Pernikahan Singkat

Pernikahan Singkat
Curiga


__ADS_3

Setelah puas memuntahkan isi perutnya. Puri berjalan dengan membungkukkan tubuhnya.


Melihat Puri yang terlihat kesakitan, Rasya membuka pintu mobil untuk Puri.


Setelah Puri duduk, dia pun berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil nya.


Puri bersandar pada sandaran jok mobil dengan tangan yang gemetar. Keringat dingin mengucur deras di kening  Puri, membuat wajahnya yang pucat itu terlihat basah.


Sambil menyetir sekali rasa menoleh ke arah Puri.


"Kamu kenapa Pur?" tanya Rasya.


"Nggak apa-apa, tadi aku makan bakso kuahnya pedas. Mungkin maagku kambuh," sahut Puri.


"Oh," guman Rasya.


Ada sedikit rasa khawatir di hati Rasya. Raysa sedikit parno dia khawatir jika Puri hamil akibat perbuatannya.


Meski pandangan Rasya  ke arah depan. Namun pikirannya melayang ke entah ke mana.


Beberapa kali Rasya mengerem mendadak karena hampir saja dia menabrak pengemudi lainnya.


Puri memicingkan matanya melihat gelagat aneh dari Rasya.


"Kenapa sih Kak, Kakak nggak suka ya disuruh jemput aku. Kok dari tadi berapa kali kakak hampir menabrak orang," ucap Puri dengan ketus.


Entah kenapa, sejak mereka resmi bercerai, Puri jadi tidak menyukai Rasya. 


"Nggak apa-apa. Aku cuma khawatir saja sama kamu, takut kamu kenapa-napa nanti aku yang di salah kan mommy dan Daddy."


"Sok perhatian," sahut Puri dengan ketus. Puri langsung memalingkan wajahnya.


Setelah pembicaraan itu, keadaan kembali hening.


Meski merasakan mual, Puri berusaha menahan perasaan hendak muntah itu dengan mendengarkan lagu-lagu sholawat.


Lima belas menit kemudian mereka pun tiba di rumah.


Puri segera keluar dari mobil, ketika mobil Rasya berhenti tepat di depan rumah mereka.


"Makasih Kak," ucapan singkat sebelum menutup pintu mobil.


Rasya langsung memutar mobilnya.


Baru saja keluar dari pagar rumahnya. Handphone Rasya berbunyi.


Siapa lagi yang menelponnya setiap saat, kalau bukan Sherly yang begitu takut jika Rasya kembali ke Puri


"Halo sayang, kamu di mana?* tanya Sherly bernada manja.


"Aku lagi di jalan menuju kantor."


"Kalau gitu kamu jemput aku dong, katanya kamu sudah beli apartemen untuk tempat tinggal kita nanti setelah menikah.


"Iya, tapi aku belum sempat karena masih banyak urusan."


"Sayang kamu kok gitu sih, emangnya ada yang lebih penting dari aku."


"Bukan begitu," sahut Rasya bingung. Sebenarnya dia tak terlalu sibuk, hanya saja Rasya lebih ingin sendiri.


"Oh iya Sayang, Mami sama papi aku, sering tanya tentang kamu tuh, katanya kenapa kamu nggak pernah datang ke rumah lagi."


"Kamu bilang aku sibuk nggak, sama kedua orang tua kamu?"


"Iya aku bilang kamu sibuk, terus mereka tanya, kamu jadi nggak bawa orang tua kamu kemari malam minggu ini?" Tanya Sherly.


"Ya Jadi dong Sayang, kalau nggak ada halangan."

__ADS_1


"Halangan? Jangan bilang kamu balikan sama Puri ya. Jangan mentang-mentang kalian tinggal serumah, kalian selingkuh di belakang aku."


"Astaga, Kamu ngomong apa sih Yang. Aku sudah jarang pulang ke rumah, sekarang aku tinggal di apartemen."


"Ya biasanya kan begitu, Siapa tahu Puri nggak ikhlas Kamu cerai in."


"Sudah lah Yang. Nggak usah berpikir macam-macam, sudah aku tutup teleponnya dulu," pungkas Rasya.


***


Sesampainya di rumah Puri langsung mengganti pakaian dan langsung beristirahat.


Karena Bu Mita tidak ada di rumah. Jadi tidak ada yang memperhatikan Puri. Tak ada yang tahu jika Puri saat itu tengah sakit.


Bahkan setelah makan malam, Puri kembali muntah-muntah. Apapun yang dimakan olehnya, akan keluar lagi.


Tubuh Putri yang lemah itu bersandar pada sandaran tempat tidur.


