
Maksud hati ingin menakuti-nakuti Kinara, gadis itu mala merasa lucu melihat mereka semua tertawa bersama.
Kinara merasa mereka semua seperti robot yang memiliki tombol on off.
.
.
"Katakan dimana bos kalian? mau apa kalian menyekap ayahku?" Kali ini para penjahat itu tertawa sambil berjalan pelan mendekat pada Kinara.
"Berhenti disitu, atau akan ku patahkan leher kalian semua" teriak Kinara. Namun tidak didengar oleh orang-orang itu. Mereka semua terus maju dan memperkecil lingkaran.
Tidak ada pilihan lain, Kinara terpaksa melawan. Jika menunggu mereka mendekat, maka akan sulit baginya untuk melawan. Dalam hatinya, Kinara terus berharap agar Alex cepat sampai.
Kinara telah bertarung habis-habisan, Kinara lebih memilih menghindar untuk mengulur waktu. Semakin lama bertatahan, orang-orang dengan penampilan yang sama semakin banyak berdatangan.
__ADS_1
Kinara mulai kewalahan, wajah gadis itu terlihat cemas. Saat Kinara mulai lemah dan kehabisan tenaga, Alex tiba bersama anak buatnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Alex. Tangan pria itu baru saja menahan sebuah pukulan yang hampir mengenai wajah Kinara.
"Tidak apa-apa, Tuan. Terima kasih karena sudah tiba tepat waktu" Kinara merasa lega akhirnya bala bantuan datang.
"Dimana mereka menyekap ayahmu?"
"Saya tidak tahu pasti, Tuan. Tapi saya yakin ayah ada dalam ruangan itu."
"Ayo kita kita kesana, biarkan anak buahku yang mengurus mereka disini" ajak Alex dan Kinara mengangguk setuju, mereka berdua pun berlari cepat menuju pintu rolling door.
Setelah Kinara masuk, Alex pun ikut masuk dan menutup pintu dari dalam. Alex membiarkan anak buah bertarung di luar agar dirinya dan Kinara bisa leluasa mencari Pak Bambang dan David.
Perjalanan tidak semudah yang dipikirkan Kinara, di dalam sana terdapat banyak sekali pintu. Alex dan Kinara terlihat bingung menebak-nebak pintu mana tempat ayahnya disekap.
__ADS_1
Tidak ingin membuang-buang waktu, Alex dan Kinara membagi tugas dan mulai membuka semua pintu itu satu persatu.
Kinara dan Alex kembali berkumpul saat tidak menemukan apapun, ternyata pintu-pintu hanya pintu palsu untuk mengelabui siapapun yang masuk kesana.
"Gimana ini, Tuan?" tanya Kinara dengan ajah cepat. Jangan-jangan mereka dijebak.
Alex terdiam sambil memperhatikan sekitarnya, sampai pandangan terhenti karena mencurigai sesuatu. Alex mendekat dan mulai mengetuk-ngetuk pelan dinding tembok yang ia curigai, merasa kurang yakin, Alex menempelkan telinga disna untuk memastikan.
Sekali saja tangannya mendorong, pintu yang terbuat dari batu bata itu langsung terbuka. Alex mengok sebentar pada Kinara, keduanya saling memberi kode dan masuk bersamaan.
"Ayah" ucap Kinara sambil berlari cepat dan memeluk erat sang ayah yang masih terikat rantai. Ternyata benar ayahnya disekap di dalam sana.
"Ayah tidak apa-apa? Maaf'kan Nara karena tidak bisa menjaga, Ayah," Kinara menangkup kedua pipi ayahnya. Gadis itu memperhatikan luka-laku di wajah sang ayah dengan derai air mata.
__ADS_1
"Ayah tidak apa-apa, Nak. Ayah tahu kamu akan datang menyelamatkan ayah" Pak Bambang tersenyum bahagia pada putrinya.
Selesai menangis haru bersama sang ayah, Kinara menoleh pada David yang juga melihat ke arahnya, ingin rasanya Kinara berlari dan memeluk pria itu juga, tetapi mereka tidak punya waktu. Gadis itu menghapus air matanya dan kembali fokus pada sang ayah.