
"Ck, apaan si lo" elak Dinar dengan segera membuka laptop kerja nya.
Wulan langsung berlalu dengan wajah yang penuh ejekan, dia tau kalau Dinar tidak sehebat itu dalam mengerjakan berkas.
Dinar?
Dia ketar-ketir sendiri, saat ini dia hanya bisa menatap angka dan huruf yang ada dalam berkas tersebut.
Hah.
Dinar membuang nafas kasar, dia menatap jam yang sudah semakin tipis untuk mengerjakan berkas itu.
Hingga pada akhir nya, Dinar mengerjakan nya sendiri dengan asal dan bahkan tak tau teori nya.
Jadi selama ini, dia hanya memakan gajih but saja dari perusahaan tanpa ada nya bekerja.
Dinar, dia pion sang Ayah untuk mematai jalannya perusahaan tersebut dan lambat laun akan sang Ayah hancurkan.
Karena apa?
Karena dia benci, benci sang Kakak yang telah di penjarakan oleh Alfans dan Raka.
*
1 jam berlalu dan Dinar baru saja menyelesaikan berkas tersebut, dia lalu meregangkan tubuh nya.
"Mana berkas nya?" tanya Wulan dengan mengadahkan tangan pada Dinar.
"Nih" jawab Dinar dengan bangga.
Wulan terkekeh, kemudian dia berlalu dari sana dengan senyuman yang begitu penuh arti.
Setelah kepergian Wulan, Dinar bernafas dnegan lega dan menyenderkan tubuh nya ke sofa.
__ADS_1
Beberapa kali dia menghela nafas dengan kasar, entah kenapa perasaan nya jadi berubah tak menentu.
Berkas yang Dinar kerjakan adalah yang pertama dia kerjakan sendiri, bahkan dia tak tahu apa saja isi nya.
"Semoga saja tidak ada komplen" gumam Dinar dengan penuh ketakutan.
Huh.
Lagi dan lagi dia membuang nafas dengan kentara, Dinar bahkan tidak tinggal diam dan dia terus saja gelisah.
**
Sedangkan Wulan, dia sudah sampai di ruangan Jerri dan memberikan berkas dari Dinar.
"Seperti nya dugaan Bu Alea dan aku sama, dia mengerjakan pekerjaan dengan di bantu Ayah nya" celetuk Wulan.
Jerri menganggukan kepala nya, dia sudah tau akan hal tersebut dan melihat bagaimana pengerjaan berkas tersebut dari Dinar.
'Hancur begini'
Bagaimana tidak? Pengerjaannya yang tidak tepat dan juga cukup berantakan kesana kemari.
Huh.
Jerri membuang nafas kasar dan memberikan berkas tersebut ke Wulan.
Dengan penuh semangat Wulan membuka dan membaca nya.
Fpppttt.
Hahaha.
Tawa Wulan langsung saja membahana, dia cukup geli melihat berkas hasil Dinar.
__ADS_1
"Dia benar-benar wayang yang di gerakin apapun oleh sang dalang kayak nya" celetuk Wulan setelah puas menertawakan hasil Dinar.
"Dan, kita harus segera membasmi nya" timpal Jerri.
Wulan mengangguk setuju, lalu keduanya pun pergi ke ruangan dimana Alea dan Raka berada.
*
Mereka merencanakan sesuatu agar Ayah Dinar mau keluar, karena percuma saja kalau mereka hanya memberi pelajaran untuk Dinar saja.
Bincangan mereka di akhir dengan acara makan malam di Restoran terdekat.
Alea yang selalu cekatan, dan sekarang di beri Sekertaris Wulan dan keduanya sangat klop dalam memecahkan masalah.
Ide dan cetusan keduanya terbilang gampang tapi sangat elegant dalam bekerja.
Raka bahkan selalu puas akan ide sang Istri, bukan hanya dalam bekerja saja tetapi saat di Rumah pun Alea selalu mempunyai ide agar tidak bosan.
"Ini enak juga" celetuk Wulan mencicipi makanan di Restoran terbaru yang ada di wilayah sana.
'Hmmm'
Dehem Alea dengan anggukan setuju, ini pasakan yang cukup nikmat dan menggugah selera.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.