
Bu Mita tiba di sekolah. Dia menemui satpam.
"Pak saya ingin menemui anak.saya yang sedang pingsan," ucap pak Bu Mita pada Pak satpam.
"Oh anda ibunya Puri ya?"
"Iya Pak benar."
"Kalau begitu Ibu diminta untuk langsung menemui kepala sekolah."
"Loh tapi saya mengkhawatirkan anak saya Pak."
"Iya bu tapi pesan Bu kepala sekolah seperti itu. Ada ibu sudah ditangani di ruang UKS. Jadi Ibu tenang saja."
"Baiklah kalau begitu."
Satpam mengantarkan bu Mita ke ruangan kepala sekolah.
Bu Mita langsung menemui kepala sekolah.
"Selamat siang Bu," ucap nya ketika berada di pintu masuk ruangan kepala sekolah.
"Selamat siang silahkan masuk ibu."
Bu Mita duduk berhadapan dengan kepala sekolah.
"Ada apa ya Ibu? sepertinya ada sesuatu yang penting. Tadinya saya ingin langsung melihat keadaan Puri, Tapi satpam menuntun saya untuk menemui Ibu terlebih dahulu."
__ADS_1
"Iya Bu, masalah yang saya bicarakan ini adalah masalah yang sangat penting dan sangat pribadi."
Seketika wajah Bu Mita menjadi tegang. Karena melihat wajah kepala sekolah dan juga tegang.
Kepala sekolah menghempaskan nafas kasar.
Kemudian ia menyodorkan alat tespek itu ke hadapan Bu Mita.
Tentu saja Bu Mita kaget.
"Ini hasil tes urine milik Puri," ucap bu kepala sekolah.
Bu Mita memperbesar pupil matanya sekali lagi.
"Maksudku Puri…?"
"Iya benar, Puri hamil."
"Hamil?!"
"Iya, jika kami tidak menyaksikan secara langsung kejadian ini, mungkin saya tidak akan pernah percaya Bu. Karena setahu saya, Puri itu anaknya sopan, baik, cerdas pokoknya tidak pernah neko-neko lah. Itu yang membuat saya menjadi syok. Bahkan teman-teman dan guru lainnya juga syok seperti saya."
Bu Mita menelan ludahnya karena seketika tenggorokannya menjadi kering.
"Ibu, saya tahu orang tua putri sudah tiada. Apa selama ini Puri bergaul dengan bebas?"
"Tidak pernah Bu, Puri anak yang penurut, dia tidak pernah keluar sendirian, selalu diantar dan diawasi terkecuali ke sekolah. Kami benar-benar menjaga Puri."
__ADS_1
"Jika begitu bagaimana hal ini bisa kecolongan. Ini menyangkut masa depan Puri Bu. Bahkan satu sekolah sudah tahu, kasihan sekali Puri," sesal ibu kepala sekolah.
Bu Mita melototkan bola matanya.
'Rasya,Ini pasti perbuatan Rasya,' batin Bu Mita sambil mengepal tangannya karena geram.
Bu Mita menatap ibu kepala sekolah.
"Sebenarnya ini kesalahan kami sebagai orang tua Bu. Jika saya boleh jujur. Puri itu menantu saya."
Kali ini kepala sekolah yang membelakan bola matanya sambil bersandar di kursinya.
"Itu berarti, Puri sudah menikah?"
Bu Mita mengangguk lirih.
"Tapi kenapa, Kenapa tidak menunggu Puri menyelesaikan sekolahnya."
"Sebenarnya saya juga maunya begitu, tapi itu karena permintaan orang tua Puri. Ayahnya ingin menjadi wali nikah Puri sebelum beliau meninggal dunia. Karena itulah kami menikahkan mereka."
"Sayangnya, kini Puri dan anak saya sudah berpisah," imbuh bu Mita dengan lirih
"Astagfirullah!" Ibu kepala sekolah mengucap panjang. Beliau tidak habis pikir.
"Berpisah Bu? Lalu bagaimana dengan nasib Puri sekarang. Dia hamil dari pernikahan yang telah kandas. Saat ini dia juga harus menanggung malu karena hamil dan hal itu sudah diketahui oleh seluruh warga sekolah. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Puri di saat ini Bu. Wajar saja jika Iya sok sampai pingsan," omel Bu kepala sekolah.
"Iya Bu, tapi saya akan meminta anak saya untuk bertanggung jawab dengan menikahi Puri. Dan saya minta agar ibu bisa mengkoordinasi pihak sekolah untuk memberi penjelasan dan pengertian kepada guru dan siswa-siswi untuk tidak membully Puri,Karena kesalahan ini sepenuhnya kesalahan saya sebagai orang tua."
__ADS_1
"Iya Bu saya akan coba."
"Kalau begitu silahkan ibu jemput Puri, saya antar ibu ke ruang UKS."