Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Menemukan Puri


__ADS_3

Setelah berhasil mengambil tas Puri dan mengunci Puri di toilet.


Xena, Gisel dan Aura mencari kontak bu Mita yang di dalam kontak Puri di tulis dengan mommy.


Mereka pun mengirim pesan kepada bu Mita.


"Sudah beres," ucap Xena setelah selesai mengirim pesan tersebut.


Ketiga tersenyum menyeringai.


"Gue yakin si Puri pasti gak bakalan ditemukan sebelum malam hari. Pasti dia ketakutan banget di toilet sendirian haha."


"Mudah-mudahan saja dia diganggu oleh penghuni toilet sekolah.


Haha, gak bisa gue bayangkan bagaimana wajah Puri ketakutan."


"Haha, pengen gue rekaman rasanya."


"Iya,pasti asik tuh lihat wajah yang begitu ketakutan. Pengen banget gue rekam terus sebarin di group-group sekolah."


"Iya, tapi sayangnya kita bisa melakukan itu karena bisa ketahuan."


"Iya juga sih."


"Sudah yuk, kita dengar kabar besok pagi saja bagaimana kabarnya si Puri, sebelum ada yang tahu dengan perbuatan kita kita pulang yuk. Sebelum itu kita sembunyikan tas puri dulu di suatu tempat," ajak xena.


Mereka pun berjalan menuju halaman belakang sekolah mereka.


Kemudian menyimpan tas Puri di sebuah bangku yang ada di halaman belakang tersebut.


Setelah itu mereka bertiga pergi dari situ.


Bu Ratna melirik jam tangannya. Sudah sepuluh menit lebih menunggu Puri.


"Aduh si Puri mungkin lupa kali ya, terus nyelonong pulang."


"Ya sudah deh. Besok saja lah."


Bu Ratna keluar dari kantor tak sengaja mereka berpapasan dengan Xena, Gisel dan Aura.


"Eh, Kalian bertiga ada melihat Puri nggak?"


"Puri, Bukannya tadi dia pulang sama lah Lisa Bu."


"Oh begitu ya Ya sudah Mungkin dia lupa."


Bu Ratna pun pulang.


Ketiganya kembali tersenyum.


***


Waktu menunjukkan pukul empat sore. 


"Aduh Kenapa Puri belum menelpon juga ya?" gumam Rasya.


Rasya pun menelpon bu Mita. 


"Halo mommy, apa Puri ada menelpon mommy?" tanya Rasya.


"Gak ada tuh. Kamu belum jemput Puri?"


"Belum Mommy, dia sendiri belum menelpon."


"Kalau begitu kamu susul saja puri di sekolah Rasya, mungkin dia gak ada kuota untuk menelpon kamu." Nada bicara Bu Mita begitu panik.


"Iya Mommy, aku susul Puri ke sekolahnya sekarang."


"Iya Rasya. Mommy coba telpon Puri lagi."


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Rasya bergegas menjemput Puri di sekolah.


Sekitar 20 menit Ia pun tiba di depan sekolah.


Saat itu pagar gedung sekolah Puri tertutup rapat. Gedung tersebut pun terlihat begitu sepi.


Rasya  memarkirkan mobilnya kemudian ia berjalan menghampiri satpam.


"Permisi Pak, apa Di sekolah masih ada kegiatan?"


'Oh tidak ada Mas. Karena ini semester akhir jadi kegiatan ekstrakurikuler ditiadakan agar siswa fokus belajar."


Rasya kaget mendengar penuturan dari satpam itu.


"Hah, tidak ada?!"


"Iya tidak Ada, memangnya kenapa?"


"Saya mencari Puri Pak. Katanya Ayah ikut tes dalam pengajuan beasiswa."


"Tes mendapatkan beasiswa?, bukannya tes itu  sudah diikuti Beberapa bulan yang lalu."


"Hah masa' Pak?" Rasya semakin kage


"Iya Mas sudah tidak ada tes. Anak-anak kelas 12 justru dianjurkan untuk belajar di rumah karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian akhir nasional."


"Hah, lalu di mana Puri?" tanya Rasya bingung.


"Apa Puri berada di rumah temannya?" tanya Rasya lagi.


"Tapi tidak mungkin. Puri tak mungkin berbohong. Pasti ada yang tak beres."

__ADS_1


Rasya mulai panik. Dia khawatir Puri mendapatkan hukuman atau ada oknum guru atau murid yang mengerjai Puri.


"Apa tidak ada seorang guru pun di dalam sekolah ini?" tanya Rasya lagi.


"Oh ada. Biasa nya, para guru mengerjakan tugas penilaian mereka setelah jam sekolah berakhir."


