
"Ya ada memanggil Istri saya?" tanya Alfans dengan sorot mata bingung dan wajah biasa saja.
Begitupun dengan Delima, dia terlihat biasa saja dan seolah tidak mengenal Randi. Bahkan Delima sibuk dengan makanan di tangannya.
"I istri?" lirih Randi dengan terkejut.
"Ya Tuan, apa ada keperluan pada Istri saya?" tanya Alfans kembali.
"Tolong jangan bercanda Tuan pengacara, dia ini Delima mantan Istri saya dan tak mungkin bisa menikah dengan anda. Bahkan berita tentang anda menikah pun tidak ada" ketus Randi dengan wajah mengejek nya.
Alfans hanya mengangkat bahu nya acuh, kemudian dia mengambil minuman untuk sang Istri.
"Mas, aku sudah kenyang" ucap Delima lembut.
"Yasudah sayang, kalau begitu bagaimana kalau kita pulang saja?" ajak Alfans yang memang tak nyaman karena ada Randi.
Delima menganggukan kepala nya, dia lalu bangkit dengan bantuan Alfans dan satu tangannya menyangga bawah perut yang buncit.
"Ka kamu hamil, Delima?" tanya Randi seakan tak percaya.
"Iya Tuan, maaf saya dan suami saya duluan" jawab Delima santai.
Kemudian Delima menggandeng tangan Al, dia melangkah secara perlahan bersama dengan sang Suami.
__ADS_1
Saat tiba di luar, terdengar derap langkah yang tergesa dari arah belakang sana.
"Delima tunggu" teriak Randi dengan nafas terengah.
"Kamu tak bisa pergi dari ku Delima, kamu ini hanya mencintai ku" teriak nya lagi tanpa malu.
"Memang nya siapa anda? Saya hanya mencintai Suami saya dan bukan anda" balas Delima penuh ketegasan.
Deg.
"Apa kamu melupakan ku?" tanya Randi menghentikan langkah nya.
"Apa memang kita pernah kenal? Saya rasa kita tidak pernah kenal, Tuan" jawab Delima santai.
"Kau jangan sombong Delima, kita ini pernah menikah bahkan kita juga pernah bertukar saliva dan peluh di atas ranjan*" teriak Randi dengan lantang, dia menahan emosi nya karena Delima terlihat melupakan diri nya.
Delima melepaskan genggaman tangannya dari Al, dia lalu melangkah ke hadapan Randi dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Benarkah? Kenapa aku lupa ya, aku hanya ingat saat peluh dan saliva dirimu bertukar dengan wanita mura*an itu di kantor, ah bahkan desa*an itu juga sangat terdengar di telinga ku dan Raka" ucap Delima dingin.
"Apa sekarang kamu ingat siapa aku, Tuan Randi? Aku ini wanita malang yang di selingkuhi Suami dan sahabat nya" tegas nya lagi dengan dingin.
Deg.
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata tersebut, Delima melangkah kembali pada Al dan mengajak nya untuk pulang meninggalkan Randi dengan segala keterkejutannya.
Mobil Al melaju dengan kecepatan sedang, tersisa Randi yang masih syok dengan ucapan wanita yang dulu nya dia kenal sangat lembut.
"Tuan, kita harus ke Rumah sakit" ajak Ferdi dengan panik.
Hah.
Randi menoleh ke arah Ferdi dengan wajah bingung nya.
"Nyonya Vini kecelakaan semalam dan sekarang kritis, barusan Ibu nya menelpon saya katanya dia sudah menelpon anda sejak pagi tadi tapi tidak di angkat" jelas Ferdi.
Randi lalu merogoh ponsel nya dan benar saja, banyak panggilan tak terjawab dari Ibu mertua nya dan ada juga panggilan tak di kenal sejak semalam.
"Ayo kita langsung saja ke Rumah sakit" ajak Randi.
Ferdi mengangguk, kedua nya lalu masuk ke dalam mobil dan pergi menuju ke arah Rumah sakit yang di beritahu oleh Ibu Vini.
.
.
.
__ADS_1
.
.