
Viona terbangun dari tidurnya, gadis itu terlihat gelisah saat melihat jam dinding sudah menunjukan pukul 09:00 pagi.
"Astaga kenapa aku bisa kesiangan gini, sih." Viona menoleh kearah Alex, suaminya itu tampak masih sangat pulas.
Viona bingung harus bagaimana, mau berangkat kerja, tapi sudah kesiangan. ingin turun kebawa, tapi Viona merasa malu bertemu Veronika, bagaimana jika Veronika menyadari apa yang dirinya dan Alex lakukan semalam?
"Pagi, Sayang" ucap Alex mengagetkan Viona. Kedua tangan pria itu melingkar di perut Viona dan mulai mencium pipi, telinga bahkan sampai ke leher.
Alex menggosokan mukanya pada leher Viona dan mengendus-endus wangi tubuh istrinya.
"Ini sudah jam sembilan, ayo kita turun tidak enak sama Tante Vero" sahut Viona pasra menerima perlakuan Alex.
"Ayo" ajak Alex. Pria itu melepas pelukannya dan beranjak turun dari atas kasur.
"Mau kemana? " tanya Viona saat melihat Alex berjalan menuju kamar mandi.
"Sikat gigi, Sayang. Emang kamu mau turun kebawa dengan bau jigong gitu?"
Viona menutup mulutnya tak percaya, mengapa baru sehari saja bersama Alex, dirinya sudah melupakan beberapa hal.
Melihat Viona tak bergerak, Alex menarik tangan gadis itu dan membawanya masuk ke kamar mandi. Alex memberikan satu sikat gigi untuk Viona dan mereka berdua pun mulai menyikat gigi bersama.
Selesai menyikat gigit, keduanya membasuh muka dengan air, Alex mengambil tisu lalu membersihkan sisa air diwajah Viona.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Alex memiringkan leher dan mulai ******* bibir istrinya.
Entah mengapa Alex selalu ingin menyentuh dan menciumi Viona saat menatap gadis itu.
Setelah merasa puas, Alex melepas ciumanny dan mengajak Viona keluar, lalu mereka berdua turun kebawa.
Viona menarik napas dalam dan membuangnya pelan, sepertinya mulai sekarang ia harus membiasakan diri dan mengimbangi kelakuan suaminya.
.
__ADS_1
.
"Bi Lastri, Tante Vero dimana?" tanya Viona saat mereka sampai di lantai bawa.
"Nyonya di kamarnya, Neng Vio diminta ke kamar Nyonya kalau sudah bangun" sahut Bi Lastri menyampaikan pesan Veronika
"Mau aku temenin ke kamar mama?" tanya Alex.
"Tidak, aku bisa sendiri. kamu sarapan sana" sahut Viona.
"Baiklah, aku tunggu dimeja makan" Viona mengangguk lalu pergi menuju kamar Veronika.
Sesampainya disana, Viona langsung mengetuk pintu.
Tok, tok, tok.
"Masuk aja pintunya nggak dikunci." sahut suara dalam.
Viona pun melangkah masuk. "Pagi, Tante" sapa Viona.
Viona mendekat dan duduk sedikit jauh dari Veronika.
"Dekat sini, kenapa jauh-jauh begitu"
Viona pun bergeser dengan wajah sungkan.
"Vio minta maaf ya Tante, Vio sudah dari semalam disini, tapi baru menemui Tante sekarang" jelas Viona, gadis itu benar-benar merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa sayang, Mama mengerti. Mama panggil kamu kesini bukan untuk bahas soal itu."
Viona mengangguk legah.
"Ini untuk kamu" Veronika menyerahkan sebuah kotak kecil.
__ADS_1
"Apa ini, Tan" Viona menerima kotak tersebut.
"Coba dibuka"
Viona menurut dan membukanya, tampaklah sebuah kalung berlian dengan liontin yang sangat unik.
"Itu kalung warisan turun temurun." ucap Veronika saat melihat wajah bingung Viona. "Sebenarnya kalung itu harus diberikan pada menantu yang telah melahirkan keturunan untuk keluar Emeraldi, tapi karena mama anak tunggal, jadi nenek Alex mewarisnya pada mama" jelas Veronika. "Mama minta kamu jaga kalung ini baik-baik, Vio."
"Tapi, Tante. Viokan belum melahirkan anak untuk keluar Emeraldi, bahkan Vio belum tentun hamil" ucap Viona polos sambil menutup kotak perhiasan tersebut.
"Akan segera, sayang. Mama yakin kamu pasangan yang tepat untuk Alex, mama berharap kalian berdua bahagia selalu" Veronika menggenggam tangan Viona.
Viona tersenyum sambil mengangguk pasti.
"Oh ya, satu lagi. Mama mau kamu merubah panggilanmu pada mama"
"Iya, Mah"
Veronika tersenyum senang mendengar panggilan itu keluar dari mulut Viona, wanita paruh baya itu membuka kedua tangannya menanti pelukan dari Viona.
Viona menyambut pelukan Veronika penuh haru, Viona meneteskan air mata dalam pelukan Veronika. Viona tidak menyangka keadaan bisa berbalik seperti sekarang.
Dirinya yang dulu sangat dibenci, sekarang telah disayang, bahkan diperlakukan dengan sangat baik.
"Jangan menangis, nikmatilah hidupmu dan berbahagialah, kamu gadis yang baik. kamu berhak mendapatkan semuanya." ucap Veronika. Tangannya terulur menghapus air mata Viona.
Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Veronika, Viona pun kembali ke ruangan makan.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
Jangan sampe kelewat jemponya, guys.😘😘🥰