
Hari berganti dengan cepat, sudah 2 hari Vini masih terbaring lemah belum sadarkan diri di Rumah sakit. Semua pekerjaan Randi ia bawa ke Rumah sakit dan rumah makan usaha Istri nya di urus sang mertua.
Pagi ini, Randi keluar dari kamar mandi dengan segar dan lebih fresh. Dia lalu mendekati ranjang Vini dan sontak saja langkah nya terhenti kala melihat Vini sudah membuka mata nya.
"Sayang, kau sudah sadar" ucap Randi dengan penuh kebahagian.
"Aku kenapa, Mas?" tanya Vini meringis pusing.
Randi hanya tersenyum, dia kemudian menekan tombol darurat dan tak berselang lama munculah Dokter.
Dokter memeriksa Vini, dan keadaannya cukup baik serta tidak terjadi apapun yang cukup serius. Hanya saja beberapa tulang retak di beberapa bagian tubuh nya.
"Semua nya sudah stabil, Tuan. Saya permisi dulu" ucap Dokter dengan ramah.
"Terimakasih, Dok" balas Randi.
Dokter mengangguk, lalu dia dan beberapa perawat pergi keluar dari ruangan.
*
Setelah kepergian Dokter, Randi mendekati Vini dan langsung menggenggam tangan Vini dengan erat.
"Maafkan aku, sayang. Karena sikapku yang egois dan ambisius membuatmu menjadi begini" ucap Randi penuh penyesalan.
Vini terdiam, dia ingat betul sebelum nya dia bertengkar hebat bersama Randi.
"Mas, harus nya kita berjuang mencari Mbak Delima dan meminta maaf padanya dengan tulus" ucap Vini lirih.
__ADS_1
"Ya, maaf Mas sangat egois dan melakukan sendiri tanpa mementingkan perasaan mu yang sudah aku sakiti" balas Randi menundukan kepala nya.
Vini menghela nafas kasar, dia lalu membalas genggaman tangan Randi.
"Mari kita perbaiki dan berjuang bersama-sama untuk mendapatkan maaf dari Mbak Delima" ucap Vini pelan namun penuh keyakinan.
Sontak saja Randi langsung mengangkat kepala nya, terlihat mata nya yang sudah berkaca-kaca.
"Terimakasih sudah sudi masih bersama, aku berjanji akan memperjuangkan kembali rumah tangga kita yang sudah berantakan ini" ucap Randi penuh kebahagia.
"Aku sudah menemukan Delima, dan Ferdi pun sudah menemukan dimana tempat tinggal nya. Setelah besok kamu sembuh kita berangkat langsung kesana" ucap Randi kembali.
"Iya Mas, kita mulai hidup dari 0 dan atas maaf tulus dari Mbak Delima dan Raka" balas Vini.
Randi langsung memeluk Vini dengan bahagia, dia bahkan melupakan Ibu mertua nya yang belum di kabari bahwa Vini sudah sadar.
"Terimakasih, sayang" ucap Randi sambil terisak di pelukan Vini.
Keduanya larut dalam kebahagian yang tercipta pagi itu, setelah cukup dengan pelukan hangat itu. Randi langsung memberi kabar pada mertua nya agar secepat nya ke Rumah sakit.
***
Sedangkan di kantor pribadi Al, saat ini dirinya sedang sibuk meneliti masalah yang akan dia hadapi bersama dengan tim nya.
Salah seorang anak pejabat negara disana meminta bantuannya untuk memenangkan hak asuh anak dari mantan suami nya. Namun Al belum mengerti akar permalasahannya dengan pasti dan dia juga takut mengambil langkah.
"Pandi" panggil Alfans pada tangan kanan nya.
__ADS_1
"Ada apa Tuan?" tanya Pandi sopan.
"Sebelum menyetujui ini , coba kamu selidiki saja dulu agar kita tidak gegabah dan salah dalam langkah" ucap Alfans memberikan data seorang Pria yang di berikan klien nya.
"Baik Tuan, kalau begitu saya pergi dulu" pamit Pandi.
Alfans mengangguk tanda jawaban untuk Pandi.
Setelah kepergian Pandi, Alfans menyandarkan tubuh nya pada sandaran kursi yang sedang dia duduki.
"Aku tak boleh gegabah, entah kenapa perasaanku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu. Dan sejak meneliti masalah ini perasaanku jadi tak tenang" gumam Alfans mendesah kecil.
Al lalu merogoh ponsel pintar nya, dia kemudian menekan nomor ponsel sang Istri untuk sekedar bertanya kabar walaupun baru saja dia tiba di kantor.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.