Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Pergi sekolah


__ADS_3

"Aduh Papi Kenapa Papi pakai ngancem mau lewat jalur hukum segala sih, kita pasti kalah lawan mereka, apalagi kita nggak punya duit untuk bayar pengacara nggak seperti mereka." Protes Bu Rosa.


"Tenang saja Mami mereka pasti nggak bakalan bawa kasus ini ke meja hukum, mereka bisa malu sendiri, mereka kan orang penting yang harus menjaga nama baik. paling juga nantinya mereka yang minta damai sama kita."


"Oh begitu ya Papi. Tapi bagaimana kalau mereka nggak mau damai juga yang kita membatalkan pernikahan ini."


"Pokoknya apa pun yang akan terjadi Rasya dan Sherly harus menikah. Kalau nggak nikah, Papi  bisa malu sama temen-temen papi. Papi sudah bilang sama mereka kalau awal tahun nanti Papi bakalan punya mobil baru."


"Mami juga Papi, teman-teman Mami sudah tahu kau calon menantu kita itu seorang presiden direktur di perusahaan W&M Corporation. Apa kata mereka kalau sampai Sherly dan Rasya batal menikah, Mami Pasti dibilang bohong, dan tukang halu."


Sherly melihat kedua orangtuanya yang sedang berdiskusi.


"Kamu Si Sherly, Bagaimana bisa Rasya sampai membatalkan pernikahan ini. Katanya Rasya cuma cinta sama kamu, katanya dia cuma sayang sama kamu? "


" Ini semua tuh gara-gara Puri. Pasti dia sengaja tuh menggoda Rasya, pakai bunting segala."


"Heh, Kamu tuh yang bodoh Sherly, itu berarti si Puri satu langkah lebih pintar dari kamu. Kamu bayangkan betapa beruntungnya jika dia menikahi Rasya.Rasya itu pewaris tunggal bu Mita dan pak Wilmar. Siapa sih yang gak mau jadi istrinya Rasya!" Omel bu Rosa.


"Dih kok Mami malah nyalahin aku sih. Katanya aku nggak boleh bergaul bebas dan harus menjaga kesucian ku supaya bisa menikahi cowok tajir, makanya aku gak pernah macem-macem sama Rasya," sahut Sherly.


"Aduh duh! Kalau cowok sembarangan emang gak boleh. Kalau yang seperti Rasya, boleh dong,apalagi Rasya itu gampang diatur banget."


"Hah, Memangnya Mami  izinkan?" tanya Sherly.


"Alah kita ini udah kepepet Sherly. Kamu lakukan saja segala cara biar Rasya mau menikahi kamu dan meninggalkan Puri itu. Kalau nggak gitu bagaimana kita bayar hutang-hutang kita nanti?" Tegas bu Rosa.


"Ehm iya deh, nanti aku pikirkan."


"Kalau mau bergerak itu cepat sedikit Sherly! Pikirkan baik-baik bagaimana kamu bisa memanfaatkan Rasya. Waktu kita sudah mepet dan kepepet."


"Iya mommy! Nanti akan ku pikirkan."


Sherly naik ke lantai atas kamarnya.


Dia langsung memikirkan bagaimana agar Rasya  tetap menikah dengannya.


"Aduh bagaimana ya biar Rasya tetap nikah sama gue. Kasihan nyokap dan bokap gue kalau gue batal nikah sama Rasya, pakai apa mereka mau bayar hutang mereka. Padahal rencananya udah mateng banget eh bisa gagal gini."


Sherly mondar-mandir di kamarnya beberapa saat kemudian ia berpikir sebuah ide.


Tiba-tiba dia terpikir sebuah ide klasik, seperti yang ia baca di novel-novel.


"Kalau pakai cara klasik seperti ini kira-kira bisa berhasil nggak ya? Gumam Sherly.

__ADS_1


"Ah bodo amat lah. Kalau nggak nekat nggak berhasil."


***


Keesokan harinya kondisi Puri sudah cukup membaik. Karena minggu ini dia memang ada ujian Puri terpaksa ke sekolah untuk ikut ujian.


Puri merapikan buku-bukunya memasukkannya di dalam tas kemudian memakai seragam sekolahnya.


Bibirnya masih tampak pucat untuk mengakalinya Puri memakai bedak two way cake dengan lipbalm berwarna natural.


