kecap?!" Bola mata Sherly melotot.
"Jahat banget sih loh!"
Plak… satu tamparan mendarat di pipi Bram.
"Ih, ih main gampar aja lo Sherly, baru satu hari menikah sudah KDRT aja," dengus Bram sambil mengusap pipinya yang merah karena dipukuli Sherly.
'Habisnya loh jahat banget! Mentang-mentang mahar gue cuma sembilan belas ribu, loh samain dengan botol kecap!" dengus Sherly
"Bukan gitu Yang maksudku. Karena aku sudah tahu jika kamu masih perawan saat kita menikah, pasti mama ku akan terima kamu kok. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, begitupun mama ku. Cukup menjelaskan semua yang terjadi dan bilang saja padanya jika kita sudah melakukan ritual malam pertama," ucap Bram.
"Oh jadi kalau seandainya aku sudah tak virgin lagi, kamu mau tinggal kan aku?" tanya Sherly.
'Ehm mungkin."
"Kenapa?" tanya Sherly.
"Aku gak maulah rugi. Aku akan pertahankan hubungan jika wanita itu menjaga kehormatannya, jika dia menjaga kehormatan kita bisa lihat akhlaknya, berarti harga dirinya tinggi."
"Ehm meskipun aku matre?" tanya Sherly sambil mengulum senyumnya.
Bram tersenyum sambil menarik kepala Sherly di pundaknya.
"Sudahlah Yang, nanti kamu akan tahu jika materi belum tentu membuat orang bahagia. Akan ku buat kau bahagia dengan caraku sendiri," ucap Bram.
Sherly melingkar tangannya di perut Bram.
'Ternyata Bram romantis juga ya,' batinnya sambil tersenyum.
Mereka pun tiba di rumah orang tua Bram.
Kebetulan saat itu hanya ada ibunya saja.
"Assalamualaikum," ucap Bram ketika di depan pintu rumahnya.
Bu Lastri berjalan menuju pintu sambil mengintip di jendela.
"Bram dan Sherly?" gumamnya.
Bu Lastri mengenal Sherly sebagai pacarnya Rasya, selain itu dia juga mengenal Sherly sebagai gadis matre dari cerita Bram sendiri.
"Ngapain Bram bawa Sherly kemari? Apa ada Rasya juga?" gumamnya.
Pintu rumah pun terbuka.
"Darimana saja kamu Bram, semalam gak pulang eh pulang malah bawa cewek?' tanya bu Lastri sambil bersedekap menatap ke arah Sherly.
Sherly jadi insecure melihat tatapan Bu lastri yang sepertinya tidak suka dengan kehadirannya.
Bram menghampiri bu Lastri kemudian mencium punggung tangannya.
Begitupun dengan Sherly dan juga mencium punggung tangan bu Lastri.
"Ayo Yang masuk dulu," ucap Bram sambil menggenggam tangan Sherly.
Bu lastri membelalakkan bola matanya mendengar panggilan sayang Bram terhadap Sherly.
Mereka pun duduk berdekatan.
Bu Lastri mendaratkan bokongnya di atas sofa, tepat berhadapan dengan keduanya.
__ADS_1
"Ada apa ini Bram?" tanya Bu Lastri ketika melihat gelagat aneh dari Bram.
"Aku mau beritahu Mama sesuatu."
"Apa itu Bram?" tanya bu Lastri sambil menatap dengan penuh kecurigaan.
"Aku dan Sherly sudah menikah Ma."
Seketika bola mata Bu lastri melotot
"Menikah? Tapi kenapa bisa Bram?! Bukannya Sherly itu pacarnya Rasya, atau kalian berdua pernah berhubungan dan Sherly sampai hamil?" terka bu Lastri.
"Bukan begitu Ma, semalam aku dan Sherly kepergok di dalam kamar oleh ketua RT dan beberapa warga. Jadi aku diminta untuk bertanggung jawab dengan menikahi Sherly, padahal tadi itu kami tidak melakukan apapun. Dan semua hanya salah paham."
"Apa kata kamu? Salah paham. Bagaimana bisa seorang perempuan dan seorang laki-laki yang bukan mahramnya berada di dalam satu kamar terus kepergok Pak RT. Pasti mereka punya alasan kuat untuk menikahkan kalian, Mungkin kalian sudah berbuat."
Bram memutar bola matanya dia juga enggan memberitahu kejadian sesungguhnya jika semua ini rencana orang tua Sherly untuk menjebak Rasya.
"Ya mama, mungkin kelihatannya seperti itu, tapi bukan seperti itu kejadiannya. Yang jelas sekarang aku dan Sherly sudah sah menjadi suami istri dan aku minta Mama untuk menerima Sherly sebagai menantu."
Bu lastri menatap ke arah Bram.
"Kenapa jadi tiba-tiba seperti ini Bram, Apa karena kamu dijebak. Atau Rasya yang meminta kamu untuk menikahi Sherly?"
"Nggak kok ma, ini semua nggak ada hubungannya dengan Rasya. Rasya juga sudah tahu kalau kami sudah menikah."
"Kamu jangan bodoh Bram kamu jangan mau dimanfaatin Sherly."
Sherly tertundum sambil meneteskan air matanya.
"Sumpah Sherly nggak memanfaatkan aku Ma, kami berdua sama-sama terjebak."
Bu lastri menghempas nafas kasar.
