
David membaca isi berita dengan seksama, pria itu mengangkat muka lalu menatap Alex dan Viona bergantian.
"Apa maksud dari semua ini?" tanya David dengan wajah serius.
Alex mengangkat bahu tak tahu, ia sendiri belum mendapatkan penjelasan dari sang mama ataupun Viona atas kejadian kemarin.
"Semua ini rencana, Tante Vero. Aku hanya membantu menjalankannya saja." jelas Viona.
"Jadi surat wasiat itu?" tanya Alex.
Alex dan David tampak serius menunggu sahutan dari Viona.
Viona menggeleng pelan, pertanda semua itu tidak benar.
"Jadi Tante Vero buat surat wasiat palsu untuk mengelabui Om Lucas?" tanya David.
Viona mengangguk pasti.
"Berarti saat naik keatas panggung, kamu hanya modal nekat?" Alex bertanya lagi.
Viona kembali mengangguk, namun dengan wajah sedikit sedih. Gadis itu mengingat bagaimana dirinya mengumpulkan keberanian untuk menjalankan semua aksinya.
"Berarti saat kita adu jontos di kantor kamu sudah tahu kebenarannya?" tanya David lagi.
__ADS_1
Kali ini Viona mengangguk sambil tersenyum menampakkan semua giginya. "Maaf" Viona merasa tidak enak hati.
"Kenapa tidak bilang dari awal" Alex mendekatkan wajahnya pada Viona.
"Kata Tante Vero, kalian berdua terlalu gegabah. Jika ajak kalian kerja sama, bisa-bisa semua rencananya gagal." sahut Viona polos.
"Apah? Awwwww" Alex meringis kesakitan saat tidak sengaja bergerak.
"Alex, makanya tenanglah sedikit" Viona langsung menyentuh pinggang Alex. Dan seperti biasa, Alex langsung mendramatisir.
.
.
"Kamu kenapa, Bro?" tanya David serius.
Viona pun menceritakan semua kejadiannya, saat Alex menyelamatkannya hingga tertusuk belati.
"Maafin gua, Bro" ucap David tulus, ia merasa bersalah atas apa yang menimpah Alex.
Setelah menyelesaikan semua kesalahpahaman, Alex dan Viona berpamit pulang. Alex harus kembali ke rumah sakit karena kondisinya belum sepenuhnya pulih.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa seminggu berlalu begitu saja. Alex telah keluar dari rumah sakit, bekas jahitannya pun sudah mulai mengering.
Selama seminggu ini juga, Viona menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk menemani Alex karena Nyonya Veronika melarangnya pergi bekerja.
Veronika mengatakan, Viona boleh ke kantor jika Alex sudah mulai bekerja lagi. Wanita paruh baya itu tidak ingin ada yang membully ataupun mengucapkan kata-kata yang menyakiti Viona.
Veronika juga telah mengirim Aluna keluar kota, ke sebuah desa terpencil. Veronika ingin Aluna belajar kehidupan keras disana, agar anak gadisnya itu bisa lebih menghargai hasil jerih payah orang lain
"Pergilah, Nak. mamah tidak marah atas semua tidakkanmu, mama hanya ingin kamu belajar apa arti kehidupan yang sebenarnya. Jika sudah memahami semuanya dengan benar, kembalilah, dua tangan mama terbuka lebar untuk menyambutmu" ucap Veronika. Wanita paruh baya itu iklas melepas anak gadisnya pergi.
Veronika terpaksa melakukan semua itu, Veronika tidak ingin suatu hari nanti, Aluna bertindak seperti Lucas.
Mengenai harta warisan, semua anak akan mendapat bagiannya masing-masing, namun tidak dengan cara merebut dan terobsesi ingin memiliki semuanya.
Aluna hanya diam dan menurut, gadis itu seperti kehilagan rasa, bahkan air matanya sedikit pun tidak menetes.
Aluna berpikir, mungkin ini jalan yang terbaik untuknya. Aluna berharap jika ia kembali, tidak ada jarak antar dirinya dan sang mama ataupu kakaknya, Alex.
... ....
... ....
Jangan Lupa dukungannya, jangan sampai jarinya kelewat😅😅
__ADS_1
Semangat selalu untuk yang berpuasa, jangan sampai bolong sampai akhir🥰🥰
Love U All.❤🖤