"Percuma juga aku menghindar, toh mereka semua tahu dengan keadaanku. Untuk apa memikirkan omongan orang-orang, lebih baik aku pikirkan masa depanku dan anak yang ada dia dalam kandunganku. Aku harus sekolah aku harus bisa mendapatkan beasiswa agar aku bisa kuliah untuk masa depanku nanti," gumam Putri sambil merapikan meja riasnya.


Setelah semua beres, Puri keluar dari kamarnya. Kebetulan saat itu dia berpapasan dengan Rasya.


Keduanya saling memandang. Namun tak seperti biasanya kali kita tatapan Puri lebih tajam dari Rasya.


Tanpa bicara Puri langsung turun ke lantai bawah.


Puri berencana langsung berangkat tanpa sarapan.


Puri turun dari tangga dan kembali berpapasan dengan Bu Mita.


"Loh Puri,  kamu sudah mau sekolah Nak?"


"Pur, kalau kamu gak nyaman sekolah di sana. Kamu bisa homeschooling kok. Jadi kamu gak denger yang macam-macam tentang kamu."


"Nggak apa Mommy aku bisa hadapi sendiri kok."


"Ya sudah, hati-hati ya Nak."


"Iya mommy, Puri berangkat dulu ya."


Setelah pamit pada bumita dan Pak Wilmar Putri berangkat bersama sopir pribadinya.


***


Tiba di sekolah keadaan sekolah cukup sepi. Tak seperti biasa ada Lisa yang selalu menanti kehadiran Puri.


Turun dari mobil Puri berjalan dengan langkah mantap menuju kelasnya. Sejak berjalan memasuki gerbang sekolah banyak pasang mata yang mengamati Puri  dan membicarakannya.


"Ih nggak tau malu banget ya sudah bunting masih saja mau sekolah," bisik salah satu siswi kepada temannya.


Kebetulan Puri saat itu mendengar. Mungkin karena hormon ibu hamil yang membuat emosinya seperti roller coaster, Puri yang biasanya bersifat kalem kini berubah.

__ADS_1


Dia menghampiri dua anak gadis itu. Dan menatap kedua Gadis itu dengan tatapan nyalang.


"Memangnya kenapa kalau aku hamil, aku sekolah? Aku hamil bukan karena pergaulan bebas, tapi karena sudah dinikahkan oleh orang tuaku. Memangnya orang hamil tidak boleh sekolah menggapai cita-citanya?"tanya bernada tegas.


Keduanya terdiam, mereka pikir Puri adalah Puri yang dulu yang jika dihina diejek hanya diam.


Puri kembali melanjutkan langkahnya dengan tatapan lurus ke arah depan.


Dia kembali mendengar bisik-bisik tentangnya. Namun karena pembicaraan mereka kurang begitu jelas, Puri mengabaikannya.


Xena, Aura dan Gisel tak menyangka jika Puri masuk sekolah Hari itu. Begitupun dengan Lisa.


Trio yang suka bikin onarr itu kemudian berjalan menghampiri Puri.


"Masih mau sekolah loh Pur, nggak malu sama kita semua yang sudah tahu kelakuan lo,"ucap aura.


"Kelakuan gue? Kelakuan gue yang mana?"tanya Putri dengan ngotot.


Gisel tersenyum miring dia menghampiri Puri.


"Ya kelakuan yang sampai bunting? Padahal masih sekolah."


"Iya gue memang masih sekolah. Tapi sebelumnya gue sudah pernah menikah. Yang terpenting gue bukan hamil di luar nikah. Terus apa masalahnya dengan lo semua. Apa kedatangan gue mengganggu Kalian bertiga."


Xena mendengus.


"Oh udah mulai berani lo ya sama kita bertiga. Sudah mulai sok jago loh. Apa Lo pikir setelah kejadian itu Keenan mau membela lo Pur?"tanya Xena sambil mendorong dada Puri hingga Puri mundur beberapa langkah ke arah belakang.


"Biasa saja lo! Nggak usah dorong-dorong gue," ucap Puri sambil menepis tangan Xena.


"Eh udah belagu lu sekarang ya! "


"Hehe, mungkin hormon hamil kali makannya dia belagu. Maklum bentar lagi kan udah jadi emak-emak rempong!"


"Sudah Yuk, dia kan gak sevibes dengan kita," ajak Xena pada dia rekannya.


Mereka pun pergi meninggalkan Puri.


Rencananya mereka mau merusak mental Puri agar tak lagi bersekolah. Tapi sepertinya mereka gagal. Karena Puri terlihat lebih tegar dari biasanya.


Bersambung gengs.


 

__ADS_1


__ADS_2