
Keesokan paginya, seperti yang sudah dijanji David. Pagi ini, mobil mewahnya telah terparkir sempurna di halaman rumah Kinara.
David akan mengajak Kinara pagi ini ke rumah sakit, setelah itu mereka baru akan terus ke kantor.
"Pagi, Pak" sapa David pada Ayah Kinara yang sedang duduk d idepan rumah sambil menikmati segelas kopi. David mendudukkan pantatnya disamping Ayah Kinara.
"Pagi, Nak David. Ayo duduk didalam saja" sahut Ayah Kinara. Pria tua itu bergerak hendak berdiri dari duduknya.
"Tidak apa-apa, Pak. Duduk disini saja" ucap David sambil menyentuh pundak Ayah Kinara.
Ayah Kinara merasa tidak enak, karena tempat yang ia duduki saat ini hanyalah sebuah tempat tidur rusak yang sengaja ditaruh di depan rumah untuk sekedar bersantai.
Ayah Kinara kembali membenarkan posisi duduknya dan mulai mengobrol ringan dengan David sambil menunggu Kinara yang sedang bersiap.
.
.
Di dalam kamarnya, Kinara tampak sibuk mempersiapkan diri. Kinara sengaja memilih pakaian terbaik yang ia punya di dalam lemarinya.
__ADS_1
Dalam pikirannya, teman David sudah pasti orang terpandang. Kinara tidak ingin mempermalukan David didepan teman-temannya, sehingga ia memperhatikan penampilan sedetail mungkin.
Kinara memperhatikan lagi wajahnya di kaca untuk memastikan jangan sampai ada bedak ataupun lipstik yang masih berantakan. Setelah memastikan penampilannya rapi dan aman, Kinara pun langsung keluar kamar dan berjalan menemui David dan sang ayah yang sedang bercerita di depan.
"Ayo berangkat" ucap Kinara yang membuat kedua pria yang sedang mengobrol itu langsung mengalihkan pandangan padanya.
Sudut bibir David terangkat membentuk sebuah senyuman simpul saat melihat penampilan Kinara sedikit berbeda dari biasanya.
"Ayo" ucap David lalu bangkit berdiri.
"Ayah, Nara berangkat kerja ya" pamit Kinara sambil mencium punggung tangan sang ayah.
David pun ikut berpamitan. Namun, ia tidak mencium punggung tangan ayah Kinara.
Setelah berpamitan, keduanya berjalan bersamaan dan masuk kedalam mobil. David pun langsung melajukan mobil menuju Rumah Sakit.
.
.
__ADS_1
Sesampainya mereka di rumah sakit, David langsung mengajak Kinara menuju ruangan ICU dimana Papah Chaira dirawat.
Dari kejauhan, David dan Kinara bisa melihat Chaira sedang duduk menunggu didepan ruang rawat papanya.
Chaira yang melihat kedatangan David pun langsung berjalan menyambutnya. "Dav" ucap Chaira lalu memeluk David tanpa permisi. "Terima kasih sudah menepati janjimu untuk kembali lagi kesini" Chaira berbicara dengan nada sedih seolah ingin menunjukan bahwa dirinya sedang rapuh dan membutuhkan seorang teman.
Kinara mengerut dahi saat melihat Chaira yang tiba-tiba saja memeluk David, Kinara merasa bingung, dimana teman yang dimaksud David? Kenapa mala Chaira yang mereka temui? Dan mengapa David terlihat akrab sekali dengan wanita itu? Bahkan menyambut hangat pelukan Chaira.
"Gimana kondisi papah? udah ada perubahan?" tanya David setelah melepas pelukan mereka.
"Belum, Dav. Masih sama seperti kemarin"
David mengangguk pelan menanggapi ucapan Chaira. "Chaira kenalkan ini Kinara dan Kinara, ini Chaira teman yang aku ceritakan semalam" David saling memperkenal kedua wanita itu.
"Chaira" ucap Chaira sambil mengulurkan tangannya. Tak lupa menunjukan senyuman manisnya.
"Kinara" sahut Kinara dengan senyuman terpaksa. Bukankah mereka sudah berkenalan saat acara resepsi pernikahan Alex dan Viona?
Wajah Kinara terlihat bingung. Jadi ini teman yang dimaksud David? Bukankah mereka sudah pernah berkenalan? mengapa David memperkenalkan mereka lagi? Apa waktu itu David benar-benar tidak sadar? Lalu apa yang pria itu pikirkan saat itu? Dan mengapa wanita itu mengulurkan tangannya seolah ini pertama kali mereka bertemu? Apa mungkin Dia juga melupakan semuanya sama seperti David?
__ADS_1
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bergantian di kepala Kinara, Hatinya sedikit tergores dan kecewa mendapati semuanya tidak sesuai apa yang ia bayangkan.