"Pak, saya tahu Puri dia pasti tidak berbohong. Apa boleh saya memeriksa seisi gedung sekolah untuk mencari keberadaan Puri pak?" tanya Rasya.


"Oh silahkan saja Mas, tapi saya tidak bisa menemani ya, Karena saya harus bertugas menjaga keamanan di luar gedung."


"Iya Pak tidak apa-apa. Saya bisa sendiri."


Rasya pun berlari masuk ke dalam gedung. 


"Puri! Puri!" teriak Rasya menggema.


Mendengar teriakkan Rasya beberapa guru yang masih berada di kantor segera keluar dan mencari sumber suara.


Kemudian mereka menghampiri Rasya yang satu persatu mengamati pintu di ruang kelas.


"Ehm ada apa ya ini Mas?"tanya salah seorang guru ketika mereka saling berhadapan.


"Eh,saya suaminya Puri Pak. Saya mencari keberadaan Puri. Dia mengirimkan pesan kepada ibu saya jika hari ini ada tes untuk mendapatkan beasiswa. Tapi setelah saya konfirmasi ke Pak satpam, katanya hari ini tidak ada tes apapun."


"Iya benar Mas, karena ini sudah menjelang ujian akhir nasional kami tidak mengadakan ekskul di sekolah."


"Apa mungkin Puri ke rumah temannya."


"Oh iya pak Tapi saya tidak tahu di mana rumah teman Puri."


"Baiklah Mas saya lihat daftar alamat siswa dulu.*


"Puri itu berteman baik dengan Lisa. Mungkin Lisa tahu Di mana keberadaan Puri saat ini," guru yang satunya lagi.


"Baik Pak."


"Ehm pak. Apa di sekolah ini ada CCTV?" tanya Rasya.


"Oh ada. Tapi kita tak bisa masuk ke ruangan kepala sekolah karena di kunci."


"Oh ya sudah Pak kalau bisa minta tolong alamat Lisa temannya bisa kan?" tanya Rasya 


"Bisa, saya Wakakesiswaan. Jadi semua daftar murid saya ada pada saya."


Rasya dan kedua  guru itu pun masuk ke sebuah ruangan.


Pak Waka kesiswaan menginput nama Lisa dan kelasnya.


Terdapat lah alamat dan nomor telepon Lisa.


Setelah mendapat nomor Lisa mereka mencoba untuk menghubungi Lisa.


"Halo Lis, apa Puri ada di rumah kamu Lis?" tanya Rasya  dengan jantung yang berdebar.


"Saya Rasya  suaminya Puri."


"Oh Kak Rasya, Puri nggak ada bersama saya."


"Kira-kira Puri ke mana ya Lis?"


"Loh Memangnya kak Rasya  gak jemput Puri tadi siang saat pulang sekolah."


"Puri kirim pesan Jika dia tengah menjalani tes dan meminta saya menjemput pada sore hari. Namun setelah saya tiba di sekolah ternyata tidak ada kegiatan apapun di sekolah ini."


Mendengar hal itu Lisa menjadi panik.


"Ke mana perginya Puri Kak? Padahal katanya setelah menemui guru dia mau langsung pulang."


Saya kuga tak tahu.


"Oh ya Lis apa Puri punya teman dekat lagi?"


"Oh bentar ya Kak aku telepon Keenan dulu, Siapa tahu dia tahu di mana Puri."


"Baiklah Lis."


Setelah beberapa saat Rasya kembali ditelepon oleh Lisa.


"Bagaimana Apa ada yang tahu kabar Puri?"


"Nggak ada kak, Puri juga gak sedang bersama Keenan."


Mendengar itu  seketika jantung Rasya  berdetak kencang, tubuhnya pun terasa lemas.


"Ya Allah kemana perginya Puri."


"Bagaimana Mas, apa si Puri ada kabarnya? Tanya salah satu guru.


"Temannya nggak ada yang tahu Pak."


"Apa boleh saya memeriksa seluruh sekolah ini. Saya takut ada yang jahil terus mengurung Puri di suatu tempat."


"Ayo Pak kalau begitu sama-sama kita geledah gedung ini untuk mencari keberadaan Puri."


Salah seorang guru. Dengan menggunakan mikrofon sekolah memanggil Puri.


"Tes tes Puri! Di mana kamu! Jika kamu berada di suatu ruangan yang terkunci, Tolong segera beritahu kami dengan menggedor kaca kaca jendela ruang kelas."


Suara itu pun terdengar di seluruh bangunan sekolah.


Puri yang terbaring lemah tak berdaya mendengar seruan dari speakers yang ditanam di atap plafon di sepanjang koridor.