"Lagi pula aku dan Sherly sudah melakukan ritual malam pertama kami Ma, dan ternyata Sherly adalah gadis yang mempertahankan kesucian. Aku gak kecewa dan menyesal sama sekali ma menikahi Sherly," ucap Bram dengan sungguh-sungguh.
Bu lastri menatap ke arah Bram yang terlihat serius.
"Bener begitu Bram?"
"Iya ma kami hanya minta doa restu mama."
"Baiklah jika memang kalian sudah menerima pernikahan kalian, mama bisa apa. Mama hanya akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Mama akan bicarakan ini pada papah dan kakek kamu. Mungkin kita akan menikahkan kamu secara resmi di KUA. Agar status pernikahan kalian resmi di mata hukum."
Bram dan Sherly saling melempar senyum.
"Karena kalian berdua sudah menikah, Mama harap kalian merubah sifat kalian yang masih kekanak-kanakan. Tata masa depan kalian baik-baik ya Nak. Dan kamu Bram kamu sekarang punya tanggung jawab dunia dan akhirat terhadap Sherly, jadilah imam yang baik untuk keluarga kecil kamu."
"Iya Ma, insyaallah."
Setelah meminta doa restu pada Bu lastri Bram bermaksud untuk menemui Rasya. Dia membawa Sherly beristirahat di kamarnya, sedang Bram menyiapkan CV lamaran.
"Yang, Aku mau menemui Rasya, katanya dia akan memberikan aku pekerjaan. Kamu mau ikut?"
"Gak ah males."
Bram tersenyum.
'Ya sudah, kamu sama mama aku saja ya. Kalian berdua harus saling mengenal."
"Iya Bram."
"Aku cabut dulu."
Bram mencium kening dan bibir Sherly. Setelah itu dia berangkat ke kantor Rasya.
***
Tiba di kantor Rasya Bram langsung menuju ruangan Rasya.
"Assalamualaikum pak Bos," ucap Bram.
Rasya menoleh ke arah Bram.
"Wah kelihatan segar kamu Bram," goda Rasya.
"Elo juga loh, sudah makin seger saja," balas Bram tersenyum.
Rasya dan Bram saling melempar senyum kemudian mereka tertawa.
"Sepertinya kita sepemikiran ya Bro?" tanya Rasya
"Sepertinya begitu," sahut Bram.
__ADS_1
Haha mereka kembali tertawa kecil
"Berapa ronde lo semalam?" tanya Bram lagi sambil menaik turunkan alisnya.
"Dua, lo sendiri?"
"Dua juga," sahut Bram.
"Haha, lo memang gak mau kalah ya."
"Gak mau. Minimal seri lah," sahut Bram lagi.
Mereka saling melempar senyum kembali.
"Oh ya,Bro. Gue datang untuk melamar pekerjaan," ucap Bram sambil menyodorkan sebuah map.
Rasya tersenyum.
"Apa perlu gue baca lagi, sedangkan gue sudah tahu seluk beluk lo Bram," sahut Rasya.
"Ya ini kan cuma formalin Bro."
"Formalitas kali," sahut Rasya.
"Hehe itu maksudnya." Bram tersenyum nyengir.
"Oke Bro, jadi asisten pribadi gue mau gak?" tanya Rasya.
"Hah, lo nanya gue?"
"Iya lo mau gak, kalau gak mau gue pilihkan kerjaan yang lain."
"Bisa gitu ya Ras, gue yang butuh kerjaan, trus gue bisa pilih-pilih gitu? Istimewa banget gue, jadi kagak enak gue," cetus Bram.
Rasya menyunggingkan senyumnya.
"Lo mau gak, banyak bacot banget lo, pakai istilah kagak enak segala."
"Hehe, pura-pura jaim lah bro. Iya gue maulah jadi asisten lo Bro."
"Oke, kalau gitu lo mau gaji berapa sebulan?" tanya Rasya sambil menatap Bram yang bingung.
"Ya terserah lo lah Bro. Kan lo bos nya."
"Ehm, kalau gue beri gaji UMR mau gak?" tanya Rasya
Hah, Bram melongok.
Bram menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Ya udah deh Bro, gak apalah. Nanti gue cari samping aja di luar. Alhamdulillah udah punya kerjaan tetap," sahut Bram.
Rasya tersenyum.
"Kok lo senyum gitu sih Ras?"
"Udah, lo ngomong aja, berapa Sherly minta jatah loh sebulan?" tanya Rasya sambil tersenyum.
Hah, Bram kaget mendengar penuturan Rasya.
"Gue beri luh gaji sepuluh juta sebulan, cukup gak?" tanya Rasya.
"Hah, gede juga bro. Kok lo tau gue butuh gaji sebesar itu?"
Rasya tersenyum.
"Karena lo nikah sama Sherly, kalau lo nikahnya sama orang lain mungkin gue gak akan tahu."
"Hehe, lo pengertian juga ya Bro. Makasih banget," sahut Bram
"Iya Bram, kita itu teman, sesama teman memang harus pengertian," ucap Rasya.
Bram berdiri, begitu pun Rasya kemudian mereka saling berpelukan.
"Terima kasih Bro. Meskipun lo sering bikin kesel tapi lo memang teman terbaik gue," ucap Bram.
"Sama Bro, meski lo sering manfaatin gue, tapi memang cuman loh temen baik gue," balas Rasya.
Pintu ruangan Rasya terbuka dan tak sengaja bu Mita melihat keduanya saling berpelukan.
"Rasya! Bram! Apa-apaan kalian?!"
__ADS_1