
Setelah berunding bersama keluarganya. Pak Wilmar dan bu Mita mempersilahkan Pak Ali untuk makan bersama keluarga mereka.
Meski sudah dinasehati namun raut wajah Puri belum juga menunjukkan ekspresi bahagia.
"Ayo Pur kita makan sama-sama ajak Rasya."
Rasya menuntun tangan Puri menuju meja makan.
Rasya menarik kursi di meja makan dan mempersilakan Puri untuk duduk.
Sementara pak Wilmar dan Bu Anita hanya tersenyum-senyum melihat sang putra yang coba merayu istrinya.
"Kamu mau makan apa Put ?"tanya Rasya sambil mengaut nasi di piring Puri.
"Apa saja boleh?" Jawab Puri.
Rasya kemudian mengaut nasi dan beberapa lauk dan sayur hingga piring mereka penuh.
Puri sedikit kaget melihat piringnya terisi penuh makanan.
"Kita makan sepiring berdua ya Pur, kali aja Kak Rasya bisa makan setelah ini, biasanya kan aku nggak bisa makan."
Lagi-lagi Bu Mita dan Pak Wilmar hanya bisa tersenyum tapi mereka pura-pura tidak menghiraukan Rasya yang mencoba bucin kepada Puri.
Puri mengambil sendok kemudian menyuap makanan tersebut ke dalam mulutnya.
Sementara Rasya Hanya memperhatikannya.
"Loh Kak Rasya nggak makan?" tanya Puri.
"Nggak nunggu kamu yang suapin."
Puri pemutar bola mata malasnya dia melirik ke arah bu mita dan Pak Wilmar. Tapi kedua orang tuanya terlihat acuh. Mereka pura-pura tidak mendengar ucapan Rasya.
Dengan sedikit dongkol Puri menyendok nasi dan menyuapi nya ke mulut Rasya.
Setelah itu dia menyuap untuk dirinya sendiri, kemudian ia kembali menyuapi Rasya dan begitu seterusnya.
Makan malam terasa khidmat karena tak ada obrolan apapun. Masing-masing mereka menikmati makanan yang tersaji di atas meja.
Bahkan ketiga orang dewasa itu pura-pura tidak peduli dengan apa yang dilakukan Rasya dan Puri di meja makan.
Sepiring nasi dibagi berdua pun habis.
Setelah disuap oleh Puri Rasya mengeluarkan keringat dingin, mungkin sudah beberapa hari ini dia tidak makan hingga metabolisme tubuhnya kembali bekerja.
Wajahnya yang semula tampak pucat kembali seperti semula.
Anehnya setelah disuap oleh Puri ,Rasya tak lagi merasa mual.
Setelah makan mereka berbincang sebentar di ruang tamu, setelah beberapa saat Pak Ali pun memutuskan untuk pamit dan pulang.
Rasya dan Puri pun memutuskan untuk kembali ke kamar mereka, karena waktu juga sudah mendekati larut malam.
Saat berjalan menaiki anak tangga menuju kamar, jantung Puri berdetak lebih kencang. Bagaimana tidak, sesuai anjuran Pak Ali mereka harus melakukan hubungan suami istri di malam itu, sedang Puri masih belum siap karena masih ada sisa-sisa rasa sakit hatinya terhadap Rasya.
Kreak …pintu terbuka dan mereka masuk hampir bersamaan.
Puri langsung naik ke atas tempat tidur dan berbaring sambil menarik selimut.
Dia berharap Rasya tak menyentuhnya karena sejujurnya Puri masih merasa kesal dengan suaminya itu.
__ADS_1
Kleak…seketika lampu di ruangan tersebut mati membuat Puri panik.
Hua…hua . Tiba-tiba saja Puri merasakan sesak napasnya.
"Kak Rasya! Kenapa lampunya di matiin kan!" teriak Puri.
"Oh iya Pur, aku lupa kamu phobia gelap."
Kleak… suasana di kamar kembali terang benderang.
Wajah Puri dipenuhi oleh keringat.
"Maaf ya Pur, kak Rasya lupa. Niatnya sih biar kamu rileks saja, karena kan kita…." Rasya memotong kata-katanya sambil menaik turunkan alisnya dengan maksud memberikan kode pada Puri.
Tak ingin menanggapi, Puri kembali berbaring membelakangi Rasya. Puri begitu deg-degan dia pun mencoba memejamkan matanya.
Rasya merangkul Puri dari belakang menciumi ceruk lehernya sambil membuka kancing Piyama yang digunakan oleh Puri.
Puri merasakan seluruh bulu romanya bergidik karena merasakan sentuhan yang belum pernah dia rasakan.
Satu persatu Rasya membuka kancing piyama Puri.
Dan akhirnya terlepas.
Rasya cukup agresif. Mungkin karena dia sudah berpengalaman.Sementara Puri menggenggam sprei yang digunakan sambil menahan debaran jantungnya.
