
Setiba nya di Taman, Ayah menyimpan gerobak nya dengan benar di tempat yang memang khusus penjual.
Siska dan Queen membantu menyusun kursi di pinggir gerobak, tak lupa juga mereka berteriak untuk memanggil para pembeli.
Di karenakan cuaca panas, jadi tak lama kemudian datanglah beberapa pembeli. Queen membantu Ayah Siska memotong buah-buahan dan Siska sendiri menyiapkan tempat untuk rujak nya.
Mereka bertiga bahu membahu menyiapkan pesanan yang di pesan oleh pembeli, bahkan Queen tidak terlihat gengsi sama sekali.
Hingga Sore dagangan mereka habis, Queen dan Siska duduk lesehan di sana dengan sesekali menyeka keringat.
"Beruntung cuaca panas gini ya, jadi laku semua" ucap Siska dengan tersenyum.
"Iya Sis, kalau hujan mah yang ada mereka mencari pedagang bakso" balas Queen terkekeh.
"Ayo pulang, Nak" ajak Ayah.
"Oke" balas Queen dan Siska.
Mereka berjalan beriringan, terlihat canda dan tawa yang selalu menghiasi wajah ketiga nya. Queen benar-benar tidak merasa gengsi ataupun risih, bahkan dia seperti orang sederhana saja.
**
Sedangkan di Perusahaan, Raka baru saja keluar dari ruang meeting. Dia meeting bersama dengan beberapa dewan direksi kepercayaan mendiang sang Opa.
Alea sendiri di tugaskan untuk mengerjakan berkas keuangan yang bermasalah beberapa bulan terakhir ini.
Ceklek.
Raka masuk dan terlihat Alea yang sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Ayo pulang" ajak Raka.
"Baik Pak" balas Alea.
__ADS_1
Kemudian mereka melangkah bersama, tak lupa Alea mengunci ruangan Raka dan membawa kunci nya.
"Loh Bu kenapa ruangan nya di kunci? Padahal belum saya bersihkan" ucap OB yang sudah berada disana.
"Sudah saya bersihkan tadi, jadi anda tidak perlu membersihkan nya kembali" balas Alea ramah.
Raka tersenyum tipis, lalu dia melangkah pergi dari sana bersama dengan Alea.
Kedua nya masuk ke dalam lift khusus, sedangkan OB tadi masih berdiam diri di depan ruangan Raka.
"Nanti di Rumah aku jelaskan" ucap Alea saat melihat tatapan Raka.
Raka mengangguk, dia kemudian memasang wajah dingin kembali karena lift akan segera sampai.
Ting.
Lift sampai langsung di basemen khusus petinggi, Raka dan Alea masuk ke dalam mobil yang sudah siap.
"Hufh, kenapa banyak sekali yang berkhianat" keluh Raka dengan wajah lelah nya.
Grep.
Raka memeluk Alea dari samping, dia memejamkan mata nya untuk mengurangi rasa lelah karena seharian ini sangat banyak sekali pekerjaan.
"Pak, langsung ke mansion saja" ucap Alea.
"Loh, bagaimana dengan kamu, sayang?" tanya Raka dengan melepaskan pelukannya.
"Ada beberapa hal yang harus kita bahas dengan Papa kamu, peran beliau di butuhkan saat ini" jelas Alea.
"Baiklah" balas Raka patuh.
Kemudian sopir mengubah jalur dan langsung menuju ke mansion, bahkan motor Alea sudah di antarkan oleh salah satu anak buah Raka.
__ADS_1
Hingga tak lama kemudian mereka sampai di mansion, terlihat disana Delima dan Al sedang duduk santai dengan di temani teh hangat.
"Mama, Papa" sapa Raka begitu keduanya turun dari mobil.
"Paman, Bibi" sapa Alea sopan.
"Hei sayang, kau kemari juga" balas Delima tersenyum.
Lalu Alea menyalami calon mertua nya tersebut dan Alfans pun mengajak kedua nya duduk santai.
"Dimana Queen, Bibi?" tanya Alea.
"Panggil Mama dan Papa, Nak" ucap Alfans tegas.
Alea tersenyum kecil, dia lalu menganggukan kepala nya.
"Dia sedang ke Rumah mu, katanya Siska ngajak bertemu" balas Delima lembut.
"Bagaimana di Kantor?" tanya Alfans.
"Emm bagaimana kalau kita bicara di ruang kerja Raka" ajak Raka.
Alfans dan Delima menganggukan kepala, lalu mereka masuk dengan beriringan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.