
Nyonya Veronika dibawa ke salah satu ruangan rawat. Aluna, gadis dua puluh lima tahun itu setia menemani sang mama.
"Mama," panggil Aluna saat melihat Nyonya Veronika sadar. Aluna mendekat ke samping ranjang mamanya. "Gimana perasaan Mama?" tanyanya.
"Mama baik, sayang. Mungkin karena mama belum sarapan jadinya lemes," sahut Nyonya Veronika. Tangannya mengelus lembut rambut Aluna.
Mama tidak tahu apa isi dalam kepala kamu, Nak. tapi Mama harap kamu tidak terlibat dalam semua ini. batin Nyonya Veronika. Ia menatap lekat wajah cantik putrinya.
"Dimana Viona?" tanya Veronika.
"Viona aku suruh jaga Kak Alex. Mama nggak usah pikirin dia, lebih baik sekarang mama makan , ya. Aluna sudah belikan sarapan untuk Mama." ucap Aluna lembut.
"Taro aja disitu, nanti mama makan. Bukannya kamu ada mata kuliah siang ini? Pulang gih biar mama yang jaga, Kak Alex." ucap Nyonya Veronika.
"Tapi Aluna khawatir sama, Mama." sahut Aluna.
"Mama nggak apa-apa, Sayang. Lagian, inikan di rumah sakit, kalau pun mama kenapa-kenapa langsung bisa ditangani sama dokter," Nyonya Veronika berusaha meyakinkan Aluna.
"Ya udah, Aluna tinggal. Tapi Mama harus janji, kalau ada apa-apa langsung telefon, Aluna."
"Iya, Mama janji," Nyonya Veronika tersenyum senang, anak gadisnya selalu posesif padanya.
"Bye, Mah. Ingat telefon Aluna ya," pamit Aluna sambil mengecup pipi mamanya.
Setelah memastikan Aluna sudah pergi jauh, Nyonya Veronika mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Cepat selesaikan semua ini, saya tidak tega melihat wajah gadis itu. Pasti dia sangat merasa bersalah karena kata-kata saya tadi," Selesai berbicara wanita paruh baya itu langsung memutuskan sambungan telepon.
.
.
.
Sementara di ruang rawat Alex, Viona masih setia berdiri didepan kaca, ia terus menatap tubuh Alex yang terbaring tak sadarkan diri. Hingga tidak ia sadari tangan Alex mulai bergerak.
Viona mengucek matanya, untuk memastikan penglihatannya, apa ia sedang berhalusinasi Alex telah sadarkan diri? Viona merasa senang setelah memastikan Alex benar-benar telah sadarkan diri.
Namun, senyuman itu hilang saat melihat Alex seperti meminta tolong dan kesusahan berbicara, Viona panik dan berlari mencari dokter.
Dalam ruangan megah itu, Viona tidak tahu harus kemana mencari dokter karena tidak ada satu dokter ataupun suster yang melewati ruangan rawat Alex. Jika ia turun kebawa untuk memanggil dokter, maka akan memakan waktu lama. Viona takut Alex kembali pingsang bila ditinggal sendirian.
Belum juga menemukan tombol tersebut, Viona mendengar Alex berucap sesuatu. Bahkan tangan pria itu telah melepas ogsigen dari mulutnya.
"A-air, air" ucap Alex dengan suara kecil.
Viona panik dan mencari air di sekitarnya, namun tidak menemukan segelas air pun disana. Untunglah Viona selalu membawa air di dalam tasnya.
Gadis itu mengeluarkan satu botol aqua tanggung dari dalam tasnya, Viona pun cepat-cepat membuka tutup aqua tersebut dan membantu Alex meminumnya.
Alex membuka matanya perlahan, samar-samar ia bisa melihat wajah cantik Viona.
__ADS_1
"Tolong panggilkan dokter." ucap Alex pelan.
Mendengar perkataan Alex, Viona baru menyadari tujuan awalnya masuk dalam ruangan itu. Viona bergegas mencari tombol nurse call dan langsung menekannya.
"Jangan pergi," ucap Alex menahan Viona yang hendak keluar.
Viona menghentikan langkahnya, dan kembali mendekat ke ranjang Alex. Viona mengangguk sambil tersenyum kaku.
"Kemarikan tanganmu," ucap Alex sambil mengulurkan tangannya.
Melihat kondisi Alex yang begitu lemah, ditambah keadaan ruangan yang begitu sepi, Viona menurut dan mengangguk pasti. Gadis itu menyambut uluran Tangan Alex.
Tangan keduanya terus bertautan hingga dokter tiba.
Pak Dokter menatap penuh tanya pada Viona, bagaimana bisa gadis itu masuk ke ruang ICU tanpa ijin.
"Lakukan saja tugas Anda, Dok" ucap Alex seperti mengetahui arti tatapan dokter tersebut.
Mendengar ucapan Alex, Dokter pun mulai melakukan tugasnya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan Lupa dukungannya, Like, comen, vote dan kasih kembang.😅😅