Takut, tapi juga penasaran, bagaimana rasanya berhubungan suami istri.
Setelah piyamanya terbuka, Rasya melepas kaca mata berenda milik Puri dengan melepaskan pengaitnya.
Secara spontan Puri langsung menutup tubuhnya dengan selimut.
"Ih gak usah dilihat, malu Kak."
"Gak apa-apa nanti juga terbiasa. Karena setiap hari kita akan melakukannya."
"Hah setiap hari? Bukan sebulan sekali?" tanya Puri polos.
"Emangnya terima gaji hanya sebulan sekali," sahut Rasya.
Rasya menatap Puri yang menatapnya dengan penuh ketegangan
Rasya tersenyum sambil mengusap rambut Puri.
"Tenang saja gak sakit kok, gak usah tegang gitu."
Rasya kemudian melakukan foreplay dengan menyusupkan jarinya ke bagian intim tubuh Puri.
Sret… bagai tersengat listrik tubuh Puri berguncang saat jari telunjuk Rasya dengan lincah menggetarkan bagian sensitif dari tubuh Puri.
Akh! teriakan Puri tertahan karena bibirnya langsung disambar oleh Rasya.
Sambil menciumi bibir Puri jemari Rasya terus mengguncang dan menggelitik bagian tersensitif.
Tubuh Puri gemetar ketika gelombang hasrat melandanya membuat bagian bawahnya banjir.
Puri menengadahkan kepalanya mencari udara segar yang semakin sulit didapatkan karena mulutnya terus didesak oleh lidah Rasya yang mengeksplorasi bagian mulutnya
Rasya berhenti ketika merasakan nafas Puri yang memburu.
Rasya tersenyum melihat wajah puri memerah di penuhi kering. Dia kemudian membuka kaos dan celana nya hingga tak ada sehelai benang pun tersisa.
__ADS_1
Kemudian Rasya menarik celana Piyama Puri dengan segitiga pengaman sekaligus.
Rasya mendekatkan wajahnya ke perut Puri kemudian mencium perut Puri yang sudah mulai buncit itu.
"Daddy jenguk ya Nak," ucap Rasya sambil mengusap-usap perut Puri.
Rasya kembali mencium bibir Puri sebelum melakukan penyatuan.
Bola mata Puri merem melek ketika bagian bawahnya terasa dimasuki benda asing.
Tubuhnya kembali bergetar saat permukaan kulit daerah sensitif mereka bergesekan dengan lembut.
Akh! Tubuh Puri bergerak naik turun di atas tempat tidur seirama dengan gerakan Rasya.
Lenguhan terdengar sahut menyahut sepanjang permainan mereka. Rasya memang sengaja bermain mode slow dan hati-hati agar tak menyakiti Puri.
Tubuh Rasya berlumuran keringat, lebih setengah jam keduanya dibawa terbang melayang-layang hingga mencapai puncak nirwana.
Rasya semakin mempercepat Tempo kecepatannya karena gelombang kenikmatan yang sebentar lagi mencapai puncak.
"Akh!" hentakan terakhir Rasya membuat tubuh mereka bergetar.
Rasya memeluk Puri dan mencium berkali-kali. Keduanya pun saling melempar senyum kepuasan.
Rasya bersandar pada headboard tempat tidur sambil mengusap peluh yang terus keluar dari tubuh Puri.
"Mau mandi Yang?" tanya Rasya.
"Iya Kak, gerah banget," ucap Puri sambil mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya.
"Baiklah."
"Mau berendam atau mandi menggunakan shower saja Pur?"
"Pakai shower sajalah. Udah gerah banget."
Puri bangkit dan langsung menuju kamar mandi.
Setelah membuka handuk Puri langsung mengguyur tubuhnya dengan air mancur dari shower.
Setelah seluruh tubuhnya basah,Puri merasa ada tangan yang menyentuhnya dari arah belakang.
Puri tersentak kaget dan berpaling melihat ke arah belakang.
"Kak Rasya!'
Rasya tersenyum mesum.
"Kamu seksi sekali Pur seperti ini," ucap Rasya sambil mendekatkan dirinya pada Puri.
"Ih kak udah dong," protes Puri.
"Sekali lagi ya Pur. Sepertinya sensasi akan berbeda jika di kamar mandi."
Rasya mengencangkan air shower sehingga sensasi seperti berada di hujan deras kemudian dia mendorong pelan tubuh Puri hingga menempel ke dinding dan meregang kaki Puri dan mengangkatnya.
Penyatuan ronde kedua pun terjadi di bawah guyuran air shower yang membuat sensasi berbeda antara hangatnya penyatuan tubuh mereka dan dinginya air shower.
Karena sensasi yang berbeda tersebut, tak butuh waktu lama untuk mencapai puncak *******.
Setelah mandi dan bersih-bersih keduanya pun tertidur lelap. Rasya memeluk Puri dari belakang sesekali dia terbangun dan mencium ceruk leher istrinya.
__ADS_1