
Isak tangis masih terdengar saat jenazah Randi sudah di masukan ke liang lahat. Terlihat Vini di rangkul oleh Ibu nya yang sejak tadi berada di samping nya.
Ayah Deni, Ferdi, Raka dan Alfans menatap tahan yang perlahan menimbun tubuh Randi. Alfans tak lepas dari Raka, dia terus menguatkan Putra sambung nya dan memeluknya dengan erat.
Seperti saat ini, Raka hanya bisa terisak di pelukan Alfans. Dia memang kecewa pada sang Papa, namun tak bisa di pungkiri bahwa hati nya sangat menyayangi Randi.
"Pergilah dengan tenang, Pa" batin Raka.
Hingga prosesi semua nya pun berjalan lancar dan tanpa ada hambatan apapun, satu persatu pelayat melenggang pulang dari area pemakaman.
Tersisa hanya ada keluarga saja disana, perlahan namun pasti Vini mendekati makam sang Suami.
"Semoga kamu tenang disana, Mas. Aku ikhlas, tunggu aku disana" gumam Vini.
Vini menahan air mata dan tangisannya, dia tidak ingin memperberat jalan bagi sang Suami.
Setelah selesai mengaji dan mendoakan Randi, semua nya pun berlalu dari sana. Begitupun dengan Raka, dia akan ikut bersama Alfans kembali ke Rumah sakit.
**
2 bulan berlalu, kini Putri Delima sudah semakin menggemaskan.
__ADS_1
Alfans memberi nama Queen Isma, mereka memanggil nya Queen.
Raka yang sudah mulai masuk sekolah, Alfans fokus kembali ke pekerjaannya setelah masalah Sri selesai dan menghempaskannya pergi.
Hari demi hari Delima lalui dengan banyaknya kebahagian, entah itu dari sang Suami, Anak dan mantan mertua nya.
Mereka hidup dengan baik, begitupun dengan Opa Deni. Dia kembali terpuruk setelah Randi meninggal, namun berkat dorongan orang-orang sekitar nya dia kembali bangkit.
Begitupun dengan Vini, dia sampai saat ini masih mengurung diri dengan penuh kesendirian. Hanya ada bayang-bayang Randi yang selalu menemani nya.
Tak jarang Vini juga mengigau bahwa Randi masih ada bersama nya, namun dia juga selalu merasakan sakit saat kenyataannya sang Suami sudah tiada.
***
"Kamu adalah pelita Mama, Nak. Kamu juga pelipur segala kegelisahan untuk Papa, Abang dan Opa, semoga kamu menjadi wanita yang kuat, tangguh dan sukses, Nak" gumam Delima mengusap lembut pipi Queen.
"Amin" balas Alfans yang sudah berada di belakang Delima sejak tadi.
Eh.
"Mas, ngagetin aja" ucap Delima dengan tersenyum kecil.
__ADS_1
Alfans terkekeh, dia lalu memeluk tubuh Delima dengan hangat.
"Semua nya sudah berlalu, kini hanya ada kebahagian yang akan menghampiri kita dan keluarga kita" bisik Alfans lembut.
"Kamu benar, Mas. Semuanya sudah berlalu dan kini hanya tinggal kebahagian yang akan menyilimuti kita" balas Delima.
Al hanya mengangguk, keduanya terdiam dengan sorot mata yang penuh bahagia.
Ayah Deni tersenyum melihat Delima bahagia, dia bersyukur karena di hari tua nya masih ada yang mau menemani nya.
Dia juga bersyukur bahwa Delima masih mau bersamanya, selepas apa yang telah di perbuat oleh Putra nya.
"Semoga kalian tetap bahagia, tetap rukun dan selalu bersama sehingga hanya mautlah yang memisahkan kalian" gumam Ayah Deni.
Dia lalu masuk ke dalam kamar nya, dia tersenyum melihat poto sang Istri yang terpajang di dalam kamar nya.
"Apa kamu sudah berkumpul bersama dengan Putra kita, sayang?" gumam nya dengan tersenyum.
.
.
__ADS_1
.
T A M A T