
Jangan-jangan? Aaaa, rasanya David ingin sekali berteriak ketika mengingat dirinya mencium dan mengusap-usap kepala Kinara saat di kilinik tadi.
David mengusap wajah kasarnya, pria itu terlihat salah tingkah sendiri di depan Kinara yang masih tertidur lelap.
.
.
Misel dan Irwan terus berlari, keduanya melewati koridor rumah sakit sambil tertawa bahagia karena berhasil mengerjai David. Misel menghentikan larinya saat ia mulai kelelahan.
"Aduhh capek," ucap Misel sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
Sedangkan Irwan fokus memperhatikan tangannya yang masih bergenggaman erat dengan tangan kiri Misel.
"Maaf, Kak" ucap Misel sambil menarik cepat tanganya.
"Tidak masalah" Irwan tersenyum manis. "Makasih ya sudah menolongku dari amukan kakakmu,"
Misel mengangguk malu-malu menanggapi perkataan Irwan, entah kenapa jantung gadis itu tiba-tiba saja berdetak kencang saat melihat senyum Irwan.
"Misel pulang ya, Kak" pamit Misel.
"Hati-hati ya, aku ingin mengantarmu pulang tapi ada pasien yang harus aku tangani"
Mendengar Irwan yang ingin mengantarnya pulang, rasa suka Misel meningkat dua kali lipat. Gadis itu seperti terhipnotis tidak ingin melepas pandangannya pada Irwan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak. Misel bisa pake taxi online, bye Kak Irwan" ucap Misel. Gadis itu berjalan dengan badan menyamping dan sambil melambaikan tangan pada Irwan.
Tanpa ia sadari, jalan akan yang ia lewati ada tangga tiga susun.
Irwan berusaha memberitahukan padanya dan menunjuk-nunjuk tangga tersebut, tetapi Misel tidak menyadarinya, gadis itu berpikir Irwan sedang membalas lambaian tangannya.
Sampai akhirnya Misel terjungkal kelanti dengan posisi tetap melihat ke arah Irwan, meski kakinya terasa sakit, Misel tetap tersenyum dan melambaikan tangannya pada pria yang telah menggetarkan hatinya.
Irwan merasa lucu melihat tingkah Misel, pria itu ingin sekali membantu Misel, tetapi ada seorang suster memanggilnya dan mengatakan pasien telah menunggnya.
Setelah kepergian Irwan, Misel berdiri dengan wajah kesakitan. Gadis itu berjalan pincang mencari tempat untuk menunggu taxi online.
"Apes bener, pengen terlihat cantik mala jungkir balik" ucap Misel dengan wajah cemberut.
Rencananya, Misel akan kembali ke rumah sakit untuk membawakan baju ganti pada kakaknya. Sekaligus membawakan makanan dan jus buah untuk Kinara.
"Astaga kenapa Kak Irwan manisnya nggak ketulungan gitu, sih," gumam Misel. Gadis itu tersenyum sendiri-sendiri membayangkan wajah tampan Irwan
Sepanjang jalan hingga tiba ke rumahnya, Misel terus tersenyum sampai-sampai sopir taxi berpikir gadis itu sedang dalam gangguan jiwa.
.
.
David telah membersihkan wajahnya di kamar mandi, meski masih ada luka memar, paling tidak mukanya terlihat bersih dan lebih segar. Masalah bau badan, David hanya bisa menunggu orang rumahnya mengantarkan baju dan peralatan mandi.
__ADS_1
David duduk disamping ranjang Kinara, pria itu memperhatikan wajah cantik kekasihnya yang masih terlelap.
"Kamu hebat, sayang. Kamu adalah gadis yang sangat luar biasa, cepat sembuh ya, aku akan mengajakmu jalan-jalan dan menuruti semua kemauanmu," David mengambil tangan Kinara dan mengecupnya berkali-kali.
"Mulai hari ini, tidak akan ada lagi kesedihan dan air mata. Aku janji akan selalu membahagiakanmu" David kembali mengecup lama punggung tangan Kinara.
Merasa tidurnya terganggu, Kinara terbangun dan mulai membuka matanya.
"Sayang" panggil David. Pria itu langsung berdiri. "Kamu butuh sesuatu?" tanya David.
Kinara mengangguk pelan dan berusaha bangun sendiri.
"Biar aku bantu, Sayang" ucap David lalu membatu Kinara duduk. Andai Kinara bisa berbicara dengan jelas, mungkin gadis itu akan bilang. 'Yang sakit rahangku, Om. bukan badanku.'
Kinara memberi isyarat bahwa diri ingin minum, dengan sikap David langsung mengambilkan segelas air putih yang telah dipersiapkan dengan sebuah sedotan.
"Apa yang kamu rasakan, sayang? Apa ada bagian tubuhmu yang masih sakit?"
Kinara menggeleng pelan menandakan semua baik-baik saja.
"Kalo sakit bilang ya, biar langsung ditangani sama dokter" Kinara mengangguk patuh.
"Pulang nanti, kita ke rumahku ya. Jangan membentak apalagi menolak. Setidaknya sampai kamu sembuh total baru boleh kembali ke rumahmu" ucap David dengan nada serius. Dalam hatinya, pria itu mengatakan, tidak akan membiarkan Kinara pergi lagi dari rumahnya. Bila perlu David akan langsung menikahi Kinara setelah gadis gadis itu sembuh.
Kinara tidak menolak, tetapi Kinara juga tidak mengiyakan permintaan David. Hati Kinara terasa berat jika harus meninggalkan sang ayah di rumah sendirian. Kinara akan bicara lagi dengan David, setelah diizinkan pulang nanti.
__ADS_1