
"Tidak! ini semua rencana papah. Silakan papah tanggung sendiri."
Plaaaakkk
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi mulus Chaira.
.
.
Tamparan tersebut bukanlah dari Iskandar, bukan juga dari David ataupun Kinara, tetapi dari Misel yang tiba-tiba saja muncul disana.
Misel merasa geram melihat ulang Chaira.
"Dasar wanita licik, bahkan dengan ayahmu sendiri kau bersikap seperti itu"
Misel? David merasa bingung mengapa adiknya bisa muncul ditempat berbahaya itu.
Chaira tidak peduli dengan ucapan Misel, tidak peduli juga dengan pipinya yang memerah dan terasa sakit. Chaira berbalik dan melangkah cepat mendekati Kinara yang masih berdiri didekat lawan yang ia patahkan leher tadi.
"Kinara tolong maafkan, aku. Bagaimanapun kita ini masih saudara, kedua orang tuamu sudah mengadopsi ku sejak aku baru lahir" Chaira berbicara penuh pepohonan. Tidak peduli dengan harga dirinya, wanita itu rela melakukan apa saja asal ia bisa bebas dari tempat itu.
"Dimana kedua orang tua yang sudah mengadopsi mu itu?" tanya Kinara dingin. Tatapan gadis itu masih terlihat kosong dan emosinya pun masih belum stabil.
"Mereka di-di…." sahut Chaira terbata.
__ADS_1
"Cepat katakan?" bentak Kinara dengan suara menggelegar.
"Sudah mati" Chaira reflek dan kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Seiring terucapnya kata tersebut tangan Kinara mencengkram kuat pada leher Chaira. Gadis itu mencengkram sekuat tenaga tanpa mempedulikan Chaira yang mulai kesusahan bernapas.
Seluruh wajah Chaira memerah, lidah menjulur keluar masuk, dan kedua tangannya berusaha melepaskan cengkraman Kinara. Namun, seperti dibawah pengaruh aura jahat, Kinara tidak punya rasa iba sedikitpun.
"Nara lepaskan dia, dia bisa mati kehabisan napas." ucap Misel sambil menyetuh pundak Kinara. Bukannya menurut, Kinara justru semakin mempererat cengkramannya.
"Nara, biarkan polisi yang mengurusnya. Jangan sampai kamu mengotori tanganmu, ingat masih ada Pak Bambang yang membutuhkanmu" sambung Misel.
Mendengar nama sang ayah, Kinara mulai tersadar dan mengendorkan cengkramannya.
.
.
Masih dengan tatapan yang kosong, Kinara berjalan menghampiri Pak Bambang.
"Ayah! katakan, dibagian mana mereka memukul, Ayah?" tanya Kinara.
Pak Bambang menggeleng, pria tua menyadari tatapan itu bukanlah tatapan biasa dari putrinya.
"Nak, ayah tidak kenapa-kenapa. Semuanya sudah selesai, ayo kita pulang," ajak Pak Bambang lembut. Namun, lagi-lagi Kinara tidak menurut. Gadis itu memundurkan satu langkah kebelakang.
__ADS_1
"Apakah dibagian ini, Yah?" Kinara meninju rahang Iskandar hingga hingga pria itu hampir terjatuh.
Merasa belum puas, Kinara menghajar Iskandar membabi buta. Setiap pukulan yang ia berikan, selalu diiringi dengan pertanyaan yang sama. "Apakah dibagian ini, Yah"
Wajah Iskandar telah dipenuhi darah dan entah berapa banyak tulangnya yang retak akibat hantaman keras dari Kinara.
"Nara, sudah hentikan" ucap David. Pria itu menahan tangan Kinara yang hampir mengenai Iskandar lagi. Bukan karena David bersimpati pada mantan mertuanya, tetapi David ingin Kinara menjadi seorang pembunuh.
Lagi-lagi Kinara seperti tersadar dari emosinya yang membabi buta, gadis mengalihkan pandangannya pada David yang juga sedang menatap matanya.
Sesaat kedua saling berpandangan, penglihatan Kinara mulai buram dan gadis itu jatuh tak sadarkan diri.
"Nara" panggil David sambil menahan tubuh Kinara.
Menyadari Kinara telah pingsan, David segera mengangkat tubuh gadisnya dan membawa keluar dari ruangan gelap itu.
"Ikat mereka berdua dengan rantai," perintah Alex pada anak buahnya, lalu berjalan mengikut David dan yang lainnya keluar.
Alex sengaja meminta anak buahnya mengingkat Cahira dan Iskandar agar kedua orang itu bisa merasa apa yang dirasakan oleh David dan Pak Bambang, selain itu juga, Alex merasa hanya Kinara yang pantas memutuskan hukuman apa yang layak untuk pasangan ayah dan anak itu.
Anak buah Alex melakukan sesuai perintah Alex, merantai dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan pada David dan ayah Kinara. Setelah memastikan ikatannya aman, mereka semua keluar tanpa mempedulikan Chaira yang berteriak minta dilepas.
Sungguh malang nasib ayah dan anak itu, beberapa jam yang lalu, keduanya tertawa bahagia diatas awan dan sekarang, mereka berdua harus merasakan hal sama akibat dari perbuatan mereka sendiri.
"Lepaskan aku, aku tidak mau dikurung di tempat gelap ini" teriak Chaira berulang-ulang kali.
__ADS_1