Pernikahan Yang Tak DiAnggap

Pernikahan Yang Tak DiAnggap
Eps133. Kedatangan sang adik.


__ADS_3

David melajukan mobilnya pulang ke apartemen, saat sedang dalam perjalanan, ponsel David berdering pertanda ada sebuah panggilan masuk.


David mengerutkan dahinya ketika melihat  nomer sang adik yang tertera dilayar ponselnya. Tidak biasanya sang adik menghubunginya di tanggal seperti ini, biasanya anak itu akan menelpon disaat mendekat tanggal gajian. Untuk apalagi kalau bukan untuk meminta uang jajan pada sang kakak.


"Hallo, Kakak dimana? kenapa lama sekali angkat teleponku?" omel sang adik dari balik telefon.


"Tidak bisakah kau berbicara lebih tenang sedikit?"


"Tidak bisa, Kak. El lagi di bandara, El takut hilang, disini sangat ramai"


"Di bandara mana? Mau kemana Loe?" Wajah David sedikit panik mendengar ucapan sang adik.


"Bandara tempat kakak lah, cepat jemput El, Kak. keburu diculik sama cowok ganteng" Sang adik berbicara dengan nada sedikit merengek dan manja.


"Astaga, kenapa Loe kesini nggak bilang-bilang, bocil? Tunggu Kakak disitu, jangan kemana-kemana."  David memutuskan sambungan telepon dan langsung menambah kecepatan agar cepat sampai bandara.


Setelah menerobos macet yang begitu panjang, akhir David sampai di bandara. David memarkirkan mobil lalu berjalan mencari adiknya, hingga sampai ke bagian kedatangan, David belum menemukan sosok adiknya disana.


David mengeluarkan ponsel lalu kembali menghubungi sang adik.

__ADS_1


"Hallo, El. Loe dimana? Kakak sudah sampai di bagian kedatangan, nih"


"El lagi makan, Kak. Tadi ada cowok ganteng yang ngajaki El makan, kebetulan El lagi lapar, ya udah El mau aja." sahut sang adik dalam telepon dengan nada santai.


"Makan dimana? Jangan gila Loe Misel, gua paket pulang Loe sekarang juga" David terlihat mulai tensi.


"Oe, udah tua masih aja emosian"


Mendengar suara sang adik tepat di belakangnya, David pun membalikan badan.


"Makan dimana, Loe? Mana cowok itu?" David celinga celingu mencari dibelakang adiknya.


"Kenapa nggak bilang dari tadi" David mengacak rambut sang adik gemes, saking gemesnya David ingin sekali mencekik lehernya.


"Ngapain Loe disini?"


"Astaga, Kak. Adeknya diajak pulang dulu kek baru ditanya"


"Nggak bisa, mumpung masih di bandara. Kalo sampe alasan Loe nggak masuk akal, gua kirim pulang Loe sekarang juga."

__ADS_1


"Tega bener jadi, Kakak" Misel kembali mengerucutkan bibirnya. "Aku bosen di rumah, Kak. Sama Ibu nggak boleh ini, nggak boleh itu. Ini aja aku sampe ngacam Ibu baru dibiarkan kesini" Kelu Misel.


"Anak kurang ajar, kau ancam apa ibuku?" tanya David.


"Aku ancam, kalo sampe ibu nggak ngijinin aku jalan-jalan ke tempat Kakak, aku bakal mogok kawin, aku mau jadi perawan tua" jelas Misel.


"Astaga, hati-hati loh, Dek. Ucapan itu doa, apa lagi yang Loe ancam ibu sendiri,"


"Amit-amit jabang bayi, jangan sampe, Kak. El pengen ngerasain kawin"


"Tahu apa Loe soal kawin?"


"Taulah, Kak. Elkan udah gede. Kakak tuh yang kapan kawin? Ditanyain terus tuh sama Ibu, kapan bawa mantu lagi ke rumah,"


"Nggak, kakak nggak mau kawin lagi"


"Woowww, sepertinya sihir Kak Chaira sungguh luar biasa, sampe-sampe Kakak memilih menduda seumur hidup," 


"Berisik,.Loe. Ayo pulang" David merangkul bahi adiknya dan sedikit menjepit leher sang adik di ketiaknya membuat Misel sedikit berteriak karena kesusahan berjalan.

__ADS_1


__ADS_2