
Di mansion Delima terlihat sangat sepi, karena hampir sebagian orang sedang berkumpul di halaman belakang milik nya.
Langkah kaki Delima dan Alfans memasuki area tersebut, namun ketika tepat melewati pintu tersebut langkah Delima berhenti.
"Mas, ini" ucap nya dengan penuh haru dan air mata bahagia.
"Ya ini semua untuk mu" balas nya.
"Happy Brithday, Mama nya anak-anak" ucap Alfans dengan memberikan bouket bunga yang sangat indah.
"SELAMAT ULANG TAHUN" teriak semua orang, disana ada Raka, Opa Deni, dan para pelayan serta penjaga yang ikut serta membawakan bunga mawar putih serta kado di tangan lainnya.
"Ya Allah" lirih Delima dengan bahagia.
Al lalu menuntun Delima agar mendekati semua orang, setelah nya dia di suruh duduk di kursi yang sudah di siapkan.
"Sekali lagi, selamat ulangtahun Istriku sayang" ucap Alfans sambil memasangkan kalung di leher sang Istri.
Delima hanya mampu diam, dia tidak bisa berkata-kata karena sangat bahagia dan haru.
"Terimakasih, Hubby" ucap Delima tersenyum.
Lalu Raka dan Opa Deni pun memberikan bunga dan kado untuk wanita tersayang nya.
"Buka sekarang saja, Ma" ucap Raka.
"Baiklah, tolong bukakan untuk Mama" balas Delima lembut.
Dengan senang hati Raka membuka kado tersebut, disana terlihat sepasang gelang kaki untuk orang dewasa dan anak kecil.
"Raka langsung pakaikan ya" ucap Raka.
Delima mengangguk, dia lalu memberikan sebelah kaki nya pada Raka.
"Ini simpan untuk Adik yang sebentar lagi akan launching" ucap Raka kembali.
__ADS_1
"Terimakasih, Abang" balas Delima penuh haru.
"Sekarang kado dari, Ayah" ucap Opa Deni.
Opa Deni membuka nya, terlihat disana sepasang gelang yang sangat indah nan berkilauan.
"Ayah pakaikan ya, dan ini juga untuk princess kita nanti" jelas Opa Deni.
"Terimakasih, Opa" balas Delima tersenyum.
Setelah itu, para pelayan dan penjaga pun memberikan bunga dan kado untuk majikannya.
Delima menerima nya dengan senyuman dan kebahagian terpancar di wajah nya.
"Untuk semua nya, Terimakasih banyak. Semoga Allah menggantikan nya dengan yang lebih" ucap Delima penuh haru dan bahagia.
"Sama-sama Nyonya" balas nya serempak.
"Ayo sekarang kita bakar-bakar" ajak Alfans yang sejak tadi hanya diam dan tersenyum bahagia melihat Istri nya bahagia.
"Mas, mau bakar jagung" rengek Delima.
Delima hanya mengulum senyum , dia lalu menyuruh sebagian dari mereka menyimpan kado tersebut ke kamar yang ada di bawah.
Alfans membakar beberapa jagung, sosis dan bakso. Sedangkan untuk ikan dan yang lainnya ada Raka serta pelayan yang lainnya.
Delima dan Opa hanya duduk diam karena di larang keras oleh Raka dan Alfans.
"Ayah, tadi aku bertemu dengan Randi" ucap Delima.
Deg.
Ada perasaan rindu akan Putra semata wayang nya, namun Opa Deni masih merasa kecewa atas apa yang di lakukan oleh Randi dulu.
"Bagaimana kabar nya, Nak?" tanya Opa Deni lirih.
__ADS_1
"Baik Ayah, jika memang Ayah rindu mending bertemu saja" saran Delima.
"Semua nya sudah berlalu Ayah, aku juga sudah melupakannya dan bahagia bersama dengan Mas Alfans. Begitupun dengan Randi, dia juga mungkin sudah bahagia bersama dengan Vini" jelas Delima.
"Entah kenapa Ayah belum bisa menemui nya, terlalu sakit dan kecewa pada dia" ucap Opa Deni.
Delima mengusap lembut tangan renta Ayah mertua nya, dia lalu tersenyum.
"Yasudah itu terserah Ayah saja, yang terpenting Ayah sehat dan bahagia" balas Delima.
Opa Deni mengangguk, dia lalu membalas senyuman dari mantan menantu yang sekarang dia anggap Putri nya sendiri.
***
-Rumah sakit X, Jakarta.
Vini masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien, meski kabar nya sudah membaik namun tak lekas membuat nya sadar.
Randi masih disana bersama dengan Ibu mertua nya, entah apa yang dia rasakan sekarang. Rasa khawatir dan penyesalan hinggap di hati nya, bahkan dia tidak mau pergi selangkah pun dari ruangan tersebut.
"Makanlah dulu, Nak" ucap Ibu Vini.
"Nanti saja, Bu. Lebih baik Ibu duluan saja yang makan" balas Randi.
Ibu mengangguk, dia kemudian meninggalkan Randi di ruangan Vini. Ibu pergi ke kantin Rumah sakit, dia memberikan ruang untuk Randi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.