__ADS_1


Puri kembali bangkit meski tubuhnya merasa lemah. Coba untuk menggedor-gedor pintu.


Namun karena toilet berada di bagian paling ujung dari gedung tersebut suara Puri tidak kedengaran.


Sementara kedua guru mengamati satu persatu kaca jendela dari gedung berlantai tiga itu.


Rasya masih mencoba menghubungi Puri lewat sambungan teleponnya.


Dia berjalan-jalan melewati sepanjang koridor. Tapi sambungan teleponnya tidak masuk.


Tok tok tok. 


Ketika melewati pertigaan koridor Rasya mendengar suara gedoran pintu.


"Puri!"


Tolong! Tolong!" teriak Puri.


"Pak Puri di toilet!" Seru Rasya ke arah guru yang ikut mencari keberadaan Puri.


Rasya kemudian menghampiri Puri.


"Puri! Apa itu kamu?!" tanya Rasya


'Hiks kak Rasya!" tangis Puri.


"Iya Puri kak Rasya datang! Kamu minggir dari situ biar aku dobrak pintunya!"


Rasya mengambil ancang-ancang. Kemudian dia berusaha menerobos pintu itu dengan tubuhnya.


Akh! Namun pintu itu terlalu kokoh.


Salah seorang guru kemudian datang membawa palu dan alat-alat lainnya.


"Mas minggir saja Mas. Biar saya rusak saja handle pintunya."


Guru itu pun memukul handle pintu dengan keras hingga merusak handle pintu itu.


Kreak pintu itu pun terbuka.


Rasya begitu kaget melihat keadaan sang istri yang begitu pucat dengan mata yang sembab


"Puri!"


"Hiks kak Rasya!"


Keduanya pun menghambur saling memeluk haru.


"Hiks hiks," tangis Puri sambil memeluk Rasya.


"Kamu nggak papa kan?" tanya Rasya sambil mengusap kepala Puri.


"Puri takut Kak ,Bagaimana kalau Puri terkunci sampai malam Puri kan takut gelap."


"Iya Iya Sayang, lain kali kalau kalah saya jemput kamu kakak akan langsung jemput kamu ke kelas."


"Hiks hiks," zangus Puri dengan tubuh yang gemetar.


"Syukurlah kamu sudah ditemukan Pur, kak Rasya khawatir sekali," ucap Rasya.


Rasya merenggangkan pelukannya.


Kemudian dia mencium perut Puri.


"Kandungan kamu gak apa-apakan Pur?"


"Iya Kak. Tidak apa-apa."


"Siapa yang telah melakukan ini pada kamu Pur?" tanya Rasya.


"Iya Puri, Siapa yang sengaja mengunci kamu di dalam toilet?" tanya seorang gurum


"Hiks hiks nggak tahu," tangis Puri. Dia masih begitu syok, bahkan tubuhnya sambil menggigil.


"Baiklah nanti dari pihak sekolah akan menyelidiki siapa pelaku yang telah sengaja mengunci Puri di toilet."


"Iya Pak saya juga menuntut sanksi dari apa yang telah menimpa Puri, peristiwa perundungan ini tidak boleh dibiarkan!"


"Iya, kami akan berikan sangsi tegas Mas. Besok datang lah ke sekolah untuk melaporkan langsung kejadian ini kepada kepala sekolah."


"Baiklah."


"Ayo Sayang ayo kita pulang," ajak Rasya sambil menggenggam tangan Puri yang gemetaran.


"Kamu kuat jalan?" tanya Rasya


"Iya kak," sahut Puri lirih.


Karena tak tega melihat tubuh Puri yang lemah Rasya pun mengangkat tubuh Puri yang mungil itu sampai ke mobil.


Keadaan Puri sungih mengenaskan dengan bibir pdan wajah yang pucat seperti mayat.


"Ya Allah semoga tak terjadi sesuatu pada istri," guman Rasya.


Setelah itu, di dalam mobil  Puri diberi minum air putih untuk menghilangkan dehidrasinya.


Setelah minum air, Puri justru merasa tubuhnya semakin lemah, dia pun bersandar pada sandaran jok mobil sambil menghempas nafasnya. Beberapa saat kemudian Puri mengambil nafas panjang kemudian di hembuskan dengan kuat. Setelah itu Puri tak bergerak lagi


"Pur, kamu tidak apa-apa kan?"taya Rasya panik sambil mengusap kepala Puri.


 Rasya terus membangun Puri dengan mengguncang-guncang tubuhnya. Namun Puri tidak juga sadar. Setelah itu dia langsung membawa mobilnya menuju rumah sakit.

__ADS_1


 


 


__ADS_2