Puri memeriksa handphonenya, ada banyak panggilan yang tak terjawab dari Bu Mita, Keenan dan juga Lisa.


Rata-rata chat mereka menanyakan tentang kabar Puri yang tak mengangkat telepon sejak siang hari.


Puri membalas pesan Bu Mita  agar bu mita tidak khawatir. Setelah itu dia kembali tidur.


***


Keesokan harinya Puri kembali muntah-muntah di pagi hari.


Meski tubuhnya terasa lemas, Puri memaksakan diri untuk tetap berangkat sekolah.


Karena setiap kali makan, Puri selalu muntah, Puri jadi melewatkan sarapannya dia juga sudah minum obat lambung rekomendasi dokter.


Dengan diantar supir pribadi, Puri pergi sekolah.


Kedatangan Puri sudah ditunggu oleh Keenan di depan pintu gerbang sekolah.


"Kamu masih sakit Pur?" tanya Keenan.


"Iya, perut aku masih gak enak."


"Gak, ke dokter?"


"Gak, mommy gak ada di rumah."


"Ya sudah aku temani ke dokter mau?"


"Aku gak berani keluar tanpa seijin mommy."


"Ya sudah periksa di UKS saja yuk."


"Nanti saja, aku gak apa-apa kok. Aku udah minum obat lambung tadi pagi."


"Oh ya sudah."


Keenan dan Puri berjalan beriringan menuju kelas,hal itu membuat beberapa orang siswi yang mengidolakan Keenan menjadi sensi, mereka memandang Puri dengan tatapan sinis.


Mereka mencibir dan membicarakan Puri, bahkan ada yang berniat mengerjai Puri.


Kring… bel berbunyi. Keenan dan Puri pun tiba di depan pintu kelas mereka.


"Aku kembali ke kelas ya Pur," ucap Keenan.


"Iya Keenan, terima kasih ya."


"Iya sama-sama Pur."


"Eh Pur, wajah kamu kok pucet gitu? Masih sakit?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Iya maag gue kambuh."


Puri Segera duduk karena gurunya sudah masuk kelas.


Di dalam kelas,Puri merasa begitu pusing. Padahal saat itu dia harus mengisi soal ujian mid semester.


"Pur, loh kalau gak kuat, ijin pulang saja," usul Lisa.


"Gak masih kuat kok."


Selain merasa pusing, Puri juga merasakan perutnya yang terasa perih.


Puri akhirnya menyelesaikan ujiannya hingga jam istirahat berbunyi.


"Lis,  kita jajan yuk, aku traktir kamu," ajak Puri.


"Ayo!"


Lisa dan Puri keluar dari kelas,  saat itu ternyata Keenan sudah menunggu di depan pintu kelas.


"Pur, kita ke kantin sama-sama yuk," ajak Keenan.


"Iya Keenan."


Ketika tiba di kantin, Puri kembali merasa mual karena mencium aroma makanan yang terasa menusuk indera penciumannya.


Seketika perutnya kembali bergejolak. Tanpa memberi tahu Keenan dan Lisa, Puri langsung berlari menuju toilet terdekat.


Keenan dan Lisa heran melihat Puri yang tiba-tiba hilang di samping mereka.


Puri berlari melewati beberapa siswi yang tidak menyukainya.


"Eh si Puri kenapa tuh? Kok mencurigakan sekali," ucap salah seorang dari mereka.


Mereka pun mengikuti Puri sampai ke toilet.


Di sana Puri langsung muntah-muntah


Uek uek.


Tiga orang siswi yang mengikutinya itu saling melempar pandangan ketika mendengar Puri muntah-muntah.


"Eh dengar tuh, si Puri muntah-muntah. Jangan-jangan bunting lagi."


"Iya loh, wajahnya saja pucat gitu."


"Gue punya ide," cetus Aura salah satu siswi  yang mengidolakan Keenan.


Dia merekam Puri yang sedang muntah-muntah di wastafel toilet tersebut.


"Lihat saja, kali ini kita kerjain si Puri habis-habisan," ucap Aura sambil tersenyum menyeringai ke dua siswi lainnya.


Mereka keluar dari toilet tersebut.


"Gimana ya, reaksi Keenan jika tahu pacarnya bunting! Haha."


"Gue pikir, gak usah kasih tahu Keenan dulu. Aku punya ide brilian nih."


"Ide apa tuh?"


Xena berbisik di telinga Aura.


"Haha bener banget loh."


"Kalau gitu kita TOS dulu dong."


Mereka bertiga tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Hey reader tersayang. maaf ya author baru sempet update. mohon maaf lahir batin juga untuk para reader yang merayakan idul Fitri.🙏


__ADS_2